11 September 2019, 07:00 WIB

Ternate Sukses Gelar Indonesia Creative Cities Conference 2019


mediaindonesia.com | Ekonomi

Istimewa
 Istimewa
Peserta ICCC 2019 berpose di Hotel Dafam Bela Ternate, Maluku Utara.

PEMBAHASAN mengenai ekonomi kreatif daerah dilaksanakan di Hotel Dafam Bela Ternate, Maluku Utara, Rabu (4/6). Acara yang bertajuk Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) 2019 dihadiri para bupati dan wali kota dari sejumlah daerah di seluruh Indonesia.

Dalam ICCC 2019, turut hadir perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, yakni Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Rudy Salahuddin.

Dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) hadir Deputi Infrastruktur Hari Sungkari, serta hadir Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum Inovator 4.0 Budiman Sudjatmiko. Tidak hanya itu, acara juga dihadiri Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba dan Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman.

Setiap sesi dalam konferensi yang diselenggarakan selama dua hari ini diisi presentasi dari para kepala daerah, akademisi, profesional bidang ekonomi kreatif dan media, serta komunitas kreatif.

Pemaparan yang disampaikan mencakup capaian daerah masing-masing, hingga upaya membangkitkan potensi ekonomi kreatif yang dapat dikolaborasikan dengan Sinergi Penta Helix ABCGM (Academia-Business-Community-Government-Media).

Pada kesempatan mengisi sesi pertama ICCC 2019, Ketua Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) sekaligus Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany pun memberi pujian kepada Ternate.

“Ternate punya laut, gunung, komunitas, punya potensi luar biasa dan punya sejarahnya. Ternate mantap, keren. Teman-teman dari ICCF harus tahu bahwa Ternate punya apa-apa,” kata Airin.

Bicara tentang kreativitas tentu tidak bisa lepas dari talenta dan kemampuan manusianya. Pada hari kedua konferensi, 05 September 2019, CEO GDP Venture Martin Hartono membahas panjang-lebar mengenai topik 'Kota Kreatif dan Tantangan Global'.

Martin Hartono sekaligus mempresentasikan sederet panjang prestasi para musisi muda Indonesia yang berhasil dibawanya tampil hingga pentas level dunia, seperti Rich Brian, NIKI, Stephanie Poetri, dan Devinta Trista Agustina.

Martin Hartono pun menayangkan video-video ketika keempat musikus muda Indonesia ini tampil pada Head in the Clouds Festival 2019 di Los Angeles, Amerika Serikat.

Dimulai dengan NIKI yang membuka konser tersebut dengan menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' bersama adanya anak-anak muda berpakaian warna merah-putih yang berdiri di panggung sambil memegangi bendera Indonesia.

Penampilan mereka yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia berhasil memikat generasi muda Amerika Serikat, yang antusias merekam penampilan NIKI menggunakan gawai masing-masing dan turut menyebarkannya ke seluruh dunia.

“Kami menargetkan 9.000, yang datang 25.000 penonton, dengan harga tiket US$150,” kata Martin Hartono yang disambut tepuk tangan riuh dari para hadirin di ballroom lokasi ICCC.

“Prinsipnya, kami merekrut siapa saja anak Indonesia yang berbakat musik dan berkemauan keras menjadi penyanyi tingkat dunia,” lanjut Martin.

Ridwan Kamil jadi narasumber

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun menyampaikan pada presentasinya pada hari kedua ICCC 2019, betapa penting mengemas informasi secara relevan melalui media sosial yang sekarang lebih banyak diakses oleh masyarakat pada kehidupan sehari-hari.

Mengunggah foto atau video pada media sosial itu terkesan seperti aktivitas ringan, tapi sebetulnya bisa dikelola, hingga informasi yang tersebar itu dapat membentuk identitas dan persepsi yang baik mengenai diri atau tempat tinggal kita.

Reputasi yang positif bisa dicapai dan menyebar hingga ke seluruh dunia, sehingga daerah kita memiliki daya tarik lebih bagi para wisatawan, pengunjung, hingga para investor.

Pada berikutnya atau Jumat (6/9), terjadi pencapaian tingkat dunia pada momentum Gugu Gia Si Kololi, yaitu 42 ribu orang peserta yang 'memeluk' Gunung Gamalama dengan bergandengan tangan selama 7 menit.

Kegiatan puluhan ribu orang yang bergandengan tangan ini merupakan wujud tekad bersama untuk terus merajut persatuan dan kesatuan Indonesia. Ini menunjukkan bahwa walaupun kita berbeda asal tempat dan latar belakang kehidupan, tetapi kita tetap hidup sebagai satu bangsa Indonesia.

“Ini merupakan acara sakral, yang pertama kali terjadi di dunia. Ini adalah kerja keras Jaringan Kota Ternate. Mereka ini adalah anak muda Ternate yang punya pikiran positif, inovatif, dan kreatif,” kata Wali Kota Ternate Abdul Gani Kasuba, yang turut hadir menjadi bagian dari kegiatan Gugu Gia Si Kololi.

Bersamaan adanya puluhan ribu orang yang bergandengan tangan sepanjang rute jalan yang telah ditentukan hingga Benteng Oranje itu, bendera Merah-Putih yang diikat pada sebuah tongkat pun dibawa berlari dan secara estafet dipindahkan hingga diberikan kepada Fiki Satari, Ketua Umum ICCN, yang menerimanya bersama rombongan di depan Benteng Oranje.

Kemudian Fiki Satari menyerahkan bendera merah-putih yang telah dibawa mengelilingi Gunung Gamalama itu kepada Paskibra yang telah siap di sana dan dengan sigap membawanya ke dalam Benteng Oranje untuk dikibarkan di tengah area, dikelilingi masyarakat dan para pengunjung dari luar pulau.

“Kita ingin merajut Nusantara dari Ternate. Seperti di tengah-tengah isu intoleransi, kami ingin Ternate mempunyai posisi sentral bahwa Ternate dari dulu sudah plural dan menerima segala perbedaan, keberagaman, saling percaya, dan sebagainya. Ini yang kemudian ditafsirkan dalam kegiatan Gugu Gia Si Kololi Ternate,” kata Zandry, Ketua JARKOT.

Kegiatan Gugu Gia Si Kololi tersebut tercatat sebagai Rekor MURI, tetapi tidak hanya rekor nasional. Gugu Gia Si Kololi di Ternate ini berhasil mencetak rekor dunia.

“Dalam catatan MURI, belum ada di belahan dunia mana pun masyarakat bergandengan tangan mengelilingi gunung, baru ada di Kota Ternate. Ini menunjukkan bahwa persatuan bisa dianyam dari Timur, yaitu Ternate,” kata Manajer MURI Triyono, yang berbicara setelah bendera merah-putih yang dibawa mengelilingi Gunung Gamalama itu akhirnya berkibar di dalam Benteng Oranje.

Pengumumannya ini disambut oleh sorak-sorai gembira dan tangis bahagia orang-orang yang berada di lokasi dan menyaksikan peraihan rekor dunia di Ternate ini.

Pada Sabtu (7/9) atau hari terakhir ICCF 2019, diisi oKonferenSEA, atau Rapat Anggota ICCN. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat krusial, sebab membahas masa depan forum lintas komunitas kabupaten/kota kreatif se-Indonesia yang telah berjejaring dalam ICCN, termasuk aktivitas organisasi ini di masa mendatang.

Kegiatan ini juga menjadi momentum pemilihan Ketua Umum ICCN periode 2019-2022. Dengan didasari oleh kepercayaan para pengurus serta seluruh anggota, Fiki Satari terpilih kembali menjadi Ketua Umum ICCN periode 2019-2022.

Keputusan ini disambut dengan sangat baik, dan para pengurus serta seluruh anggota jejaring pun antusias menyambut rangkaian aktivitas ICCN ke depannya.

“Di periode kepengurusan yang lalu, ICCN terfokus pada peletakan fondasi organisasi, yang kemudian diperkuat pada periode selanjutnya, sekaligus mengaktivasi program-program yang bersifat peningkatan kapasitas forum lintas komunitas di jejaring ICCN,” ungkap Fiki Satari.

“Sehingga di periode berikut ini, ICCN dapat melanjutkan ke pengujian dampak dan jejak yang dihasilkan oleh jejaring yang telah menghubungkan lebih dari 200 kabupaten dan kota di Indonesia," tambah Fiki Satari.      

Berikutnya, ICCN akan berkumpul untuk melakukan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Kabupaten Banyuwangi, lokasi yang terpilih pada saat Rapat Anggota.

Sementara itu, ICCF 2020 telah direncanakan untuk berlangsung di Bali; dan sebagai tuan rumah ICCF 2021 pun telah terpilih Provinsi Riau, tepatnya di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak.

Gubernur Riau Syamsuar telah menyatakan kesiapan Riau untuk menjadi tuan rumah ICCF 2021, juga telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan ICCN. ICCF 2019 di Ternate telah usai terlaksana dan sukses menjejakkan pengalaman rasa yang berharga dalam diri setiap orang yang terlibat dalam rangkaiannya.

Selanjutnya, akan digelar Indonesia Creative Cities Festival 2020 di Bali. (OL-09)

 

BERITA TERKAIT