09 September 2019, 21:08 WIB

10.388 Ton Kemasan Karton Bekas Minuman dan Makanan Didaur Ulang


mediaindonesia.com | Humaniora

Istimewa/Tetra
 Istimewa/Tetra
Tetra Pak Indonesia mengumumkan komitmennya untuk menerapkan prinsip circular economy.

KEMASAN karton yang bagian dari kemasan produk makanan dan minuman telah menghasilkan tumpukan sampah yang ribuan ton di Indonesia. Setiap hari sampah kemasan karton terus bertambah.

Tumpukan sampah terus menggunung telah menjadi persoalan yang serius. Namun baru sedikit perusahaan yang serius dalam turut mengatasi tumpukan sampah kemasan karton di Indonesia dengan daur ulang.

Daur ulang merupakan proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah, mengurangi penggunaan bahan baku baru, polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca. Dari sedikit perusahaan yang terlibat mengatasi sampah dengan daur ulang adalah Tetra Pak Indonesia .

Sesuai dengan Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Tetra Pak Indonesia, perusahaan pemrosesan dan pengemasan makanan dan minuman, mengumumkan komitmennya untuk menerapkan prinsip circular economy yang sejalan dengan ambisi perusahaan hingga 2020. Tak hanya itu, tingkat daur ulangnya bisa mencapai 24% pada 2020.

Pada 2018, Tetra Pak Indonesia bersama mitra pendaur telah mendaur ulang lebih dari 10.388 ton kemasan karton bekas minuman. Tidak hanya mengurangi dampak terhadap lingkungan, komitmen ini juga memberikan nilai ekonomis bagi para mitra usaha daur ulang.

Michael Wu, Managing Director Tetra Pak Malaysia, Singapore, Philippines, & Indonesia menjelaskan,”Aspek keberlanjutan selalu menjadi inti dalam komitmen kami untuk melindungi makanan, masyarakat, dan masa depan.”

“Kami secara berkelanjutan bekerja untuk mencapai dampak lingkungan minimum di seluruh rantai pasokan.  Kami memahami pentingnya kolaborasi jangka panjang dengan mitra-mitra kami seperti pengumpul sampah, pendaur ulang, pelanggan, pemerintah, komunitas, dan para pemangku kepentingan lainnya untuk menyukseskan ambisi kami dalam low carbon circular economy,” paparnya di Jakarta, Senin (8/9).

 Sejak 2005, Tetra Pak Indonesia telah secara bersama mengembangkan infrastruktur pengumpulan yang diinisiasi bersama Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK).  Pada 2015, perusahaan berhasil menjalin kerja sama dengan tiga mitra pengumpul di tiga provinsi dan dua mitra pendaur, dengan tingkat daur ulang sebesar 7,5% (2.885 ton).

Pada 2018, perusahaan bersama mitra pendaur telah menambah nilai investasi untuk peningkatan kapasitas hingga 1.500 ton per bulan dan mencapai tingkat daur ulang sebesar 21,2% atau 10.338 ton sekaligus meningkatkan fasilitas pemilahan mitra pengumpul.

“Pada 2019, perusahaan berhasil menambah mitra pengumpul baru dan total telah ada lima mitra pengumpul yang bertanggung jawab untuk wilayah Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jabodetabek, sehingga kenaikan tingkat daur ulang diharapkan mencapai 22,5%” kata Michale Wu.

Wisnu Wiguna, pemilik Leo Graha Sukses Primatama, perusahaan yang telah bermitra dengan Tetra Pak selama lebih dari 10 tahun, dengan fokus bidang usaha pada daur ulang kertas ini, memaparkan,“Kami membutuhkah kualitas serat panjang dari kemasan karton bekas minuman ini dan materi polimer aluminium dalam kemasan karton minuman.”

Menurut Wisnu, kemasan makanan dan minuman Tetra Pak yang berfungsi untuk memastikan aspek keamanan pangan ternyata dapat didaur ulang serta menghasilkan produk atap gelombang yang berkualitas.  (OL-09)

BERITA TERKAIT