13 September 2019, 05:00 WIB

Menristekdikti Dorong Stimulus bagi Riset Swasta


Atikah Ismah Winahyu | Humaniora

Dok.ristekdikti
 Dok.ristekdikti
MENTERI Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir 

MENTERI Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengungkapkan meskipun angka anggaran penelitian dan pengembangan secara nasional naik, namun masih cukup rendah jika dibandingkan dengan negara lain, khususnya ASEAN. Oleh karena itu, Nasir mendorong pemberian stimulus untuk menaikkan anggaran penelitian bagi sektor swasta. Hal tersebut disampaikannya dalam peluncuran Gross Expenditure on Research and Development (GERD) Tahun 2018 yang merupakan penghitungan anggaran dan belanja Penelitian dan Pengembangan (Litbang) secara nasional di Jakarta, kemarin.

"Saat ini porsi terbesar GERD masih disumbangkan dari sektor pemerintah, yaitu sebesar 82,88% atau senilai Rp34,70 triliun. Hal ini berbanding terbalik dengan negara-negara yang sudah maju seperti Korea Selatan dan Jepang. (Di sana) sektor litbang swasta menyumbang angka GERD terbesar ketimbang litbang pemerintah," ujar Nasir.

Anggaran riset Indonesia pada 2018 ialah sebesar Rp41,82 triliun atau 0,28% dari total PDB. Angka ini naik 0,03% dibandingkan pada 2016 yang hanya mencapai 0,25%.

Nasir menuturkan, saat ini Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) telah disahkan. Kehadiran UU tersebut diharapkan dapat mendorong kenaikan GERD ke depannya, sebab, dana abadi riset menjadi salah satu amanah yang tertuang dalam UU ini.

"Dana abadi riset sebenarnya menjadi salah satu solusi di dalam keterbatasan dana riset di Indonesia saat ini, guna menambah kegairah-an peneliti untuk melakukan penelitian yang hasilnya diharapkan dapat dikomersialisasikan," terangnya.

Menristekdikti juga mengatakan bahwa GERD pada dasarnya bukan hanya sekadar angka, tetapi turut menunjukkan betapa pentingnya pengembangan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) guna menambah daya ungkit yang berkontribusi bagi peningkatan perekonomian nasional.

"Akan lebih bermakna jika setiap hasil penelitian ini bukan hanya dalam bentuk dokumen saja, tetapi juga dalam bentuk hasil guna yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Inilah esensi dari adanya penelitian dan pengembangan," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Penguat Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati juga menjelaskan, GERD menjadi salah satu indikator di dalam melihat perkembangan iptek di suatu negara. Di Indonesia penghitungan ini dilakukan dengan metode survei, tagging, atau pendanaan di dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) berbasis output litbang dan data sekunder penelitian yang ada pada Kemenristekdikti.

"Kami mengambil data anggaran dan belanja Litbang itu dari berbagai sumber, baik primer maupun sekunder, sehingga menghasilkan data agregat yang menghasilkan GERD tadi," kata Dimyati.

Penghitungan GERD dilakukan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan dan Pusat Data dan Informasi Iptek Dikti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, dan Badan Pusat Statistik (BPS). (H-3)

BERITA TERKAIT