12 September 2019, 10:23 WIB

Menrisdikti : Anggaran Penelitian dan Pengembangan Indonesia Naik


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

MI/Bary Fathahilah
 MI/Bary Fathahilah
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir (tengah).

KEMENTERIAN Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar Launching Gross Expenditure on Research and Development (GERD) 2018 yang merupakan penghitungan anggaran dan belanja Penelitian dan Pengembangan (Litbang) secara nasional.

Anggaran belanja Litbang terhadap  yang meliputi empat sektor yakni Litbang Pemerintah, Litbang Perguruan Tinggi, Litbang Industri, dan Litbang Non-Government Organization (NGO) pada tahun lalu mencapai Rp14,837 triliun.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengungkapkan, anggaran riset Indonesia pada 2018 adalah sebesar Rp41,82 triliun atau 0,28% dari total PDB. Angka tersebut naik 0,03% jika dibandingkan pada 2016 yang hanya mencapai 0,25%.

Nasir mengaku, jumlah tersebut sebenarnya masih cukup rendah jika dibandingkan dengan negara lain, khususnya negara ASEAN. Oleh karena itu, diperlukan adanya stimus untuk menaikkan GERD, khususnya bagi sektor di luar Litbang Pemerintah.

"Saat ini porsi terbesar GERD masih disumbangkan dari sektor pemerintah, yaitu sebesar 82,88% atau senilai Rp34,70 triliun. Hal ini berbanding terbalik dengan negara-negara yang sudah maju seperti Korea Selatan dan Jepang. (Di sana) sektor Litbang swasta menyumbang angka GERD terbesar ketimbang Litbang pemerintah," ujar Nasir dalam pernyataan resmi, Kamis (12/9).

Nasir menuturkan, saat ini Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) telah disahkan. Dengan kehadiran UU tersebut diharapkan dapat mendorong kenaikan GERD ke depannya, sebab, dana abadi riset menjadi salah satu amanah yang tertuang dalam UU ini.

"Dana abadi riset sebenarnya menjadi salah satu solusi di dalam keterbatasan Dana riset di Indonesia saat ini, Guna menambah kegairahan peneliti untuk melakukan penelitian yang hasilnya diharapkan dapat dikomersialisasikan," terangnya.

Menristekdikti juga mengatakan bahwa GERD pada dasarnya bukan hanya sekedar angka, tetapi turut menunjukkan betapa pentingnya pengembangan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) guna menambah daya ungkkt yang berkontribusi bagi peningkatan perekonomian nasional.

"Akan lebih bermakna jika setiap hasil penelitian ini bukan hanya dalam bentuk dokumen saja, tetapi juga dalam bentuk hasil guna yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Inilah esensi dari adanya penelitian dan pengembangan," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Penguat Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati juga menjelaskan bahwa GERD menjadi salah satu indikator di dalam melihat perkembangan Iptek di suatu negara.

Di Indonesia penghitungan ini dilakukan dengan metode survei, tagging atau pendanaan di dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) berbasis output Litbang dan data sekunder penelitian yang ada pada Kemristekdikti.

"Kami mengambil data anggaran dan belanja Litbang itu dari berbagai sumber, baik primer maupun sekunder, sehingga menghasilkan data agregat yang menghasilkan GERD tadi," kata Dimyati.

Penghitungan GERD sendiri dilakukan oleh Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan dan Pusat Data dan Informasi Iptek Dikti bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, dan Badan Pusat Statistik (BPS). (OL-09)

 

BERITA TERKAIT