13 September 2019, 06:10 WIB

Semangat Habibie Penuh Cinta untuk Bangsa dan Negara


Jimly Asshiddiqie Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) | Opini

Dok.MI/Tiyok
 Dok.MI/Tiyok
Bj Habibie

TENTU, bangsa Indonesia berduka yang cukup mendalam atas wafatnya Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie pada Rabu (11/9). Rakyat Indonesia akan mengenang Habibie dengan segala semangatnya yang dicurahkan untuk kemajuan bangsa yang tak lekang oleh waktu. Yakin sekali, rakyat Indonesia mendoakan Habibie, semoga semua amal ibadahnya diterima Allah SWT. Aamin....

Saya merasa kepergian almarhum ialah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia sebab almarhum berjasa besar sepanjang sejarah negeri ini, khususnya di bidang teknologi. Tentu harapannya, jasa dan pengabdian almarhum Habibie bertahan sebagai inspirasi bagi generasi mendatang.

Semoga semangat Habibie terus dikenang menjadi inspirasi bagi pemuda Indonesia untuk terus berkarya bagi bangsa.

Saya cukup dekat secara pribadi dan kerja bersama Habibie sejak ICMI yang digagasnya berdiri pada 1990 hingga terus menemaninya sebagai asisten wakil presiden dan presiden. Bahkan, saya mendapat dukungan penuh saat menjabat Ketua MK dan selalu berdiskusi membahas masa depan bangsa hingga embusan napas terakhirnya.

Banyak membaca tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, Habibie kemudian menemukan kebenaran illahiah. Kebenaran Tuhan yang ditampakkan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, walaupun tidak akrab dengan tafsir-tafsir Alquran, dia berhasil menemukan Allah melalui ayat-ayat kauniyahnya.

Mempelajari ilmu pengetahun dan teknologi juga termasuk sunnatullah. Karena itu, ayatullah dan sunnatullah memiliki kandungan makna yang sama. Itu tecermin dalam diri Habibie.

Di satu sisi, Habibie juga orang yang taat kepada agama. Habibie memiliki latar belakang berbeda dengan aktivis muslim lainnya. Dia aktif dalam organisasi Islam seperti ICMI dan menjabat sebagai ketua umum pertama. Dia juga tumbuh di keluarga yang taat beragama. Hal itu yang membuat keagamaannya tetap kukuh meskipun harus pergi jauh belajar ke Eropa.

Habibie pergi ke berbagai negara dengan peradaban dan lingkungan keagamaan yang berbeda. Namun, Habibie tetap memagang teguh keislamannya. Dia tidak larut pada gaya kehidupan di Eropa.

Hal itu perlu dicontoh keluarga muslim di Indonesia. Keluarga perlu menanamkan identitas keislaman yang benar sehingga meskipun berada di lingkungan keagamaan yang berbeda, identitas kepribadian sebagai muslim tetap terjaga.

Habibie memiliki cukup perbedaan dengan tokoh lain. Hal itu karena latar belakang Habibie dengan tokoh lain yang berbeda. Namun, hal tersebut bukan suatu persoalan baginya.

Habibie selalu menelurkan ide-ide yang tak pernah terpikirkan kebanyakan orang, misalnya yang cukup tak terduga soal gagasan perpaduan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan iman dan takwa (imtak). Sebuah gagasan untuk membangun peradaban dunia ke depan.

Saat jadi presiden, Habibie tidak takut kekuasaannya akan digerogoti dengan membuka keran demokrasi dan kebebasan pers. Bermunculan banyak partai dan banyak media kala itu. Ya, Habibie dalam pandangan saya bukan hanya sebagai teknokrat, melainkan juga sosok bapak demokrasi sejati.

Habibie ialah teladan sebagai seorang presiden, juga teladan sebagai pemimpin keluarga. Kehidupan keluarganya bersama sang istri, Hasri Ainun Besari, juga menjadi teladan dan inspirasi bagi banyak orang hingga dibuatkan cerita filmnya.

Habibie kerap mengingatkan saya soal pentingnya arti cinta kasih yang tulus yang dimulai dari kehidupan keluarga dan terutama hubungan suami-istri. Cinta yang tulus membangun bangsa dimulai dari keluarga. Itu yang saya pahami dari perasaan cinta terhadap keluarga dan bangsa Indonesia.

Dalam keseharian kami, Habibie bagi saya ialah seorang bapak yang penuh cinta dan sahabat yang mencerdaskan dengan meninggalkan jejak-jejak semangat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

BERITA TERKAIT