13 September 2019, 09:06 WIB

Kembangkan Wisata Optimalkan Dana Desa


Liliek Dharmawan | Nusantara

MI/LILIEK DHARMAWAN
 MI/LILIEK DHARMAWAN
Obyek wisata di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah 

PEMERINTAH desa terus berupaya memaksimalkan manfaat dana desa dengan berbagai cara. Mengembangkan wisata menggunakan dana desa juga memiliki banyak manfaat karena selain menjadi sumber penghasilan desa, juga mengurangi pengangguran dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Pengembangan wisata dengan mengunakan dana yang dikucurkan pemerintah pusat sejak 2015 antara lain dilakukan Desa Melung di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pemerintah desa setempat selama dua tahun, yakni 2017-2018, mengalokasikan sebagian dana desa mereka untuk membangun wisata desa bernama Pagubukan di tengah sawah.

Pembangunan Pagubukan harus dilakukan dua tahun karena dana desa juga harus dialokasikan untuk membangun infrastruktur, termasuk saluran irigasi.

“Karena ada pembangian (alokasi) dan skala prioritas, pembangunan wisata desa Pagubukan dilaksanakan secara bertahap sebab kami masih membutuhkan dana besar untuk membangun infrastruktur dan saluran irigasi. Jadi, untuk wisata Pagubukan baru rampung dalam dua tahun anggaran. Sekarang pengelolaan lokasi wisata itu telah di-serahkan kepada badan usaha milik desa (BUM-Des),” kata Kepala Desa Melung, Khaerudin, kemarin.

Dengan membangun wisata Pagubukan, lanjutnya, desa akan memperoleh pendapatan asli desa. Selain itu, berefek domino secara ekonomi kepada masyarakat.

“Ada pendapatan desa, dan masyarakat bisa bekerja di kawasan wisata meski jumlahnya masih terbatas. Selain itu, warga bisa berjualan di sekitarnya. Inilah efek domino yang ditimbulkan,” ujarnya.

Setelah digelontor dana desa, selanjutnya wisata Pagubukan akan dicarikan pendanaan lain, terutama untuk menambah fasilitas dan infrastruktur di lokasi wisata tersebut. Dengan demikian, jumlah wisatawan yang berkunjung untuk menikmati sejuknya udara di lereng Gunung Slamet tersebut akan semakin banyak.

Kepala Urusan Keuangan Desa Melung, Margino, menambahkan bahwa Pagubukan akan dibangun dalam empat tahap. Di lokasi tersebut terdapat kolam renang, deretan gazebo, dan arena bermain anak. Pembangunan seluruhnya memerlukan dana Rp600 juta.

Baca juga: Dusun Sirap, Naik Kelas dengan Desa Wisata

Setiap pengunjung yang datang ke Pagubukan saat ini dikenai tarif Rp7.000 per orang. Dengan tarif tiket itu, mereka sudah bisa menikmati kolam renang dan berjalan-jalan di sekitar sawah dan taman.

Jumlah ­pengunjung Pagubukan rata-rata 5.000 ­orang per bulan. Penghasilan mencapai Rp12 juta dan yang masuk ke kas desa Rp3 juta atau 30% dari pendapatan objek wisata.

Setelah selesai menggenjot sektor pariwisata, kata Margino, pihaknya akan memberdayakan masyarakat melalui potensi komoditas kopi.

Desa miskin
Sementara itu, proses audit dana desa di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tidak kelar dalam setahun ­lantaran kekurangan personel ­auditor.

Inspektur Pembantu Wilayah Satu Kabupaten Malang Evi Suryaningsih menjelaskan proses audit hanya bisa menjangkau tiga desa per hari dalam satu wilayah. Selama ini, kegiatan mengaudit 378 desa dibagi dalam empat wilayah.

Di sisi lain, Komando Daerah Militer (Kodim) 0723 Klaten bersama Pemerintah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menggelar kegiatan Karya Bakti Mandiri Klaten Bersinar di Desa Kupang, Kecamatan Karangdowo. Desa Kupang menjadi sasaran kegiatan KBM Klaten Bersinar 2019 karena desa yang berpenduduk sekitar 2.500 jiwa itu merupakan salah satu dari 88 desa miskin di Kabupaten Klaten. (BN/JS/N-1)

BERITA TERKAIT