10 September 2019, 20:15 WIB

Perang Kata-Kata Trump dengan Taliban Rusak Prospek Perdamaian


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

PROSPEK perdamaian di Afghanistan kian tidak menentu. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Senin (9/9) waktu setempat, mengatakan, pembicaraan damai AS dengan kelompok Taliban telah ‘mati’. Ia meningkatkan perang setelah membatalkan pembicaraan rahasia dengan gerilyawan Afghanistan itu akhir pekan lalu.

"Perundingan damai sudah mati. Sejauh yang saya ketahui, itu sudah mati," kata Trump di Gedung Putih tentang upaya jangka panjang untuk mencapai kesepakatan dengan Taliban dan membebaskan pasukan AS setelah perang 18 tahun.

Pengumuman itu menyusul pembatalan dramatis Trump atas rencana rahasia untuk membawa para pemimpin Taliban ke meja pembicaraan damai langsung di fasilitas kepresidenan di Camp David, Maryland, AS.

Trump mengatakan skala serangan militer AS palin baru pada gerilyawan itu kembali diintensifkan dalam satu dekade.

"Selama empat hari terakhir, kami telah menggempur musuh kami lebih keras daripada yang telah kami lakukan kapanpun dalam sepuluh tahun terakhir!" ujarnya di Twitter.

Seakan mengonfirmasi bosnya, pada Minggu, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan, "Kami telah membunuh lebih dari seribu Taliban hanya dalam 10 hari terakhir."

Trump dengan marah membantah efek dari perubahan mendadak mengenai perundingan damai Afghanistan menyebabkan kekacauan. Dia mengatakan pembatalan sebagai pembalasan atas terbunuhnya seorang tentara AS oleh Taliban dalam ledakan bom besar di Kabul yang diklaim Taliban pekan lalu.

Banyak orang di Washington terkejut dan ada yang marah mengetahui Taliban akan mengunjungi retret presiden pada malam peringatan serangan teroris 11 September.

Tetap saja ada juga kekhawatiran yang meluas pada gaya negosiasi yang khas dan tidak dapat diprediksi dari Trump. Namun Trump membantah perselisihan di antara anggota pemerintah termasuk Wakil Presiden Mike Pence.

Lebih lanjut, Pemimpin AS menuduh wartawan berusaha 'menciptakan tampilan kekacauan di Gedung Putih, yang sesungguhnya tidak ada'. Trump menambahkan ia tidak memiliki pemikiran kedua tentang tindakannya.


Baca juga: Guatemala Terjunkan 2.000 Tentara di Perbatasan Pascaserangan Maut


"Dalam hal para penasihat, saya mengikuti saran saya sendiri," ujarnya kepada wartawan.

Beberapa anggota parlemen dari Partai Republik sependirian dengan keputusan Presiden tentang perundingan.

"Saya tidak pernah percaya kesepakatan dengan Taliban itu mudah atau segera," kata Senator Marco Rubio.

Sampai akhir pekan ini, ada harapan yang terus meningkat dari kesepakatan yang akan memandu Amerika Serikat menurunkan jumlah pasukan di Afghanistan. Sebagai imbalannya, Taliban akan menawarkan jaminan keamanan untuk mengusir kelompok-kelompok ekstremis.

Merespons Trump, Taliban, Selasa (10/9), berjanji untuk terus berperang melawan pasukan AS di Afghanistan setelah Presiden Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan para pemberontak telah ‘mati’. Mereka mengatakan Washington akan menyesal meninggalkan negosiasi.

Perang kata-kata yang antara kedua belah pihak meningkatkan momok kekerasan di Afghanistan ketika Trump dan Taliban berjanji untuk saling berperang satu sama lain menyusul gagalnya pembicaraan.

"Kami memiliki dua cara untuk mengakhiri pendudukan di Afghanistan, satu adalah jihad dan pertempuran, yang lain adalah pembicaraan dan negosiasi," kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid.

"Jika Trump ingin menghentikan pembicaraan, kami akan mengambil jalan pertama dan mereka akan segera menyesalinya."

Pernyataan Taliban itu muncul beberapa jam setelah Trump mengatakan kepada wartawan AS meninggalkan negosiasi setelah hampir satu tahun perundingan yang bertujuan untuk membuka jalan bagi penarikan tentara AS dari Afghanistan setelah 18 tahun perang. (AFP/OL-1)

 

BERITA TERKAIT