11 September 2019, 08:10 WIB

Berdayakan Ekonomi Daerah


MI | Nusantara

Sumber: Dirjen Perhubungan Laut
 Sumber: Dirjen Perhubungan Laut
Grafis tol laut

VISI pemerintah untuk menekan disparitas harga dengan menggunakan tol laut merupakan salah satu upaya menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia timur.Akan tetapi, upaya tersebut perlu dibarengi peningkatan kapasitas masyarakat daerah.

Itu dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan kekosongan muatan pada angkutan tol laut dari arus balik menuju Indonesia timur. Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat mendampingi kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Kupang, beberapa waktu lalu.

Menurut Budi, selama ini kapal tol laut yang mengangkut muatan kontainer dari Jakarta atau Surabaya ke Indonesia timur mengalami muatan relatif kosong saat kembali dari daerah tersebut. “Jika ada muatan hanya sekitar 20 sampai dengan 30%,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan solusi terhadap kendala tersebut.Salah satu caranya dengan mengoptimalkan potensi muatan dan kearifan lokal di daerah.

“Masalah utama yang masih dihadapi pada pelaksanaan program tol laut bukanlah pada kapal atau perusahaan pelayaran selaku operator, tetapi pada belum maksimalnya muatan balik.Ini membutuhkan koordinasi lintas sektoral,” tutur Budi.

Meskipun begitu, saat ini program tol laut, kapal perintis, dan kapal ternak sudah berjalan dengan baik.Sampai sekarang volume muatan ternak mencapai 46 ribu ton dan ditargetkan untuk tahun ini mencapai 70 ribu ton.

“Ke depan, hasil ternak dapat dikirim dalam bentuk yang telah dibekukan atau frozen. Hal tersebut dilakukan untuk meng¬antisipasi adanya kekosongan muatan tol laut saat balik ke Jakarta,” ujar Budi.

Ia juga mengingatkan pentingnya melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebagai misal, pemerintah berencana akan mengirimkan hasil ternak dari Nusa Tenggara Timur.

Terkait hal tersebut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Tjahya Widayanti, mengimbuhkan keberadaan tol laut sanggup menopang sistem perdagangan antarpulau.Soalnya, biaya distribusi dapat ditekan karena kapal tidak kembali ke Pulau Jawa dengan muatan kosong.“Misalnya, muatan yang dibawa dari wilayah timur meliputi komoditas ikan cakalang, ikan tenggiri, pala, dan ikan asin,” ujarnya.

Lebih jauh Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Jelamu, menilai sudah saatnya tol laut diberikan peranan lebih luas untuk menggerakkan UMKM yang akhirnya mendorong perekonomian daerah.“Misalnya produk UMKM yang volumenya sedikit dan tidak cukup dengan peti kemas bisa diangkut menggunakan tol laut,” terang Marius.

Begitu juga komoditas lain, seperti cengkih, vanili, kopi, jambu mete, dan pisang milik petani NTT dapat diangkut atau dijual ke daerah lain menggunakan kapal tol laut. Dengan demikian, menurut Marius, pemerintah telah memberikan subsidi langsung kepada rakyat sekaligus membantu meningkatkan ekonomi mereka.

Ia menilai subsidi bagi kapal tol laut hanya dinikmati oleh kalangan pengusaha bermodal besar. Menurutnya, masyarakat dapat didorong melakukan transaksi jual-beli dengan warga di daerah lain dengan tol laut. (Dro/PO/YR/Abdul Halim Ahmad/S3-25)

 

BERITA TERKAIT