11 September 2019, 09:40 WIB

Budaya Damai belum Sentuh Akar Rumput


Nur Aivanni | Politik dan Hukum

MI/RAMDANI
 MI/RAMDANI
Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Syafiq A. Mughni.

BUDAYA damai belum sepenuhnya terba-ngun di lapisan masyarakat akar rumput (grassroot). Ada sejumlah penyebab yang membuat implementasi dalam membangun budaya damai itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban, Syafiq A Mughni, mengakui bahwa masih ada kesenjang-an antara ajaran agama yang mewajibkan umatnya untuk hidup damai dan praktik di lapangan yang sering tidak sesuai dengan ajaran agama.

"Masih ada kesenjangan. Maka kita ingatkan kembali tentang komitmen damai itu di dalam ajaran kita masing-masing dan kita mencari apa bentuk kerja sama yang paling visibel yang bisa kita lakukan," katanya.

Syafiq menyampaikan ada sejumlah penyebab budaya damai belum terbangun di masyarakat. Di antaranya, persoalan di sektor pendidikan, faktor ekonomi, dan integ-rasi sosial yang masih rapuh. "Itu bisa saja menjadi penyebab dari ketegangan di akar rumput," tukasnya.

Salah satu indikator yang bisa menunjukkan bahwa budaya damai belum sepenuh-nya terbangun, menurut dia, ialah bagaimana suatu komunitas merespons ketika ada informasi yang tidak benar atau hoaks di media sosial.

"Apakah mereka cukup matang, oh dicek dulu apa benar atau salah. Tapi, kalau belum punya budaya damai, itu langsung saja merespons secara gegabah dan itu bisa menimbulkan malapetaka yang lebih luas. Dan sekadar melihat medsos saja, kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana tingkat kematangan budaya damai masyarakat kita," tuturnya.

Diakuinya, perilaku masyarakat dalam bermedia sosial akan menjadi salah satu yang dibahas dalam musyawarah nasional tokoh antaragama bertajuk Musyawarah Nasional Tokoh Antaragama untuk Membangun Budaya Damai, yang akan dibuka Presiden Joko Widodo, hari ini.

Masifnya hoaks di media sosial, kata Syafiq, akan menjadi salah satu pembahasan para tokoh antaragama yang kemudian akan dicarikan solusi terbaik di dalam munas tersebut. "(Hoaks di medsos) itu menjadi penyebab kete-gangan dan juga menjadi indikasi apakah kita sudah matang, sudah melek, sudah literate dalam bermedia atau belum," pungkasnya.

Musyawarah Nasional yang digelar 11-14 September 2019 itu akan diikuti 250 orang yang terdiri atas tokoh berbagai agama, khususnya aga-ma-agama yang diakui di Indonesia dan peninjau dari penghayat kepercayaan.

 

Membina kerukunan

Di sisi lain, Forum Kerukun-an Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah menggagas program muhibah kerukunan untuk meningkatkan kualitas perdamaian dan keamanan di provinsi itu.

"Muhibah kerukunan ini dikemas dalam bentuk kunjungan ke rumah-rumah ibadah atau majelis organisasi keagamaan. Ini sebagai salah satu kegiatan keumatan dalam rangka membangun kerukunan dan kehidupan umat beragama yang damai," ucap Sekretaris FKUB Sulteng Muhtadin Dg Mustafa. (Ant/P-3)

BERITA TERKAIT