09 September 2019, 19:40 WIB

Industri Tekstil Indonesia Loyo Bikin Investor Kabur


Atalya Puspa | Ekonomi

 ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama.
  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama.
INDUSTRI TEKTIL TERTEKAN AKIBAT IMPOR

KETUA Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pertekstilan Indonesia Maniwanen menyatakan gencarnya impor pada industri tekstil di Indonesia mengakibatkan investor enggan berinvestasi di Indonesia.

Pasalnya, bahan baku industri tekstil yang mengandalkan impor menjadikan lead time industri tekstil di Indonesia menjadi tidak efisien.

Baca juga: Kemendag bakal Pidanakan Importir Nakal

"Kita mempunyai lead time yang cukup panjang karena kebanyakan industri kita impor. Pembuatan produk garmen itu misalnya memakan waktu 120 hari. Tapi dengan adanya fast fashion sebenarnya bisa dipangkas jadi 60 hari kalau kita tidak impor. Untuk itu kita harus punya industri dalam negeri," tutur Maniwenan di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Senin (9/9).

Panjangnya lead time pada industri tekstil di Indonesia, kata Maniwenan, membuat investor beralih ke negara-negara lain seperti Vietnam.

"Perusahaan-perusahaan larinya ke Vietnam. Karena iklim kita kurang menarik. Dari sisi regulasi sulit, hingga bahan baku yang harganya tidak murah," katanya.

Dirinya menambahkan, seretnya investasi menyebabkan pertumbuhan industri tekstil di Indonesia kalah tertinggal dengan negara lain.

Dirinya memberikan contoh, pada 2005 ekspor industri tekstil Vietnam dan Bangladesh jauh berada di bawah Indonesia. Melihat data saat ini, pada 2018 ekspor pada industri tekstil di Indonesia berada di angka US$13,2 miliar, sementara Vietnam dan Bangladesh jauh melampaui ke angka US$48 miliar.

Untuk itu, dirinya berharap, para pemangku kepentingan segera membenahi industri tekstil di Indonesia yang kini telah terperosok begitu dalam.

"Semua penganbil keputusan harus berani membuka diri, membuka cost supaya impor kita less dan ekspor kita more," tutupnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT