13 September 2019, 13:33 WIB

Sawit Tingkatkan Elektrifikasi di Kalimantan Barat


Syahrul Karim | Nusantara

MI/Aries Munandar
 MI/Aries Munandar
Lokasi pembibitan di salah satu perusahaan kelapa sawit di Kabu paten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar). 

KELAPA Sawit diyakini bisa meningkatkan elektrifikasi di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Hal ini mengingat di Kalbar merupakan penghasil sawit yang bisa dijadikan biofuel sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun biomassa.

“Biomassa dihasilkan dari tangkos, cangkang, pelepah, dan batang sawit. Kami sudah melakukan penelitian dan berhasil,” kata Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah ketika menjadi pembicara di Seminar ‘Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi’ di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (11/9).

Hardiansyah mengatakan, pembangkit listrik biomassa ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan elektrifikasi, terutama di desa-desa sekitar kebun sawit. Manfaat listrik desa dari biomassa sawit ini bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan kebun sawit maupun hutan dan wilayah pedalaman.  

"Manfaat lainnya mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (fosil) untuk pembangkit listrik. “Selain itu juga mereduksi potensi emisi gas rumah kaca dari sektor pembangkit listrik,” kata Hardainsyah.

Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalbar menyebutkan dari 2.130 desa/kelurahan, terdiri dari desa berlistrik dari PLN sebanyak 1.451 (68%), desa berlistrik non-PLN sebanyak 225 (11%) dan sisanya 454 desa (21%) belum teraliri listrik.

Diketahui, total luas kebun sawit di Kalbar sebanyak 1.455.182 hektare (ha) atau berada di urutan ketiga secara nasional di bawah Provinsi Riau seluas 2.430.508 hektare dan Sumatra Utara (Sumut) 1.445.725 hektare.

Kalbar memiliki 70 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan total produksi minyak sawit mentah (crude palm oil) atau CPO tiap tahunnya sekitar 3,396 juta ton.

“Kalbar memberikan kontribusi sekitar 10% dari total produksi CPO nasional,” kata Hardiansyah.

Menurut Hardiansyah, dari total produksi CPO tersebut potensi biomassa di Kalbar sangat melimpah namun belum digarap secara optimal karena belum adanya hilirisasi produk turunan. Padahal dari limbah pabrik tersebut bisa dihasilkan energi biomassa maupun biofuel.

Dia menghitung dari total kebun sawit di Pulau Kalimantan sebanyak 3.471.843 ha bisa menghasilkan biomassa sekitar 396 MW dan biogas sekitar 198 MW. Karena itu, Hardiansyah optimistis jika semua itu bisa dioptimalkan, maka tidak akan ada lagi desa di Kalbar yang tidak teraliri listrik.

Sementara itu Gubernur Kalbar Sutarmidji mendukung sawit sebagai energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, terutama listrik dan sarana peningkatan keahlian tenaga kerja di Kalbar. Karena itu, dia menantang pengusaha perkebunan kelapa sawit untuk membangun gedung lembaga sertifikasi tenaga kerja.

“Saya minta asosiasi sawit bangun itu gedung untuk sertifikasi tenaga kerja. Bisa gunakan dana corporate social responsibility (CSR) untuk bangun gedung tersebut,” katanya.

Diketahui, ribuan kepala keluarga (KK) di Kalbar menggantungkan hidupnya dari sawit. Terbukti, tidak ada lagi illegal logging karena terdiversifikasi oleh eksistensi sawit. Begitupun kawasan di pedalaman yang tumbuh karena sawit. Bahkan perkebunan sawit menutupi lahan-lahan kritis seluas lebih kurang 5 juta ha, akibat konsesi hak pengelolaan hutan (HPH) yang tidak pernah dilakukan reboisasi.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi), Tungkot Sipayung juga meyakini sawit bisa menjadi penyelamat ketersediaan energi di Tanah Air seiring dengan semakin menurunnya produksi minyak dan gas bumi.

“Bahan baku tersedia, teknologi telah kita kuasai baik di hulu maupun di hilir. Saya yakin sawit bisa menjadikan Indonesia mandiri energi,” ujar Tungkot.

Belum lama ini, kata Tungkot, telah dilakukan riset dan uji coba pengembangan katalis berbahan baku CPO. Riset yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan PT Pertamina (Persero) tersebut hasilnya CPO bisa diubah menjadi green diesel, green gasoline dan green avtur.
“Bahkan green avtur yang dihasilkan bisa tahan tidak beku di suhu di bawah -120 derajat celcius. Jadi sangat aman untuk bahan bakar pesawat terbang,” katanya.

Diketahui, green diesel merupakan minyak diesel yang berasal dari hidrogenasi minyak nabati yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan biodiesel dan ramah lingkungan. Selama ini beberapa korporasi di Indonesia telah memproduksi minyak nabati berbahan baku CPO menjadi biodisel (biofuel) atau fatty acid methyl ester (FAME) pengganti solar.

Pertamina melalui Refinery Unit III Plaju, Sumatera Selatan (Sumsel) sejak awal Desember 2018 lalu telah mengolah CPO menjadi green gasoline dan elpiji dengan teknologi co-processing. Hasil implementasi co-processing tersebut telah menghasilkan green gasoline octane 90 sebanyak 405 MB per bulan atau setara 64.500 kilo liter (kl) per bulan dan produksi green elpiji sebanyak 11.000 ton per bulan.

Upaya ini sangat mendukung pemerintah dalam mengurangi penggunaan devisa, di mana Pertamina bisa menghemat impor crude sebesar 7.360 barel per hari atau dalam setahun mampu menghemat hingga USD160 juta sekitar Rp2,32 triliun.

Menurut Tungkot, CPO merupakan bahan baku biodiesel paling kompetitif jika dibandingkan dengan minyak nabati lain, misalnya minyak kedelai (soybean), minyak rapeseed, minyak bunga matahari (sunflower). Hal ini disebabkan tanaman kelapa sawit lebih produktif jika dibandingkan dengan kedelai, rapeseed maupun tanaman bunga matahari.

Tungkot menjelaskan sawit bisa dijadikan berbagai macam produk energi. Di mana dalam pengembangannya terbagi menjadi tiga generasi. Generasi pertama yakni CPO atau minyak inti sawit mentah (crude palm kernel oil/CPKO) bisa dibuat menjadi biodiesel, green diesel, green gasoline, green avtur, biogas dan biolistrik.

Sementara itu generasi kedua, biomassa kelapa sawit bisa diubah menjadi bioetanol dan biolistrik. “Dan pengembangan generasi ketiga yakni limbah pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) bisa menghasilkan biodiesel, biogas, biodiesel alga, dan biolistrik. (OL-09)

BERITA TERKAIT