14 September 2019, 00:00 WIB

Saatnya Benahi SDM Hadapi Era Revolusi Industri 4.0


Puji Santoso | Ekonomi

ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar
 ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar
Melatih keterampilan tenaga kerja di bidang kelistrikan.

Revolusi industri 4.0 benar-benar telah meng­hadirkan berba­­gai perangkat teknologi ba­­ru telah mengubah aktivitas yang cepat di berbagai bidang kehidupan secara luas. Ini seperti bermimpi. Padahal, ini sebuah realitas di pelupuk ma­ta. Salah satu contoh yang merasakan manfaat kecepat­an itu ialah bidang bisnis ke­uangan dan pelabuhan, ter­­utama dalam mengelola sumber daya yang ada.

PT Bank Mandiri dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I ialah dua BUMN yang dinilai berhasil dalam mengembangkan sumber daya manusia. SDM menjadi satu kata kunci penting dalam mewujudkan misi dan visi perusahaan da­lam menghadapi era disrupsi.

Menurut Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, Muhammad Ha­­mied Wijaya, salah satu keberhasilan Pelindo I ialah melakukan transformasi SDM berbasis digital di Pelindo I. Kebijakan itu dianggap menjadi kunci sukses meningkatkan pegawai dan korporasi perusahaan operator pelabuh­an tersebut.

“Pembenahan SDM kami ini menjadi hal yang paling krusial karena akan berpengaruh kepada pendapatan perusa­ha­an,” kata Hamied kepada Media Indonesia di Kantor Pu­sat Pelindo I di Belawan, Medan, Sumatra Utara, awal pekan lalu.

Sementara itu, secara terpi­sah, Direktur Kepatuhan dan Human Capital PT Bank Mandiri, Agus Dwi Handaya, mengatakan bahwa artificial intelligence (kecerdasan buat­an) dan robotik mengubah pengelolaan pelanggan penyediakan pelayanan yang lebih disesuaikan dan lebih personal.

Menurut Agus, artificial intelligence mulai digunakan perbankan secara luas bank-bank top global, seperti JP Morgan, Weles Fargo, Bank of America, dan City Bank. Bank-bank itu sudah mulai memelopori artificial intelligence.

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0 saat ini, kata Agus, pihaknya tanpa henti membuat inovasi dalam bidang human capital. Perusahaan selalu membuat pelatihan untuk para karyawan Bank Mandiri.

“Bagi kami, pembelajar­an tangguh para SDM Bank Mandiri akan banyak menca­pai prestasi agar Bank Mandiri sejajar dengan perusaha­an-perusahaan global tadi. Kita akan banyak menghadapi tantangan dan perubahan,” kata Agus kepa­da Media Indo­nesia secara terpisah seusai menghadiri acara di Kampus USU Medan, Sumatra Utara, akhir pekan lalu.

Studi masa depan ialah kemampuan untuk menciptakan dan mempertahankan berbagai pandangan ke depan berkualitas tinggi dan untuk menerapkan wawasan yang muncul dengan cara yang bermanfaat. Menurut Agus, Teach Future menjadi salah satu subjek pendidikan yang dibutuhkan untuk membekali sumber daya manusia kita mengantisipasi dan memenga­ruhi masa depan.

Teach future ialah kemam­puan dinamis organisasi atau perusahaan untuk memperbarui dan menciptakan kembali kemampuan strategisnya dan keunggulan kompetitif untuk memenuhi kebutuhan lingkungan yang berubah.

“Kunci membangun SDM itu ialah dengan kekuatan akademis kampus dengan basis riset dan inovasi dapat menjadi partner yang tepat bagi pemerintah dan dunia usaha dalam rangka membangun perekenomian, terutama di daerah,” jelas Agus.

Untuk mewujudkannya ten­tu diperlukan perencana­an program yang memang menjadi kekuatan kampus dan merupakan kebutuhan pemerintah atau masyarakat.

“Project management setiap program juga perlu dikelola secara profesional agar kre­di­bilitasnya dipercaya semua pihak,” jelasnya.

Transformasi SDM berbasis digital

Tidak hanya pengembangan SDM di bidang industri keuangan, sebagaimana dijelaskan Agus Dwi Handaya. Pemerintahan Presiden Jokowi juga benar-benar serius dan fokus membangun maritim Indonesia.

Sebagai negeri bahari, Presiden Jokowi ingin pembangunan diarahkan kepada sektor maritim. Alasannya ialah karena perairan Indonesia lebih luas jika dibandingkan dengan wilayah da­ratannya.

Jadi, amat wajar jika pemba­ngunan sektor maritim mendapat perhatian pemerintah. Namun, keberpihakan para pemangku kepentingan di sektor kelautan masih belum maksimal. Pemerintah ingin menjadikan laut sebagai masa depan Indonesia. Maka, tumpuan akhir ialah aktivitas perusahaan atau lembaga terkait kelautan menjadi sorotan.

“Pelindo I yang merasa di­­sorot oleh Bapak Presiden Jokowi sehingga untuk men­ja­wab itu, kami selaku penge­lola bidang kepelabuh­an yang kami benahi ialah transformasi di bidang SDM terlebih dahulu. Transformasi SDM itu tidak biasa dilakukan perusahaan lain. Kami memanfaatkan kemajuan teknologi untuk merancang sistem pe­ngelolaan SDM berbasis digital,” kata Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, Muhammad Hamied Wijaya.

Dia bercerita, sekitar tahun 2014 silam, PT Pelindo I mengalami turbulensi manajemen. Sumber daya manusia yang semestinya menjadi kunci utama penggerak bisnis justru tidak berjalan optimal sehingga terjadi berbagai situasi yang merugikan perusahaan.  

Turbulensi manajemen yang dimaksud Hamied antara lain tidak solidnya manajemen perusahaan, pekerja yang cenderung tidak termotivasi, maraknya politik kotor di kantor dalam berkompetisi untuk meraih jabatan tertentu. Akibat situasi itu Pelindo I banyak kehilangan pendapatan. Praktik-praktik kotor itu telah membuat pendapatan peru­sahaan menurun karena terjadi kebocoran. “Sekitar Rp300 miliar per tahun hilang akibat kebocoran tersebut,” ungkapnya.

Sebagai direktur yang membawahi bidang SDM, Hamied bertekad bahwa SDM di Pelindo I harus dibenahi secara ma­sif guna melakukan transformasi bisnis. Pembenahan itu dilakukan melalui sistem manajemen kinerja elektronik (MKE). Sistem MKE ialah sistem penilaian kinerja pegawai berbasis digital.

“Jadi, seluruh perencanaan kerja, target tiap unit kerja, bimbingan, pelatihan, dan eva­luasi kinerja pegawai ma­suk ke aplikasi dan dilakukan rutin setiap bulan. Setiap kar­yawan wajib memasukkan rencana kerja dalam kurun waktu sebulan secara mandiri pada 1-5 tiap bulannya sesuai dengan KPI yang ditetapkan perusahaan,” kata Hamied.

Hamied meyakini bahwa sistem MKE telah memberikan kontribusi positif pada kinerja keuangan di PT Pelindo I. Dampaknya, perusahaan operator pelabuhan ini berhasil membukukan pendapat­an Rp1,95 triliun hingga kuartal III 2017, atau naik 12% dari periode yang sama tahun la­lu. Pun laba operasi menca­pai Rp787 miliar atau naik 12%. Padahal, tahun 2014 pendapat­an perusahaan ini hanya Rp527 miliar.

“Sistem ini memaksa pegawai untuk disiplin memberikan kinerjanya semaksimal mungkin karena jika target tidak terpenuhi, tunjangan kinerja mereka terpotong. Ternyata kinerja kita naik te­rus,” tuturnya.

Setidaknya, harapan Presi­den Jokowi untuk membangun kemaritiman Indonesia dapat mulai diwujudkan da­ri penerapan pola pengembangan SDM di era revolusi in­dustri 4.0 oleh Pelindo I ini. (Puji Santoso)

BERITA TERKAIT