10 September 2019, 07:00 WIB

Batas Usia Perkawinan Diusulkan 19 Tahun


(Sru/H-1) | Humaniora

 ANTARA FOTO/Akbar Tado/foc/18.
  ANTARA FOTO/Akbar Tado/foc/18.
KAMPANYE PENCEGAHAN PERKAWINAN ANAK: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana S Yembise (kedua kiri) 

PEMERINTAH akan mengusulkan ikhwal batas minimal usia perka-winan yang diizinkan disamakan antara laki-laki dan perempuan, yaitu 19 tahun. Hal itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan usia anak ialah nol hingga 18 tahun.

Batas usia minimal perkawinan tersebut merupakan satu-satunya usul dari pemerintah terhadap perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan untuk dibahas bersama DPR-RI. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Susana Yembise pemerintah berharap usul tersebut bisa segera disahkan DPR pada September tahun ini sebelum anggota baru DPR dilantik.

Untuk diketahui di Undang-Undang Perkawinan Pasal 7 ayat (1) disebutkan perkawinan hanya diizinkan bila pihak laki-laki sudah mencapai usia 19 tahun dan pihak perempuan sudah mencapai usia 16 tahun. Adapun ayat (2) dan ayat (3) yang mengatur tentang pemberian dispensasi pengadilan terhadap perkawinan di bawah usia tersebut, tidak ada perubahan.

"Untuk pemberian dispensasi, Mahkamah Agung sudah menyatakan akan menerbitkan peraturan agar dispensasi tidak mudah diberikan," jelas Yohana.

Dalam pembahasan perubahan UU Perkawinan tersebut, sebelumnya Presiden Joko Widodo menerbitkan Surat Presiden pada Jumat (6/9) untuk menugaskan empat menteri yakni Menteri PPPA, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Menurut Yohana dalam perspektif pemerintah, negara harus menjamin hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta terlindung dari kekerasan dan diskriminasi, termasuk terlindung dari praktik perkawinan anak. "Perkawinan anak merupakan pelanggaran hak anak sedangkan hak anak merupakan bagian dari hak asasi manusia," tuturnya.

Dengan mengutip data Badan Pusat Statistik pada 2017, satu dari empat anak perempuan menikah pada usia anak dan setiap tahun sekitar 340 ribu anak perempuan menikah di usia anak.

Dengan menggunakan metode berbeda, data BPS 2018 menunjukkan satu dari sembilan perempuan usia 20 tahun hingga 24 tahun menikah pada usia anak. Angka tersebut terbilang tinggi dan merugikan anak. (Sru/H-1)

BERITA TERKAIT