10 September 2019, 16:11 WIB

Polisi Tetapkan 3 Tersangka Penyelundupan 19 Ribu Benih Lobster


Lina Herlina | Nusantara

MI/Lina Herlina
 MI/Lina Herlina
Polisi menetapkan tiga tersangka kasus penyelundupan 19 ribu benih lobster di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

SEBANYAK 19 ribu lebih benih lobster yang akan diselundupkan ke luar negeri, berhasil digagalkan petugas Aviation Security (Avsec) Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan.

Polisi pun menetapkan tiga orang sebagai tersangka dan dua lainnya dinyatakan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atas kasus penyelundupan benih lobster tersebut.

Ketiganya adalah pemilih bagasi berisi benih lobster tersebut, bernama Sumarjo, warga BTN Cipta Mandai, Kabupaten Maros, Sulsel, pemilik benih lobster itu berinisial RM dan ST yang bertugas untuk mengemas benih lobster agar aman untuk dikirim.

Dalam keterangan persnya, Selasa (10/9) Kapolda Sulsel, Irjen Hamidin menjelaskan, petugas Avsec bersama Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar (BKIPM) dan Kantor wilayah Bea Cukai Makassar, berhasil menggagalkan penyelundupan ribuan benih lobster tersebut.

"Ada ribuan baby lobsters akan dibawa ke Singapura dengan menggunakan maskapai Silk Air nomor penerbangan MI 141 rute UPG-SIN, pada Minggu 8 September kemarin," sebut Hamidin.

"Sebanyak 19.253 ekor benih lobster yang akan diselundupka ke Singapura, tapi perhasil digagalkan petugas gabungan, yang awalnya mencurigai sebuah koper besar milik penumpang setelah melewati pemeriksaan X-ray bandara. Dan setelah diperiksa manual, koper tersebut berisi 23 bungkusan benih lobster," urai Hamidin.

Dari 23 bungkus itu, terdiri atas 19.253 ekor benih lobster, masing-masing benih lobster mutiara sebanyak 13.477 ekor dan benih lobster pasir sebanyak 5.776 ekor. Dari pengungkapan itu, kerugian yang bisa diselamatkan mencapay angka Rp3.561.800.000.

"Untuk mengelabui petugas, mereka mencampur kemasan benih lobster dengan kerupuk, mie instan dan sandal jepit didalam satu buah koper bagasi," ungkap Hamidin.

Ketiganya pun dijerat Pasal 88 jo Pasal 16 ayat (1) UU RI Nomor 31 Tahun 2004, sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomoe 45 Tahun 2009, tentang perikanan jo pasal 31 ayat (1) UU RI Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.

Adapun ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara, dan denda Rp15 miliar untuk tindak pidana perikanan. Sementara terkait karantina hewan, ikan dan tumbuhan, ancaman hukuman penjara 3 tahun dengan denda paling banyak Rp150 juta. (OL-09)

BERITA TERKAIT