12 September 2019, 08:40 WIB

Pesan Eyang, Harus Berani Berinovasi


Siswantini Suyrandari | Humaniora

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
 ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Mantan Presiden BJ Habibie menunjukkan foto dirinya bersama pesawat hasil karyanya N-250 Gatotkaca.

PADA 29 Juli 2019, saya dan beberapa teman wartawan iptek mendapat undangan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk bersilaturahim ke kediaman Presiden ke-3 BJ Habibie. Eyang begitulah kami menyapa.

Saat sampai di Patra Kuningan, Jakarta Selatan, di kediaman Eyang sudah penuh para peserta yang baru selesai melaksanakan pelatihan kepemimpinan nasional di Lembaga Administrasi Negara. Hadir juga Kepala BPPT Hammam Riza dan Deputi Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara Tri Widodo Wahyu Utomo.

Dalam pertemuan itu kedua pimpinan lembaga ini meminta nasihat Eyang Habibie tentang sumber daya manusia (SDM) ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sesuai arahan pemerintah, pembangunan kini fokus pada SDM.

BJ Habibie dengan suara agak parau dan terkadang diselingi batuk langsung bersemangat saat berbicara SDM iptek. "Kualitas SDM harus ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila bangsa Indonesia menguasai kebutuhan dalam negeri secara mandiri."

Presiden ketiga RI itu berpesan kepada para pemimpin untuk membuat kebijakan yang berani. Dengan begitu, perekonomian Indonesia ke depannya tidak bergantung pada sumber daya alam mentah, tetapi produk inovasi karya Indonesia sendiri.

Habibie memiliki prinsip, bila sebuah bangsa ada putra-putri terbaiknya bisa membuat pesawat terbang, mereka pasti bisa membuat mobil, kereta api, dan teknologi lainnya. Ia pun sempat mengungkapkan rasa kecewanya karena sampai sekarang ketergantungan impor masih tinggi.

Penekanan pentingnya SDM iptek ini sudah beberapa kali dikemukakan Eyang Habibie. Pada 7 Agustus 2018, saya bertemu BJ Habibie di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong. 

Eyang mengajak keliling lingkungan Puspiptek. Ia mengenang awal mula ia mendirikan BPPT dan membangun pusat-pusat pengkajian dan inovasi di Serpong saat menjabat menteri negara riset dan teknologi sekaligus kepala BPPT.

"Di sinilah SDM iptek itu dibangun. Saya membangun BPPT menjadi laboratorium besar di sini."

Ketika memasuki ruangan aerodinamika, tempat uji pesawat, raut wajah Habibie berubah. Ia mengakui perhatian pemerintah terhadap teknologi pesawat terbang masih rendah. "Ruangan ini masih sama seperti saat awal saya bangun."

BJ Habibie memegang teguh filosofi berawal di akhir dan berakhir di awal. Filosofi ini diartikan bahwa semua hasil riset dan inovasi harus bisa diproduksi massal oleh industri dan dikomersialisasikan.

Menurut Eyang, pesawat perintis sangat ideal untuk menyambungkan wilayah Indonesia yang sangat luas. Itu sebabnya ia menekankan pentingnya kemampuan memproduksi pesawat terbang di dalam negeri.

Kendati impiannya membangun industri pesawat terbang belum terwujud, keluarga BJ Habibie sedang mengembangkan bisnis pembuatan pesawat terbang. Masih ada harapan impian Habibie menjadi kenyataan. Selamat jalan Eyang BJ Habibie. (Siswantini Suyrandari/P-2)

BERITA TERKAIT