12 September 2019, 07:10 WIB

Abadi Menginspirasi


Ade Alawi | Humaniora

Ilustrasi MI
 Ilustrasi MI
Presiden ke-3 RI BJ Habibie

KABAR duka itu datang dari Thareq Kemal Habibie, putra kedua Bacharuddin Jusuf Habibie atau akrab disapa BJ Habibie, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, kemarin.

Dia menyampaikan bahwa Presiden ke-3 Republik Indonesia itu meninggal dunia pada pukul 18.05 WIB setelah menjalani perawatan intensif beberapa hari di rumah sakit tersebut.

Indonesia berduka. Sejumlah tokoh dunia pun menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya Bapak Teknologi dan Bapak Demokrasi Indonesia itu. Pemerintah menetapkan hari berkabung nasional selama tiga hari, yakni hingga 14 September 2019.

Habibie ialah sosok fenomenal bagi bangsa Indonesia. Tokoh kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, ini dikagumi bukan karena sejumlah jabatan mentereng yang diembannya, dari menteri riset dan teknologi, wakil presiden, hingga menjadi presiden. Suami Hasri Ainun ini menginspirasi jutaan rakyat Indonesia.

Seiring berkibarnya nama Habibie sebagai pakar kedirgantaraan nasional yang diakui dunia di era Orde Baru, acap kali para orangtua menginginkan anak-anak mereka secerdas Habibie. Bahkan, penyanyi Iwan Fals pernah menyebut nama Habibie dalam lagu Oemar Bakry (1981). Dalam lagu itu disebutkan bahwa Guru Oemar Bakry menjadikan anak-anak muridnya 'bikin otak orang seperti otak Habibie'.

Tokoh yang merupakan anak keempat dari delapan bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA Tuti Marini Puspowardojo ini, selepas meraih gelar doktor teknik penerbangan dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang di RWTH Aachen, Jerman Barat, pada 1965, sempat bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB). Di sana Habibie menduduki dua jabatan sekaligus, yaitu sebagai direktur teknologi dan vice president.

Namun, ketika Presiden Soeharto memintanya pulang ke Indonesia pada 1973, Habibie mengikutinya. Ayah Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie pun berkiprah di Tanah Air. Dia merindukan Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tentu saja momen bersejarah dalam perjalanan Republik Indonesia ialah ketika Habibie sukses mengantarkan transisi demokrasi pada 1998-1999 dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Berbagai kebijakan prodemokrasi digulirkan. Keran kebebasan dibuka seluas-luasnya.

 

Begitu pun di setiap pergantian rezim kekuasaan di negeri ini, Habibie selalu menjadi rujukan dan magnet politik, seperti pada Pilpres 2019.

Bagi generasi bangsa, sangat tepat bila kita menyimak pesan Habibie, Jadilah mata air jernih yang memberikan kehidupan kepada sekitarmu.

Selamat jalan Eyang Habibie, tokoh bangsa yang selalu menginspirasi. (Ade Alawi/X-3)

BERITA TERKAIT