12 September 2019, 22:30 WIB

SMART Imbau Semua Pihak Obyektif Nilai Kepemimpinan Airlangga


Thomas Harming Suwarta | Politik dan Hukum

Antara/Akbar Nugroho Gumay
 Antara/Akbar Nugroho Gumay
Airlangga Hartarto saat peluncuran SMART

SAHABAT Muda Airlangga Hartarto (SMART) meminta semua tokoh dan kader Golkar untuk obyektif menilai kepemimpinan Airlangga Hartarto selama kurang lebih 1,5 tahun menahkodai Golkar.

Perolehan suara kedua terbanyak di parlemen pada Pemilu Legislatif 2019 adalah capaian terbaik yang bisa didapatkan di tengah goncangan internal yang sangat besar saat Airlangga mulai memimpin Golkar.

Ketua Umum SMART Rudolfus jack Paskalis mengungkapkan, bahkan sebelum Pileg 2019 berlangsung, perolehan suara Golkar akan melorot karena tsunami politik usai sejumlah petingginya dicap koruptor oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

"Benar-benar dihantam badai besar. Nah Pak Airlangga menghadapi badai besar ini dan betapa luar biasa karena akhirnya bisa jadi pemenang kedua kursi DPR RI. Jadi yang menilai kepemimpinan AH gagal jelas sangat keliru dan tidak obyektif," kata Jack  dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (12/9).

Baca juga : Partai Golkar Kehilangan BJ Habibie

Jack menjelaskan, Airlangga menahkodai Golkar bukan dalam situasi normal sehingga capaian pada Pileg 2019 dalam waktu relatif singkat adalah sebuah prestasi luar biasa.

"Jadi melihatnya harus utuh. Justru kepemimpinan yang kuat itu teruji saat memimpin dalam kondisi badai besar dan kapal yang mungkin hampir karam bisa berlayar tegak sampai di tujuan. Itulah kepemimpinan Pak Airlangga. Dihantam dari banyak arah tetapi tetap bisa berdiri tegak," ungkap Jack.

Jack pun menyebut, Airlangga getol melakukan konsolidasi kepada seluruh kader Golkar di daerah usai dipastikan memegang kendali penuh partai berlambang pohon beringin itu.

"Beliau keliling seluruh Indonesia, membangkitkan lagi semangat para kader, pengurus DPD I dan II, bangun komunikasi dengan tokoh senior partai, terobosan program yang sangat diminati masyarakat, dan utamanya adalah kepemimpinan beliau yang kuat, itulah yang akhirnya membawa Golkar tetap bertahan kokoh," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT