11 September 2019, 09:31 WIB

Dituding Malaysia Kirim Kabut Asap, Menteri LHK Ajukan Protes


Ilham Pratama Putra | Internasional

ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman
 ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman
Warga beraktivitas dengan mengenakan masker di dekat menara kembar Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya akan mengirimkan nota protes kepada Pemerintah Malaysia serta Kedubes Malaysia di Jakarta terkait kabut asap yang terjadi di Serawak, Malaysia. Dia meminta Malaysia lebih objektif menyikapi kabut asap.

Siti menilai kabut asap dari kebakakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak sepenuhnya berasal dari Indonesia. Malaysia tidak mengaku bahwa beberapa wilayah mereka juga mengalami karhutla.

"Karena sebetulnya asap yang masuk ke Malaysia, ke Kuala Lumpur, itu dari Serawak kemudian dari Semenanjung Malaya, dan juga mungkin sebagian dari Kalimantan Barat. Oleh karena itu seharusnya obyektif menjelaskannya," kata Siti, Selasa (10/9).

Dia juga menyayangkan sikap Singapura yang masih mempermasalahkan asap dari karhutla di Riau. Padahal, titik api atau hotspot di Riau telah berkurang.

"Engga benar, ada dari Riau nyeberang ke Singapura. Itu ngga benar. Kenapa? Di Riau sudah turun (hotspot). Kita punya 46 helikopter yang bekerja di lapangan," ucapnya.

Baca juga: Investasi di Sektor Lingkungan Hasilkan Keuntungan Berlipat

Dia menyebut, saat ini, pemerintah Indonesia sedang serius menyelesaikan permasalahan karhutla.

Permasalahan karhutla telah dikomunikasikan kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Kita sudah punya pola sistematis. Monitoring dilakukan. Pemadaman oleh Manggala Agni, Polri, TNI, masyarakat semua dilakukan. Langkah dilakukan terus. Memang fluktuatif. Tidak mudah, mudah-mudahan makin baik," ungkapnya.

Lebih lanjut, BMKG juga memastikan asap yang terdeteksi di Semenjung Malaysia, pada 5 hingga 7 September 2019 berasal dari local hotspot.

Kepala BMKG Dwikorita menyebut berdasarkan pengamatan Citra Satelit Himawari, teridentifikasi peningkatan jumlah titik-titik panas di wilayah Semenanjung Malaysia.

Sementara titik panas di Riau mengalami penurunan dari 860 titik pada 6 September, menjadi 544 titik pada keesokan harinya.

“Asap di Sumatra (Riau) tidak terdeteksi melintasi Selat Malaka karena terhalang oleh angin kencang dan dominan di Selat Malaka yang bergerak dari arah Tenggara ke Barat Laut,” kata Dwikorita. (Medcom/OL-2)

BERITA TERKAIT