10 September 2019, 11:30 WIB

Hutan Terjaga, Air Baku Tetap Mengalir


BB/BK/JS/PO/RF/FB/RS/MG/LD/PT/TB/AU/DG/N-2 | Nusantara

MI/ALEXANDER TAUM
 MI/ALEXANDER TAUM
Warga antre untuk mengambil air pada galian mata air di sungai yang mengering di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Sikka, NTT, kemarin.

MAMPU memelihara sumber air sebagai pasokan air baku, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Mukti, Cianjur, Jawa Barat, tidak tergoyahkan di musim kemarau. Tiga sumber mata air milik perusahaan ini masih tetap mengalir deras.

"Layanan air untuk pelanggan masih normal. Bahkan perusahaan juga mampu membantu warga yang kekurangan air bersih dengan menggunakan mobil tangki air," papar Direktur Utama Perumdam Tirta Mukti, Budi Karyawan, kemarin.

Ia menakui tiga sumber mata air milik perusahaannya justru mengalir deras saat kemarau. Ketiga sumber itu berada di Desa Cirumput dan Kampung Selakawung, Kecamatan Cugenang, serta Cilembang, Kecamatan Pacet.

Saat ini, pelanggan perusahaan ini mencapai 50 ribu sambungan. Perumdam Tirta Mukti menjaga sumber air dengan menjaga daerah tangkapan air tetap hijau.

Perlakuan serupa yang diterapkan PDAM Tirta Merapi, Klaten, Jawa Tengah, membuat debit sumber air milik mereka hanya turun sekitar 3% dari kapasitas biasanya 516 liter per detik.

"Kami punya sembilan mata air dan sejumlah sumur dalam. Penurunan debit air belum menggangu pelayanan untuk masyarakat," ungkap Direktur Utama PDAM Tirta Merapi, Irwan Margono.

PDAM ini memiliki 44 ribu pelanggan di sembilan kecamatan.

"Pasokan air masih lancar ke pelanggan," tambah Irwan.

Berbeda dengan kedua daerah itu, PDAM Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, terpaksa menghentikan suplai air untuk 4.000 dari 12.000 pelanggan, karena debit air baku berkurang drastis.

"Air baku dari Bendungan Tilong di Desa Oelnasi, Kupang Tengah, berkurang banyak. Akibatnya kualitas air juga menurun, sehingga tidak layak digunakan," ujar Pjs Direktur PDAM Kota Kupang, Romy Seran. (BB/BK/JS/PO/RF/FB/RS/MG/LD/PT/TB/AU/DG/N-2)

BERITA TERKAIT