11 September 2019, 14:08 WIB

Pedagang Pasar Tradisional Jambi Ramai-Ramai Buka Akun Toko 


Mohamad Farhan Zhuhri | Nusantara

Kominfo
 Kominfo
Kampanye Grebeg Pasar UMKM Go Online dilakukan di pasar-pasar tradisional Kota Jambi. 

Selain berjumpa dan bertransaksi langsung dengan para pembelinya di pasar, para pedagang pun didorong untuk terjun ke pasar digital. Maka, tim Kominfo bersama relawan dari komunitas Pandu Digital pun ramai-ramai menyerbu pasar tradisional. Mereka berbincang dengan para pedagang, membuka pemahaman tentang potensi berdagang di pasar daring dan tentunya berpraktik langsung.

Kampanye Grebeg Pasar UMKM Go Online itu dilakukan di Kota Jambi pada 23 Agustus hingga 5 September 2019 di enam pasar. Hasilnya, 2.000 pedagang pedagang sukses memiliki akun di toko daring. "Sosialisasi, untuk pelaku UMKM, edukasi dan pendampingan harus dilakukan dari pintu ke pintu, karena mereka juga sibuk di kios mereka.
Kami ingin menciptakan kantung-kantung ekosistem baru di pusat perniagaan. Nantinya, pasar tradisional tetap akan menjadi sentra perdagangan dua jalur, offline dan digital,” kata Puti Adella Elvina, Kepala Seksi Pengembangan dan Fasilitasi Platform Perdagangan Kominfo, Senin (9/9).

Ade memaparkan, berdagang di toko draing membutuh keterampilan-keterampilan yang berbeda dengan teknik konvensional. Sehingga, setelah memiliki akun, para pedagang membutuhkan pembinaan lebih jauh agar mereka menjadi pemain di pasar digital. "Selanjutnya, dari pengelola toko maupun dinas-dinas terkait segera melakukan pendampingan dan pembinaan agar pelaku UMKM ini makin yakin manfaat hadirnya platform digital yang lebih aman dan nyaman untuk berdagang,” lanjut Ade.

Di Jambi, Grebeg Pasar UMKM Go Online dilakukan di Pasar Angso Duo, Pasar Talang Banjar, Pasar Mega, Pasar Mama, Pasar Istana dan Pasar Kecamatan. Respon terbaik didapat di Pasar Kecamatan yang memang sebagian pedagangnya masih muda dan tergolong perantau dari Padang, Palembang, Medan, Makassar bahkan Pulau Jawa. 

"Sebenarnya sudah lama ingin buat akun penjual, tapi bingung untuk memulainya karena banyak kolom yang harus diisi. Biasanya di  marketplace saya cuma belanja. Tapi, setelah tadi dibantu, saya bisa upload satu produk dagangan," ujar Misa Purnama, 29, pedagang pakaian di Pasar Kecamatan.

Sementara, Yuliana, 26, penjual hijab, yang sebelumnya menjelajah di marketplace untuk memeriksa model-model busana muslim terbaru dan telah berjualan online lewat media sosial, kini berencana menseriusi akun barunya di toko daring. 

Dampak berganda yang akan digulirkan dari pergerakan Misa, Ade serta para pedagang lainnya yang menjajaki dunia digital, kata Ade, akan terus berputar. Sektor lainnya, termasuk jasa pengiriman, akan tumbuh. (X-16)

BERITA TERKAIT