10 September 2019, 00:15 WIB

Para Pemberani di Garis Depan Hong Kong


Haufan Hasyim Salengke/AFP/X-11 | Internasional

AFP
 AFP
Pelajar berkacamata itu merupakan salah satu dari apa yang oleh para pengunjuk rasa Hong Kong dijuluki 'para pemberani'. 

RYAN, 19, memulai hari itu dengan berpura-pura kepada orangtuanya akan pergi bermain sepak bola. Namun, dalam perjalanan, ia bergabung dengan aktivis prodemokrasi Hong Kong. Akibatnya, peluru karet pun bersarang di kakinya seusai bentrok dengan polisi.

Pelajar berkacamata itu merupakan salah satu dari apa yang oleh para pengunjuk rasa Hong Kong dijuluki 'para pemberani'. Mereka berada di garis depan, berhadapan langsung dengan tameng, pentungan, dan peluru karet polisi.

Awalnya, ia bertugas sebagai petugas medis. Ryan mengaku dirinya menjadi semakin berani dan radikal setelah polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet terhadap para demonstran di luar parlemen Hong Kong pada 12 Juni.

Dia mengatakan tidak menyesal tentang beralih ke kekerasan. Pasalnya, kata dia, para pemimpin Hong Kong yang pro-Beijing telah menghabiskan bertahun-tahun mengabaikan aksi prodemokrasi yang damai.

"Ketika saya melihat begitu banyak teman yang terluka dan dipukuli polisi, saya berpikir sudah waktunya melakukan sesuatu," tegas Ryan.

Berbagi tugas

Menurut Ryan, dirinya kini berperan sebagai charge boy atau yang langsung berkelahi dengan polisi. Tugas lainnya ialah membuat barikade di jalan. Pengunjuk rasa yang melempar bom bensin dikenal sebagai 'penyihir', sedangkan tim yang memadamkan tabung gas air mata yang ditembakkan oleh polisi dijuluki 'pemadam kebakaran'.

Dia tidak akan pernah memberi tahu orangtuanya bahwa dia telah bergabung dengan para pengunjuk rasa. Alasannya, ayahnya termasuk 'pita biru', julukan bagi pendukung setia polisi Hong Kong dan pro-Beijing.

Kehidupannya kini juga berisiko. Sejak awal Juni, lebih dari 1.100 pengunjuk rasa telah ditangkap dengan dakwaan kerusuhan yang membuat mereka berisiko mendapat hukuman 10 tahun penjara.

"Saya sudah bersiap-siap untuk ditangkap," kata Ryan, seraya menambahkan dia telah memberikan nomor teleponnya kepada sejumlah teman dekat. "Jika saya masuk tahanan, mereka akan mengirim bantuan hukum," jelasnya.

Malam itu, Ryan bersama kawan-kawannya pun bentrok dengan polisi di dekat kawasan pertokoan mewah Causeway Bay. Ia akhirnya tertembak peluru karet di paha.

Menjerit kesakitan, Ryan terjatuh dan segera dibawa pergi oleh demonstran lainnya. Meski lukanya tidak terlalu serius, malam itu ia pun memutuskan pulang. "Jangan sampai ibu saya tahu soal ini," ujar Ryan sambil tertawa. (Haufan Hasyim Salengke/AFP/X-11)

BERITA TERKAIT