11 September 2019, 10:53 WIB

Musim Kemarau di Jawa Tengah Diprediksi Lebih Panjang


Akhmad Safuan | Nusantara

Antara
 Antara
Kemarau panjang membuat warga membeli air bersih.

KEKERINGAN melanda Jawa Tengah diperkirakan lebih panjang hingga November mendatang. Sementara sumber-sumber air terus menyusut akibat kemarau. Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Jepara sudah kewalahan akibat menyusutnya 100 sumur sumber air baku hingga 10%. Akibatnya beberapa desa tidak mendapat aliran air bersih.

"Rencananya tahun 2020 dibangun instalasi pengolahan air dari Bendungan Bapangan untuk memenuhi kebutuhan air warga," kata Direktur PDAM Jepara Prabowo, Rabu (11/9).

Warga Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit, Jepara terpaksa setiap hari mandi dan mencuci dengan memanfaatkan sumber air dari saluran irigasi dari Kedung Boso yang berjarak 500 meter dari desanya. Sedangkan untuk kebutuhan konsumsi, warga membeli air dari pedagang keliling atau menunggu bantuan.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Tuban Wiyoso mengatakan kemarau di Jawa Tengah saat ini terasa lebih kering dan lebih lama. Dia memprediksikan musim kemarau tahun ini hingga November mendatang atau mundur dibandingkan perkiraan awal pada September ini.

Awal hujan diprediksikan baru akan terjadi Oktober minggu kedua dan ketiga untuk wilayah Banjarnegara, Batang selatan, Pekalongan,  Wonosobo, Temanggung, Magelang, Kendal dan Cilacap.

"Namun untuk wilayah pesisir seperti Jepara, Demak, Rembang dan Pati musim penghujan baru terjadi pada Desember mendatang," kata Tuban memprediksi.

baca juga: Alumni Universitas Riau Siapkan Class Action Dampak Karhutla

Sementara itu bencana kekeringan yang melanda Jawa Tengah mendapat perhatian dari media asing asal Jepang, Asahi Shimbun. Surat kabar itu mengutus kepala biro untuk koresponden Indonesia, Hidefuni Nogami untuk meliput dampak kemarau di Kabupaten Grobogan. Di wilayah ini kekeringan melanda 107 desa di 15 kecamatan, termasuk ratusan hektare sawah kekurangan air. (OL-3)

BERITA TERKAIT