13 September 2019, 09:20 WIB

Selamat Jalan, Habibie


Dio | Humaniora

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) melepaskan tembakan salvo sebagai penghormatan kepada jenazah Presiden ke-3 RI BJ Habibie

INDONESIA kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kalimat ini bukan sekadar basa-basi untuk mengungkapkan dukacita mendalam atas berpulangnya Bacharuddin Jusuf Habibie. Presiden ke-3 RI ini bukan sekadar pemimpin. Dia adalah peletak dasar demokrasi setelah 32 tahun bangsa ini terbelenggu dalam tirani.

Seperti kita tahu, Habibie yang wafat pada Rabu (11/9), adalah pimpinan di masa transisi dari Orde Baru ke era reformasi. Di masa kepemimpinannya (1998-1999) berbagai kebijakan prodemokrasi dia gulirkan.

Salah satunya UU tentang Penyelenggaraan Pemilu yang memungkinkan pemilu digelar lebih cepat, yakni pada 1999, juga UU tentang Otonomi Daerah yang fenomenal. Ia juga dikenang sebagai pembuka gerbang kebebasan pers di negeri ini.

Habibie yang pernah menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi di era Orde Baru, juga amat menaruh perhatian kepada pendidikan. Kepada pemerhati pendidikan Arief Rachman, Habibie berpesan agar pendikan di Indonesia maju.

"Dia ingin anak-anak di negeri ini bisa mendapatkan pendidikan tinggi untuk kemajuan bangsa," kata Arief, seusai menjenguk Habibie di RSPAD Gatot Soebroto, sehari sebelum beliau wafat.

Tingginya perhatian Habibie di bidang edukasi, salah satunya ialah dengan membentuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Lembaga inilah yang berjasa menghasilkan inovasi untuk mendorong kemajuan industri nasional. Setelah tidak lagi jadi presiden, dia juga membentuk The Habibie Center, lembaga think-thank untuk merawat demokrasi.

Habibie yang lulusan Universitas RWTH Aachen, Jerman Barat, dengan spesialisasi di bidang konstruksi penerbangan ini, juga sering memberikan beasiswa bagi putra-putri terbaik bangsa, tanpa memandang suku, agama, maupun ras-nya.

Tidak berlebihan sekiranya masyarakat merasa kehilangan sebab pria kelahiran 25 Juni 1936 ini ialah sosok teladan sekaligus inspirasi. Selamat Jalan, Habibie.(Dio)

BERITA TERKAIT