14 September 2019, 08:45 WIB

Sepak Bola Indonesia Butuh Guru


Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo | Sepak Bola

SENO
 SENO
Dewan Redaksi Media Group Suryopratomo

“BAGAIMANA nanti melawan Thailand, Mas?” begitu pertanyaan rekan-rekan Desk Olahraga Metro TV menjelang pertandingan Indonesia melawan Thailand di Gelora Bung Karno, Selasa (10/9) malam. “Kalah,” jawab saya cepat. “Lha, kok kalah? Kok, tidak nasionalis begitu?” gurau mereka.

Sepak bola memang berkaitan dengan nasionalisme di satu sisi, tetapi juga realisme di sisi lain. Sepak bola Indonesia terutama di tingkat senior sudah ketinggalan zaman. Kita sudah tertinggal 10 langkah dari sepak bola dunia.

Sayangnya, kita sering tidak mau menerima kenyataan itu. Selalu yang dijadikan ukuran ialah tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola. Ada 260 juta rakyat Indonesia yang sangat menggemari sepak bola, masak menjadi 11 pemain saja tidak bisa?

Kita lupa bahwa sepak bola sekarang tidak lagi hanya mengandalkan bakat alam. Sains dan teknologi sudah masuk ke pembinaan pemain. Pembentukan otot dan fisik pemain dilakukan dengan metodologi yang ilmiah. Sepatu yang dipakai sekarang disesuaikan dengan bentuk telapak kaki dari setiap pemain sehingga lebih nyaman dan memberikan manfaat baik saat pemain sedang berlari maupun menendang.

Kalau kita melihat ruang ganti klub-klub sepak bola dunia, langsung bisa dirasakan bagaimana kondisi fisik dijaga dengan benar. Kamar mandi dilengkapi dengan kolam air panas dan air dingin. Ruang pijat tidak hanya ada masseur, tetapi juga ahli osteopathic yang paham benar soal anatomi tubuh pemain.

Silakan bandingkan dengan fasilitas yang kita miliki. Ruang ganti pemain terbaik yang kita miliki ialah ruang ganti yang ada di Stadion Utama Senayan. Namun, jika dibandingkan dengan fasilitas yang dimiliki klub seperti Arsenal atau AC Milan, masih kalah jauh.

Kesalahan elementer

Dengan tidak memperhatikan hal-hal yang paling dasar bagi pembinaan pemain, jangan berharap kita lalu bisa mempunyai sebuah tim yang kuat. Pelatih asal Skotlandia, Simon McMenemy, menyebut dua kekalahan beruntun di kandang sendiri dari Malaysia dan Thailand disebabkan oleh kesalahan elementer yang dilakukan anak-anak asuhnya.

Persoalan pertama ialah soal stamina para pemain. Kesebelasan nasional kita tidak mampu untuk bermain dengan tempo tinggi selama 90 menit pertandingan. Pada babak kedua stamina mereka sudah jauh menurun sehingga keunggul­an 2-1 dari Malaysia berubah menjadi kekalahan 2-3 di akhir pertandingan.

Hal yang sama terjadi saat menghadapi Thailand. Pada 45 menit pertama, Hansamu Yama dan kawan-kawan masih mampu mengimbangi permainan Thailand. Namun, di babak kedua stamina pemain Indonesia menurun drastis sehingga membuat kesalahan tidak perlu, termasuk yang dilakukan kiper Andritany Ardhiyasa sehingga diganjar penalti dan ‘Tim Garuda’ dipaksa menyerah 0-3.

Masalah kedua ialah teknik dasar dari para pemain. Sejak 1990-an kita tidak menempa secara benar teknik bola dari para pemain. Akibatnya, kesalahan-kesalahan ele­menter sering terjadi. Dalam era sepak bola sekarang, kesalahan sedikit saja dilakukan pemain hukumannya ialah kekalahan.

Lihat saja kekalahan 1-2 Manchester United dari Crystal Pa­lace di Old Trafford. Kesalahan center-back MU Victor Lindelof dalam duel bola atas dengan gelandang sayap Jeffrey Schlupp saat menghalau bola buangan kiper Palace, Vicente Guaita, membuat penyerang Jordan Ayew bisa bebas dan langsung berhadapan dengan kiper David de Gea.

Faktor ketiga ialah soal di­siplin dan dedikasi pemain terhadap profesi sepak bola yang dipilihnya. Cristiano Ronaldo bisa tetap bugar pada usia 34 tahun, karena kedisplinannya dalam berlatih. Bahkan ketika pemain lain sudah beristirahat, ia masih mau bersimbah peluh meningkatkan kemampuan fisik dan akurasi dalam melakukan tendangan ke gawang.

Back to basic

Oleh karena tidak ada jalan pintas dalam membina sepak bola, kita harus bersabar untuk mendapatkan tim juara. Dengan dua kekalahan di rumah sendiri, mustahil sudah ‘Tim Garuda’ untuk bisa maju ke babak selanjutnya di penyisihan Piala Dunia 2022. Sebuah utopia kalau kita ingin tampil pada putaran final di Qatar. Apalagi, selain Malaysia dan Thailand, ada dua tim yang sama beratnya untuk dihadapi yakni Uni Emirat Arab dan Vietnam.

Tidak usah malu kalau kita menetapkan visi juara 2045, saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan. Sekarang kita memperbaiki terlebih dulu dasar bermain sepak bola sejak usia dini dan membangun suasana pembinaan serta kompetisi yang sehat di Indonesia. Kita mempunyai modal dari tim U-16, U-19, dan U-22 yang bisa menjadi juara di level Asia Tenggara.

Kita perlu belajar dari para pengurus Persatuan Atletik Seluruh Indonesia. Mereka tidak lagi mau bertumpu kepada nama-nama besar dan kesuksesan sesaat, tetapi banting se­tir membina atlet-atlet remaja.

Sedikitnya 100 atlet berusia 14 sampai 20 tahun dibina di Jakarta. Ketua Umum PB PASI Mohamad ‘Bob’ Hasan mendatangkan pelatih terbaik dunia, Harry Marra, untuk meng­ajarkan teknik dasar berlari kepada para atlet muda.

PASI juga menyiapkan 18 ­tenaga ahli untuk mendam-pingi para atlet, mulai dari psikolog, ahli gizi, fisioterapi, sports medicine, podiatrist, hingga osteopath. Dua ahli yang terakhir yakni Robert Ashton dan Niall Wafer secara reguler datang untuk memperbaiki struktur tubuh dan otot atlet, serta juga menyiapkan sepatu yang tepat untuk para atlet.

Memang hasilnya tidak sekali jadi. Dibutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk bisa melahirkan pelari seperti Lalu Mohammad Zohri. Atletik Indonesia sekarang menjadi perhatian Asia dan dunia karena bisa melahirkan Zohri yang bisa menjadi juara dunia junior dan meraih perunggu Kejuaraan Asia. Tim estafet 4x100 m putra pun mampu lari di bawah 40 detik dan merebut perak Asian Games 2018.
Sepak bola Indonesia juga membutuhkan seorang guru yang bisa mengajari dasar sepak bola yang benar. Kita pernah disegani di kawasan

Asia karena pernah ditangani pelatih seperti Tony Pogacnik dan Wiel Coever. Keduanya membangun tim tidak hanya dari pemain yang ikut kompetisi, tetapi dari hasil blusukan sendiri ke daerah-daerah.

Ketika para pemain terpilih masuk pemusatan latihan nasional, teknik dasar mulai dari cara mengoper, menahan bola, menendang, dan bahkan mengambil posisi berdiri pun diajari secara khusus. Sebab, di mana posisi berdiri ketika mendukung rekan yang sedang membawa bola, posisi ketika meminta bola, gerakan untuk mengecoh lawan, cara untuk menghadang gerakan pemain lawan baik ketika mereka bergerak dengan bola maupun tanpa bola, membutuhkan keterampilan tersendiri.

Belum lagi membangun kebersamaan dalam sebuah tim. Menjadikan 11 pemain menjadi satu jiwa merupakan pekerjaan yang paling berat. Tanpa ada saling pengertian yang terbangun baik, tim ibarat sebuah orkes yang iramanya tidak harmonis.

Sekarang kita melihat antusiasme yang tinggi dalam membina pemain muda. Bank BNI melalui program Vamos Indonesia mengirimkan 19 pemain untuk berlatih di Spanyol. Setiap bulan biaya untuk satu pemain sekitar 2.000 euro.

Program ini baik untuk memberikan dasar sepak bola yang benar. Hanya saja harus kita sadari, tidak mungkin kemudian akan dilahirkan 19 pemain yang benar-benar hebat. Bisa lahir satu pemain saja yang bisa menjadi andalan tim nasional sudah merupakan keberhasilan.

Pola pembinaan seperti ini sudah dilakukan sejak era kepemimpinan Kardono. Kita sudah pernah mengirimkan tim anak-anak muda berbakat untuk berlatih di Brasil, Uruguay, Italia, dan Swedia. Namun tidak pernah kemudian dihasilkan sebuah kesebelasan yang benar-benar membawa Indonesia berprestasi tinggi.

Karena itu, pembinaan sepak bola dasar harus lebih masif dilakukan di Indonesia. Kita harus membangun suasana kompetisi yang sehat di Indonesia. Kita harus menyediakan lingkungan yang baik bagi berkembangnya sepak bola di Indonesia.

Kalau sepak bola masih marak dengan holiganisme, masih kuat unsur suapnya, masih besar ambisi juara tanpa memedulikan proses pembinaannya, sepak bola Indonesia tidak akan pernah ke mana mana. Tanpa ada kemauan yang kuat untuk berubah diri, pelatih guru sekelas Arsene Wenger pun akan frustasi menangani ‘Tim Garuda’.

BERITA TERKAIT