09 September 2019, 17:00 WIB

Yudi Latif : Warisan Masa Lalu Bisa Jadi Modal Di Masa Depan


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

Dok. Mediatrust
 Dok. Mediatrust
Cendikiawan dan mantan ketua BPIP Yudi Latif 

MANTAN Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif mengatakan, bangsa Indonesia harus memanfaatkan warisan leluhur (legacy) dari masa lalu untuk menjadi ancang-ancang bagi masa depan.

Legacy penting bagi bangsa Indonesia untuk melihat masa lalu sehingga memiliki wawasan historis dan mengambil pelajaran berharga.

“Tapi bagi kebanyakan kita, kembali ke masa lalu itu diartikan sebagai kemajuan itu sendiri. Padahal, masa lalu itu sebagai inti untuk menemukan pelajaran. Dengan menengok ke masa lalu itu layaknya menengok ke spion, jalan kita tetap ke depan,” kata Yudi dalam FGD bertajuk “Implementasi Pancasila dari Masa ke Masa” yang diselenggarakan oleh Indonesiainside.id dan Mediatrust, di Jakarta, Senin (9/9).

Yudi menilai jika bangsa Indonesia mau berlari kencang dalam pembangunan, bercermin dari banyak kasus, memang dibutuhkan mundur beberapa langkah untuk berancang-ancang.

“Tapi tujuan kita kan ke depan, bukan ke masa lalu itu sendiri,” katanya.

Baca juga : Pancasila Wajib Diimplementasikan di Era Disrupsi

Dengan cara seperti itu, lanjut dia, bangsa Indonesia bisa lepas dari ‘penjara’ masa lalu.

“Maksudnya, dahulu kita ini meratapi kenyataan bahwa di Orde Baru terjadi de-Soekarnoisasi. Lalu sekarang, kita melakukan re-Soekarnoisasi. Tapi tetap hati kita terpenjara di masa lalu. Mestinya kita mampu untuk melampaui masa lalu itu. Ini yang membuat politik di Indonesia tidak bisa lepas dari masa kekanak-kanakannya tadi, masa lalu itu diulangi bukan dilampaui. Ini yang salah kaprah,” jelasnya.

Menurut Yudi, kalau dilihat masa lalu itu tidak sepenuhnya terang, tidak sepenuhnya gelap.

“Sebutlah seluruh kejelekan Orde Lama, kita masih bisa mencari aspek-aspek kebaikan dari Orde Lama, paling tidak yaitu kita pada masa berkobar-kobar keluar dari masa penjajahan, membangun integrasi nasional (national building) dimulai. Lalu kita lihat Orde Baru, ada lorong-lorong gelap Orde Baru. Tapi di balik lorong-lorong gelap itu ada capaian Orde Baru yang tidak bisa kita nafikkan. Bagaimana dari negara yang tadinya defisit, inflasi merajalela, pangan kekurangan di mana-mana, namun Orde Baru bisa menyelesaikan masalah pangan, dan lain-lain,” paparnya.

Yudi menambahkan untuk mengambil wawasan dan pelajaran berharga dari masa lalu, bangsa Indonesia sebaiknya membuat ‘pagar’ atau rambu-rambu.

“Kita lihat masa lalu mana yang tidak boleh diulangi lagi, tapi juga melihat mana legacy di masa lalu di Orde Lama dan Orde Baru yang pantas dan baik untuk dilanjutkan,” jelasnya.

Namun, dia menilai, saat ini justru terjadi pandangan yang agak menyimpang saat mempertahankan legacy buruk di masa lalu, dan justru membuang legacy baik dari masa lalu.

“Nah problem kita itu dalam sejarahnya agak menyimpang, mempertahankan masa lalu yang baik, dan mencari masa depan yang lebih baik. Ini yang perlu diluruskan,” paparnya.

Selain mengambil legacy baik dari masa lalu, Yudi memaparkan, bangsa Indonesia harus mampu merealisasikan kerangka nilai dari Pancasila.

“Bagaimana mengimplementasikan Pancasila, bukan hanya sekadar hafalan, tapi itu menjadi panduan transformasi sosial untuk menuju peradaban unggul,” pungkasnya.

Baca juga : BPIP Gandeng Kemendagri Pancasilakan Pejabat

Menurut dia, Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah diakui dan dipuji dunia. Bahkan, Pancasila bisa menjadi mercusuar ideologi dunia.

Namun, sayangnya masyarakat Indonesia belum mampu mengimplementasikan nilai-nilai luhur dalam Pancasila secara utuh dan holistik.

“Sekarang coba lihat, kalau ribut-ribut di publik itu Pancasila hanya diterapkan sampai sila ke-3 saja, kita harus saling toleran dan harus saling bersatu. Kalau hanya sampai sila ketiga, semua orang termasuk konglomerat juga mau. Tapi masuk ke sila 4 dan 5, bagaimana politik dan ekonomi dijalankan, mulai berjatuhan satu-per satu. Dan mereka yang berhenti sampai sila ke-3 itu merasa yang paling Pancasilais. Ini masalah etika,” ujar Yudi.

Yudi menilai, saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Pancasila dan bangsa Indonesia untuk memimpin peradaban ke depan. Sebab, paham komunisme dan kapitalisme tidak bisa menjawab tantangan zaman.

“Bahkan ada pemikir Jerman yang menilai sudah saatnya Pancasila menjadi mercusuar dunia ke depan,” paparnya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT