11 September 2019, 06:40 WIB

Berolahragalah dengan Cara Benar


(Aiw/H-2) | Humaniora

Antara
 Antara
Dokter spesialis kedokteran olahraga dr Zaini K Saragih Sp.KO memberikan pemaparan terkait kesehatan olahraga di Kementerian Kesehatan 

OLAHRAGA merupakan salah satu cara paling murah dan praktis untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Aktivitas fisik bahkan dapat dilakukan di dalam rumah tanpa perlu alat ataupun lapangan yang luas.

"Buang jauh mindset yang menyebutkan bahwa kita butuh olahraga yang canggih-canggih. Sambil nonton drama Korea itu sudah cukup," tegas spesialis kesehatan olahraga dr Zaini K Saragih dalam diskusi di Jakarta, pekan lalu, dalam menyambut Hari Olahraga Nasional yang diperingati setiap 9 September.

Dia menjelaskan, ada tiga tipe aktivitas fisik yang bisa dilakukan di rumah. Aktivitas pertama, aerobik, dianjurkan selama 30-60 menit per sesi sebanyak 3-7 kali seminggu.

Aktivitas fisik kedua dalam bentuk strength training, sebaiknya dilakukan selama 15-30 menit per sesi sebanyak 2 sampai 3 kali seminggu. Terakhir, aktivitas stretching, disarankan dilakukan selama 5-15 menit per sesi setiap hari.

Ia mengatakan, olahraga yang baik dilakukan secara benar, teratur, dan terukur. Jika dilakukan tidak benar, olahraga akan menyebabkan cedera, bahkan kehilangan nyawa.

Sebelum berolahraga, pastikan denyut jantung berada di bawah 100 denyut per menit (BPM). Jika denyut jantung berada di atas 100 BPM, sebaiknya beristirahat dulu 3-5 menit hingga denyut jantung menjadi lebih rendah. Namun, apabila denyut jantung (heart rate) tidak kunjung membaik, disarankan pergi ke poliklinik atau rumah sakit terdekat. "Karena kalau dipaksa olahraga akan terjadi jantungnya capek dan bisa flat (meninggal dunia)."

Pada fase pre-exercise kita juga perlu memastikan bahwa indeks massa tubuh (IMT) atau body mass index (BMI) kita berada di bawah 30 BPM. Seseorang dengan BMI di atas 30 BPM, kata Zaini, tidak dianjurkan untuk berolahraga dengan gerakan melompat, misalnya, lari.

"Ada fase-fase yang kita melayang. Pada saat kita mendarat, berat yang ditahan oleh kaki adalah empat kali badan kita, kalau dipaksa (BMI>30) yang rusak sendi-sendinya, sendi lutut, sendi engkel, ujung-ujungnya jadi rematik," tuturnya.

Pada saat berolahraga diingatkan untuk minum air sebanyak 200 ml setiap 20 menit untuk menghindari dehidrasi. "Jangan tunggu haus baru minum karena kalau kita haus artinya sudah mulai dehidrasi."

Seusai berolahraga, kita bisa merilekskan tubuh dengan mandi air panas atau dingin, pijat, kompres, jalan kecil, hingga berenang santai.

Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kemenkes Kartini Rustandi mengatakan, aktivitas fisik akan meningkatkan kebugaran jantung dan paru, meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. Manfaat lain, memperbaiki komposisi tubuh, menurunkan resiko penyakit tidak menular (PTM), hingga meningkatkan massa tulang, khususnya pada anak. (Aiw/H-2)

BERITA TERKAIT