12 September 2019, 07:30 WIB

Masa Berkabung Nasional Tiga Hari


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

MI/MOHAMAD IRFAN
 MI/MOHAMAD IRFAN
Pasukan Pengusung Jenazah mengeluarjan peti Jenazah Presiden ke-3 BJ Habibie saat tiba dirumah duka di Perumahan Patra, Kuningan, Jakarta.

PRESIDEN ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, kemarin.

Kabar duka itu pertama kali muncul dari postingan Instagram cucu keponakan BJ Habibie, Melanie Soebono.

'Eyang sampai jumpa di keabadian. Senangnya, udah bisa ngelepas kangen sama Eyang Putri', tulis Melanie di akun Instagram pribadinya, @melaniesubono, kemarin.

Habibie berpulang di usia 83. Habibie sempat mendapatkan perawatan intensif di RSPAD sejak 1 September lalu. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936 itu dalam beberapa tahun terakhir pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit karena persoalan jantung hingga kelelahan.

Putra kedua BJ Habibie, Thareq Kemal Habibie, mengungkapkan penyebab sang ayah berpulang ialah faktor usia.

"Karena sudah menua dan memakan usia. Kemarin saya katakan bahwa gagal jantung yang mengakibatkan penurunan itu, kalau memang organ-organ itu degenerasi melemah, menjadi tidak kuat lagi," kata Thareq dalam pesan singkat kemarin malam.   

Thareq mengonfirmasi bahwa BJ Habibie tutup usia kemarin pukul 18.05 WIB di Paviliun Kartika RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. "Sampai titik terakhir, saya masih ada di situ, tapi hari ini pada 11 September 2019 pukul 18.05, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie sudah meninggal," ujar Thareq.       

Thareq mengapresiasi kinerja dokter yang telah menangani kondisi kesehatan Habibie selama empat hari terakhir. Ia memohon doa dari seluruh masyarakat atas wafatnya ayahanda tercinta.

 

Dukacita

Sesaat setelah BJ Habibie berpulang, Presiden ke-7 RI Joko Widodo pun mendatangi RSPAD Gatot Soebroto untuk melayat. Jokowi menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya Presiden ke-3 RI itu.

"Atas nama pemerintah, saya menyampaikan duka mendalam atas berpulang ke rahmatullah BJ Habibie, tadi pukul 18.05 WIB," kata Jokowi di RSPAD, Jakarta, kemarin.

Jokowi mengenang Habibie bukan hanya sebagai Presiden ke-3 RI. Habibie, menurutnya, ialah Bapak Teknologi di Indonesia bahkan dunia. Selama menjabat presiden, Jokowi kerap berkonsultasi kepada Habibie untuk membahas persoalan negara. Menurutnya, Habibie negarawan yang patut dicontoh.

"Saya selalu diskusi persoalan-persoalan yang ada di negara kita. Beliau selalu langsung menyampaikan solusi, jalan keluarnya. Beliau seorang negarawan yang patut dijadikan contoh kehidupan sehari-hari," kata Jokowi.

Ucapan belasungkawa juga disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan atas meninggalnya BJ Habibie.

"Kita semua kehilangan seorang negarawan, seorang guru bangsa, seorang pendidik, seoarang ilmuan. Insya Allah beliau husnul khatimah, dimuliakan di sisi Allah derajatnya, dilapangkan kuburnya," kata Anies di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Ia mengatakan Habibie merupakan inspirasi jutaan orang Indonesia.

Di mata aktivis HAM sekaligus eksponen mahasiswa 1998, Usman Hamid, Habibie merupakan sosok yang kontroversial. Suksesor Presiden Soeharto itu menjabat sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999. Di pundak Habibie, ujarnya, transisi menuju demokratisasi kala itu dipertaruhkan dan ia melakukan sejumlah kebijakan politik yang berani.

"Meski kontroversial, di kalangan kami Gerakan Mahasiswa 1998, ia tetap sosok yang berani menerima terbukanya keran kebebasan dan tuntutan agenda reformasi," kata Usman, kemarin.

Usman yang kini menjabat Direktur Amnesty International Indonesia itu mencontohkan sejumlah langkah berani Habibie dalam membebaskan tahanan politik. Ia memberikan amnesti dan abolisi kepada sejumlah orang yang dihukum dengan berbagai tuduhan.

"Saat transisi dari rezim otoriter ke demokrasi, Presiden BJ Habibie melalui Keputusan Presiden No 80 Tahun 1998 memberikan amnesti atau abolisi kepada individu-individu oposisi politik," tutur Usman.

Wakil Ketua Dewan Pengurus The Habibie Center, Dewi Fortuna Anwar, merasa kehilangan atas kepergian sosok Presiden ke-3 RI sekaligus pendiri Yayasan The Habibie Center itu.

Menurutnya, sebelum menjadi presiden, Habibie dikenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia. Setelah menjadi presiden, Habibie juga dikenal sebagai Bapak Demokrasi Indonesia.

"Perannya mendorong demokrasi, yakni membuka kebebasan pers, memberi peluang berdirinya partai-partai politik baru, dan menyelenggarakan pemilu demokratis pertama sejak 1955," kata Dewi di Jakarta, kemarin.

Atas berpulangnya Bapak Teknologi Indonesia itu, pemerintah melalui Mensesneg Pratikno menyatakan hari berkabung nasional selama tiga hari mulai 12 September hingga 14 September 2019. Selama hari itu, bendera merah putih dikibarkan setengah tiang. 

Jenazah BJ Habibie dijadwalkan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, hari ini. (Nur/Ths/Aiw/Ant/X-6)

BERITA TERKAIT