10 September 2019, 22:20 WIB

Rusia Siap Bantu Bangun Ibu Kota Baru


MI | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita 

RUSIA menyatakan komitmen untuk membantu pembangunan infrastruktur di Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, dua wilayah di Kalimantan Timur yang akan menjadi ibu kota baru Indonesia.

Kesediaan Rusia itu disampaikan saat Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Maksim Oreshkin bertemu dengan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita di sela-sela ASEAN Economic Ministers' (AEM) Meeting di Bangkok, Thailand.

"Rusia menyampaikan akan memberikan dukungan terhadap pembangunan infrastruktur terutama di ibu kota baru," ujar Enggartiasto melalui keterangan resminya, kemarin.

Sedianya, jauh sebelum Indonesia mengumumkan pemindahan ibu kota, Rusia telah lebih dulu berkomitmen membangun infrastruktur berupa jalur kereta untuk pengiriman batu bara di Kalimantan. Namun, hingga saat ini, proyek tersebut masih tersendat karena terganjal perbedaan pandangan.

Pihak Rusia menginginkan infrastruktur transportasi itu nantinya tidak hanya dimanfaatkan untuk sistem logistik barang, tetapi juga untuk angkutan masyarakat.

"Pihak Rusia mempertanyakan itu. Saya akan sampaikan ke menteri terkait masalah ini. Ada hal-hal apa yang menghambat," jelas Enggartiasto.

Proyek kereta batu bara di Kalimantan digarap oleh Russian Railways, sebuah perusahaan negara milik 'Negeri Beruang Merah'.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PU-Pera Syarif Burhanuddin mengatakan rantai pasok material dan peralatan konstruksi yang masih belum sempurna akan menjadi salah satu tantangan dalam membangun ibu kota baru di Kalimantan Timur.

Selama ini, sebagian besar pabrik bahan baku konstruksi yakni semen, aspal, dan baja berlokasi di Jawa. Artinya, akan ada biaya besar untuk mengangkut material-material tersebut ke Kalimantan. Proses pengangkutan yang tidak mudah pun akan membuat pengerjaan berjalan lebih lama.

"Selama ini, bahan-bahan yang digunakan untuk pembangunan di Kalimantan memang didatangkan dari luar pulau itu," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Hal tersebut, lanjut Syarif, sangat tidak efisien sehingga diperlukan terobosan baru dalam penyediaan rantai pasok agar pembangunan infrastruktur dapat berjalan dengan lancar. (Pra/E-3)

BERITA TERKAIT