10 September 2019, 10:19 WIB

Siang Ini, KPK akan Umumkan Tersangka Mafia Migas


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

MI/ROMMY PUJIANTO
 MI/ROMMY PUJIANTO
Logo KPK

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (10/9) siang, akan mengumumkan tersangka terkait kasus mafia di sektor migas.   

"Setelah Presiden Jokowi membubarkan Petral (Pertamina Energy Trading Ltd) pada Mei 2015 sebagai bagian dari perang pemerintah terhadap mafia migas, KPK melakukan penyelidikan mendalam untuk menelusuri fakta-fakta hukum praktik mafia di sektor migas," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Selasa (10/9).        

Hingga saat ini, ungkap Febri, KPK telah memulai proses penyidikan terkait hal tersebut.    

"Informasi tentang perkara tersebut akan kami sampaikan pada publik siang ini di gedung KPK," ucap Febri.    

Sebelumnya, KPK menelaah hasil audit forensik terhadap Petral dalam pengadaan minyak pada 2012-2014.    

Baca juga: Capim KPK Bisa Lakukan Lobi Politik

PT Pertamina menyerahkan audit tersebut karena KPK meminta salinan hasil audit tersebut. Audit tersebut ada yang berasal dari auditor Australia dan juga audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).    

Saat itu, mantan Menteri ESDM Sudirman Said sudah mengatakan bahwa potensi pelanggaran hukum dari audit itu akan diserahkan ke aparat penegak hukum.        

Sudirman juga menjelaskan ada pihak ketiga di luar bagian manajemen Petral dan Pertamina yang ikut campur dalam proses pengadaan dan jual beli minyak mentah maupun produk bahan bakar minyak (BBM), mulai dari mengatur tender dengan harga perhitungan sendiri, menggunakan instrumen karyawan dan manajemen Petral saat melancarkan aksi.    

Akibatnya, Petral dan Pertamina tidak memperoleh harga yang optimal dan terbaik ketika melakukan pengadaan.

Pihak ketiga tersebut sangat berpengaruh dalam perdagangan minyak mentah dan BBM serta membuat pelaku usaha dalam bidang tersebut mengikuti permainan yang tidak transparan.    

Petral sudah dibubarkan sejak 13 Mei 2015 lalu. Tugas Petral digantikan PT Pertamina Integrated Supply Chain (ISC Pertamina) sehingga diskon yang sebelumnya disandera pihak ketiga sudah kembali ke pemerintah dan perdagangan lebih transparan serta bebas.    

Mafia tersebut diduga menguasai kontrak US$6 miliar per tahun atau sekitar 15% dari rata-rata impor minyak tahunan senilai US$40 miliar. (OL-2)

BERITA TERKAIT