10 September 2019, 18:30 WIB

Kota Penyangga Ibu Kota Negara Baru Diselimuti Kabut Asap


Rudi Agung | Nusantara

MI/Rudi Agung
 MI/Rudi Agung
Balikpapan diselimuti kabut asap

KOTA penyangga bakal Ibu Kota Negara baru, Balikpapan, sejak subuh sampai Selasa (10/9) siang diselimuti kabut asap. Sejumlah warga mulai mengenakan masker saat mengendarai roda dua.

Tak hanya kabut yang menghalangi pemandangan, asap yang tersapu angin itu membawa bau tak sedap. Padahal, kabut asap ini belum muncul Senin (9/9) malam. Kabut ini pun dikeluhkan warga setempat.

"Sejak subuh waktu mau ke masjid, tercium bau asap tak enak. Kami kira ada warga yang membakar sampah, ternyata bukan. Di mana-mana kabutnya membubung, padahal semalam belum ada," tutur Junaedi, 45, warga Graha Indah, Balikpapan Utara, Selasa.

Kata Junaedi, kabut asap cukup pekat mulai dirasakan masyarakat sejak subuh hingga jelang siang.

Warga lain di Perumahan Pelangi, Dinda, 35, merasakan hal sama. Ia melihat kabut asap saat berada di ketinggian gedung atau daerah berbukit.

"Bau asapnya menyengat, sampai nempel di baju," ujarnya.

Kendati demikian, Humas Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, Hari, mengatakan, kabut asap tersebut tidak sampai mengganggu jalur peberbangan.

"Masih normal. Semua penerbangan dari dan ke Balikpapan tidak ada yang delay, masih sesuai jadwal," ujarnya.

Laporan pandangan mata media ini, kabut asap tidak hanya terjadi di wilayah pinggir kota tapi juga di sekitar Balikpapan Selatan dan Balikpapan Tengah. Seperti kawasan Kelurahan Gunung Sari Ilir dan Kelurahan Damai.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan, kabut asap ini diperkirakan kiriman dari daerah lain yang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Namun, BMKG belum bisa memastikan lokasi pasti titik sentral yang menyebabkan tersapunya kabut asap sampai ke Balikpapan.


Baca juga: Polisi Tetapkan 3 Tersangka Penyelundupan 19 Ribu Benih Lobster


Bagian Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Mulyono, memperkirakan kemungkinan besar asap berasal dari dampak karhutla di area kabupaten yang berdekatan dengan Balikpapan.

"Benar kabut cukup tebal sudah sampai ke sini, tapi sumbernya bukan berasal dari Balikpapan," tuturnya.

Ia memastikan kabut tersebut kiriman dari luar daerah di Balikpapan. Mulyono mengamini kabut asap yang dirasakan cukup tebal hingga jarak pandang hanya 3 sampai 5 kilometer di runway Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Balikpapan.

"Tapi ini kabut asap yang dibawa angin, karena sekarang arah angin dari selatan dan barat daya. Jadi sumber kabut itu bukan dari Balikpapan," terangnya.

Saat ini, tim BMKG Balikpapan masih terus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan sumber asap yang sampai terbawa ke Balikpapan.

Akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Andi, mengingatkan dalam kasus karhutla, Kalimantan terkenal sebagai daerah yang rentan dengan bencana tersebut. Apalagi, Indonesia tepat berada di garis equator yang menjadikan negara ini satu dari 13 negara khatulistiwa dengan iklim tropis, yang rata-rata suhunya lebih 30 derajat.

"Karhutla kerap terjadi di Kaltim ketika musim kemarau. Tahun ini kemarau bisa sampai November," ujarnya.

Mengacu data dari citra satelit Terra Aqua (Lapan) yang dilihat media ini di laman resmi: http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/sebaran, per 18.30 Wita pada 10 September 2019, ditemukan 171 titik panas di Kalimantan Tengah dan 10 titik di Kalimantan Selatan.

Adapun di Kalbar ditemukan 179 titik panas. Sedangkan di Kaltim terpantau 3 titik panas yang semuanya berada di Kubar. Tingkat akurasi dari pantauan satelit-satelit tersebut dipercaya 80% akurat.

Sebelumnya, dalam sepekan ini tercatat enam kasus kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Balikpapan. Bahkan pada Minggu (8/9), karhutla terjadi di dua lokasi yang berbeda.  Yakni lahan di Kelurahan Sepinggan Baru, Balikpapan Selatan, dan Jalan Projakal, Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Balikpapan, Hendro, mengaku begitu mendapat informasi kejadian karhutla dari warga, pihaknya segera turun ke lokasi.

"Kita mendapat informasi dari warga ada kebakaran lahan di Sepinggan Baru, lokasinya di sekitar depan Polda. Tidak berselang berapa lama, kebakaran lahan kembali terjadi di kawasan Graha Indah," ujar Hendro.

Enam kasus karhutla juga terjadi di kabupaten tetangga Balikpapan, yakni Penajam Paser Utara. Peristiwa kebakaran lahan di dekat lokasi ibu kota baru ini menghanguskan lahan seluas 15 hekater. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT