12 September 2019, 11:45 WIB

Latgab 2019, TNI Gunakan Tank Leopard Hingga Pesawat Nirawak


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

ANTARA/Zabur Karuru
 ANTARA/Zabur Karuru
Prajurit Korps Marinir TNI AL melakukan penembakan roket RM 70 Vampir ke arah musuh saat Latihan Gabungan TNI Dharma Yudha.

TNI menggelar Latihan Gabungan (Latgab) 2019 di Pos Tinjau T12 Pusat Latihan Tempur Pusat Latihan dan Tempur (Puslatpur) Marinir-5 Baluran, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, selama lima hari, mulai Senin (9/9) hingga (13/9).

Latihan tempur yang menerapkan sistem komunikasi terintegrasi tiga matra dan bersandi Dharma Yudha itu melibatkan 10.409 personel serta menerjunkan 1/3 alat utama sistem senjata (Alutsista) seperti 12 unit tank leopard, 23 kapal perang, 16 unit F-16 Fighting Falcon, serta sebuah pesawat nirawak.

Pelaksanaan Latgab TNI kali ini menggunakan dua metode yaitu latihan posko dan latihan lapangan yang dilaksanakan secara berangkai dengan materi kampanye militer dalam bentuk operasi gabungan di Mandala Operasi.

Komando Gabungan TNI terdiri dari beberapa Komando Tugas Gabungan, dengan menampilkan seluruh kemampuan tempur prajurit TNI beserta alat utama dan alutsista.

Baca juga: R80, Impian Habibie yang Belum Tuntas

Sebanyak 1.307 orang prajurit yang terdiri dari 271 orang penyelenggara dan 1.036 orang bertindak sebagai pelaku mengikuti latihan posko dan latihan lapangan melibatkan 10.409 orang prajurit yang terdiri dari 1.123 orang penyelenggara dan 9.286 orang pelaku.

Sementara untuk alutsista dan alat utama, TNI AD menurunkan 12 unit Tank Leopard, satu unit Taank ARV Leopard, lima unit truk Transporter, satu unit Marder, enam unit Astros, enam unit Meriam 76, enam unit Caesar, 18 pucuk Mortir-81, sembilan pucuk Mortir-60, 27 pucuk Mortir-60, delapan satbk Atlas, empat satbak MPCV, dua unit MVP, delapan unit Drone Arh, dua unit Apache, dua unit MI-35, empat unit AS-550 Fennech dan empat unit Bell-412.

Kemudian TNI AL mengerahkan KRI JOL-358, KRI USH-359, KRI GNR-332, KRI YOS-353, KRI SIM-365, KRI FKO-368, KRI FTH-361, KRI NAL-363, KRI PTM-371, KRI NGL-402, KRI SNU-373, KRI SSA-378, KRI IBL-383, KRI TBT-516, KRI MKS-590, KRI SBY-591, 1 unit KRI BAC-593, KRI PRE-711, satu unit KRI PRP-712, KRI SPT-923, KRI TBN-520, KRI TLD-521, 15 unit BTR 50 P/M, 15 unit BMP 3F, 12 unit BTR 50 P/K, tujuh unit LVT 7A1, delapan unit Kapa K61, enam unit How 105 MM, enam unit Rocket MLRS Grad, empat unit BVPP2, tiga unit Ambulans, tiga unit Truk Tatra Amo, lima unit Truk Opgleger, 18 unit Ranrik How, enam unit truk 2,5 Ton, empat unit Komob, 25 unit Mopel, dua unit RHIB, 10 unit Helikopter dan empat unit Fix Wing.

TNI AU menerjunkan enam unit SU 27/30, 16 unit F-16, enam unit T-50i, empat unit Hawk 109/209, enam unit EMB-314 Super Tucano, 12 unit C-130 B/H/HS/L-100, 1 unit C-130 BT, empat unit CN-295, 3 unit B-737-400/500 VIP, dua unit B-737-200 Patmar/Intai, dua unit C-212, dua unit PTTA Aerostar, satu unit UAV CH-4, empat unit NAS-332/EC-725 dan satu unit Colibri

Menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, alut dan alutsista yang digunakan dalam Latgab tahun ini sangat lengkap. Namun, secara jumlah, hanya 1/3 dari keseluruhan yang dimiliki TNI saat ini.

Yang berbeda dari Latgab kali ini dibanding sebelumnya, kata Hadi, terdapat satu pesawat nirawak atau drone jenis CH4 yang dikendalikan dari Surabaya.

"Kemudian drone ini mampu mengintai serta melaksanakan penyerangan. Fungsi menyerang menggunakan bomb dari ketinggian 15000 kaki dengan sangat presisi," kata Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat meninjau Latgab di Pos Tinjau T12 Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir-5 Baluran, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (11/9).

Pada kesempatan itu, ia didampingi tiga kepala staf angkatan yakni KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, dan KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna.

Kemudian rencananya, Menteri Politik Hukum dan Keamanan Wiranto akan melihat langsung kegiatan ini pada Kamis (12/9).

Menurut dia, drone itu merupakan hasil dari pengadaan dari rencana strategis kedua. Pesawat nirawak itu berjenis medium altitude long endurance (Male) yang bisa terbang dengan lama durasi sampai 12 jam dan mampu menjangkau 1000 km.

"Kemampuan itu bisa digunakan dengan dukungan satelit atau sistem BLOS (beyond line of sight). Tapi kalau hanya menggunakan NLOS (non line of sight) itu bisa dari Surabaya sampai ke tempat latihan ini di Situbondo," pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT