10 September 2019, 04:00 WIB

Arief Suditomo Televisi Tetap Unggul daripada Medsos


Sri Utami | Hiburan

MI/SUSANTO
 MI/SUSANTO
Arief Suditomo kembali ke layar kaca setelah kiprahnya sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019

Arief Suditomo kembali ke layar kaca setelah kiprahnya sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019. Konsistensinya di televisi bukan tanpa alasan.

NAMA Arief Suditomo, 51, kiranya tak asing lagi di telinga pemirsa televisi Indonesia. Arief yang mengawali kariernya sebagai seorang penyiar berita itu kini didapuk sebagai Editor in Chief Metro TV per 1 September 2019.

Di era disrupsi saat ini, menurutnya, arus informasi yang begitu cepat dan mudah didapatkan menuntut berbagai media mainstream untuk dapat menyajikan informasi menjadi lebih berkualitas.

"Tantangannya adalah disrupsi ditambah lagi bagaimana media mainstream ini, khususnya televisi, meningkatkan kualitas konten untuk menghadapi disrupsi dan berubahnya pola konsumsi media," ujarnya kepada Media Indonesia, pekan lalu.

Banyak kalangan yang menyangsikan masa depan televisi setelah kelahiran media sosial (medsos). Namun, laki-laki kelahiran Jakarta, 14 Agustus 1968, itu, membantah anggapan tersebut. Ia meyakini kualitas dan validitas televisi menjadi alasan utama yang membuatnya tidak tergeser oleh media sosial.

"Keunggulan dari berita televisi adalah kualitas serta validitasnya karena industri ini dijaga oleh beberapa undang-undang," sebut alumnus University of Westminster, London, United Kingdom, itu.

Pemenang Pembawa Acara Berita Pria Terfavorit Panasonic Awards 2002 itu menyebutkan, undang-undang yang dimaksud ialah Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran. Selain itu, imbuhnya, gerak televisi juga diatur Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

"Sejauh ini, regulasi-regulasi itu tidak mengatur media sosial. Jadi (televisi) masih akan lebih hormat terhadap akurasi dan kebenaran, sedangkan media sosial tidak," tegasnya.

Menurutnya, industri televisi free to air (FTA) pasti berhadapan dengan disrupsi. Namun, setiap FTA memilki cara pengelolaan yang berbeda, termasuk berjuang untuk membuat generasi milenial tetap menjadi penonton setia berita FTA televisi.

"Yang harus diingat, berita itu konten, sinetron itu konten, salah satu cara agar berita bisa tetap diminati tidak hanya dengan menyesuaikan kontennya, tapi juga dengan menghadirkan konten tersebut di platform yang banyak digunakan anak-anak muda," tukasnya.

Menu istimewa

Kembali ke layar kaca merupakan panggilan hati untuk Arief. Berkecimpung di dunia pertelevisian bukanlah hal yang asing, terlebih jika menemukan kesulitan dalam beradaptasi.

Pengalamannya berkantor di dua stasiun televisi dan diganjar berbagai penghargaan kewartaan, membuat Arief kenyang dengan seluk-beluk pemberitaan televisi. "Saya sudah puluhan tahun bekerja di dua stasiun televisi, hampir 22 tahun lamanya," ujar Sarjana Hukum Universitas Padjadjaran Bandung (1987-1992) itu.

Meski begitu, sebagai Editor in Chief Metro TV saat ini, Arief merasakan satu hal yang belum pernah ditemuinya di tempat lain. Walaupun kecil, hal itu membuatnya sangat gembira dan merasa istimewa.

"Hanya ada satu yang membuat saya sangat senang dan merasa istimewa, yakni catering services untuk semua pegawai secara gratis," imbuhnya.

Menurutnya, menu yang disajikan juga tidak asal-asalan dan dikerjakan serius dengan memperhatikan aspek kesehatan, higienitas, dan cita rasa. Dia menilai kebijakan tersebut bentuk perhatian dan kewajiban perusahaan terhadap semua karyawannya. "Benar-benar luar biasa," tandasnya. (H-2)

BERITA TERKAIT