16 September 2019, 15:25 WIB

Pesta untuk Pecinta Sketsa


Abdillah Marzuqi | Weekend

MI/ Abdillah Marzuqi
 MI/ Abdillah Marzuqi
Sketsa berjudul Seputaran Kebayoran karya KaNa. Sketsa ini dibuat dengan tina cina di atas media kardus.

BISA dibilang pameran yang berlangsung 12 September - 12 Oktober 2019 ini adalah pesta pembuat dan pecinta sketsa. Pameran Festival Sketsa Indonesia dengan tajuk Sketsaforia Urban yang di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, itu menampilkan karya dari 122 pembuat sketsa (sketchers). Mereka membuat 616 karya yang dapat dinikmati publik secara gratis.

Dalam pembukaan yang berlangsung Kamis (12/9), terlihat sketsa-sketa itu hadir lewat beragam media, tidak melulu kertas. Salah satunya sketsa diatas kardus bekas karya KaNa.

Ia membuat sketsa berjudul Seputaran Kebayoran dengan tinta cina diatas kardus. Metode penyajiannya pun dibuat seperti seperti seni instalasi, dengan menumpuk beberapa kardus sketsa sekaligus hingga membentuk julangan tinggi. "Kardus juga bisa menjadi karya menarik. Kardus tidak menjadi sebuah onggokan," ujarnya.

Berbeda dari KaNa, Wahyu Suherman membuat sketsa diatas tiga baju seragam sekolah. Presentasi pamerannya dilengkapi dengan bangku dan kursi yang lazim didapati pada kelas.

Karya berjudul Anakku itu merupakan sketsa sekolah di Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok. "Itu sekolahku. Ini menceritakan tentang kegelisahan pendidikan seni rupa yang menurut saya kurang," terang Wahyu.

Selain itu masih ada beberapa karya yang memakai media cukup unik seperti keramik, genteng, hingga kanvas. Ada pula metode sketsa yang cukup unik yang dilakukan dengan hanya satu tarikan garis tanpa putus.

Andi Yudha Asfandiyar menggunakan metode itu dalam karya berjudul Ngobrol Menunggu Penumpang. Karya berdimensi 42x29,7cm itu bercerita tentang tukang becak yang sedang menunggu penumpang sembari ngobrol.
"Saya melihat tukang becak lalu saya sketsa dalam 15 menit, satu garis tanpa putus," terang Andi.

Andi menangkap realita itu di Bandung pada Agustus 2019. Ia tertarik merespon realita itu sebab transportasi moda becak saat ini sudah tidak lagi menjadi yang utama. Kemajuan teknologi internet telah membuat semuanya menjadi berbasis daring. "Saya membayangkan yang diobrolkan berapa Lama dia tunggu karena sudah dikuasai online," lanjut Andi.

Baginya, sketsa tidak hanya sekedar menangkap realitas, benda, ataupun kenyataan dalam spontan. Baginya, sketsa juga harus berlandaskan gagasan. Ada cerita yang hendak disampaikan. "Ada gagasan, ada cerita. Menangkap cerita penting bagi saya," tegasnya.

Sementara itu Iqbal Amirdha, dalam karyanya yang berjudul Catatan Visual Seorang Pelaju Kereta Listrik, menangkap segala sesuatu yang ada dihadapannya dengan sketsa. Buku kecil dan pensil selalu menemaninya. Semacam buku harian. Hanya bukan berupa tulisan, melainkan sketsa.

Bertempat tinggal di Bogor, ia menjadi akrab dengan kereta listrik. Moda itu adalah pilihan logis untuk sampai ke Jakarta. Sembari menunggu kereta, ataupun ketika berada didalam kereta, ia membuat sketsa. "Untuk membunuh waktu, saya membuat sketsa," terang Iqbal.

Festival Sketsa Indonesia dikuratori oleh Bambang Bujono, Beng Rahadian, dan Teguh Margono. Dalam catatan kuratorial, mereka mengurai pengertian sketsa. Bahwa sketsa urban merupakan hasil kegiatan bersama, ramai-ramai, di suatu tempat, menyeket apa saja yang dilihat dan disukai. Lalu, mereka mengunggahnya ke media sosial. Kegiatan ini pun menular secara global.

Pameran itu sekaligus untuk merangkum berbagai fenomena dan geliat yang muncul dalam dunia sketsa Indonesia. Oleh karena itu, kebebasan para sketcher menjadi semangat yang muncul dalam setiap karya. Pembuat sketsa bisa mengeksplorasi media apapun dan alat apapun untuk dituangi sketsa.

"Ini penting untuk disampaikan ke publik bahwa sketsa boleh dilakukan dimana saja kapan saja dengan media apa saja yang didepan mata," tegas Beng.

Pada pameran ini, sketsa sudah berkembang sedemikian jauh. Sketsa tidak terbatas pada objek yang secara nyata bisa ditangkap panca indera. Bahkan objek imajinasi pun boleh dibuat sketsa. Tidak lagi sketsa yang hanya menyajikan garis cepat dengan warna hitam ataupun bermedia kertas. Sebaliknya, muncul warna-warni yang lazim dijumpai pada karya lukis dan gambar. Selama unsur spontanitas terpenuhi, suatu karya boleh disebut sketsa.

"Kalau masih ada unsur spontan di depan objek itu dianggapnya sketsa. Akhirnya memang kita tidak perlu berdebat apa ini skesta atau gambar? (tapi) Karya ini bagus atau tidak?" tegas Bambang Bujono. (M-1)

BERITA TERKAIT