09 September 2019, 17:51 WIB

Indonesia-Korsel Ingin Percepat Kesepakatan Kerja Sama Ekonomi


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA/RENO ESNIR
 ANTARA/RENO ESNIR
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kanan),  berjalan menuju ruang rapat koordinasi di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (4/9/2019).

INDONESIA  dan Korea Selatan sepakat untuk menyelesaikan perundingan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) pada Oktober mendatang.

Kesepakatan tersebut dicapai setelah Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan Korsel Yoo Myung-Hee bertemu di sela-sela Asean Economic Ministers' Meeting ke-51 di Bangkok, Thailand pada Senin (9/9).

"Untuk perundingan IK-CEPA, kami sepakat harus selesai pada 2019. Bahkan, kami berupaya secara substansi sudah selesai Oktober," ujar Enggartiasto dalam keterangan resminya, Senin (9/9).

Ia mengatakan kedua negara sama-sama sangat menginginkan adanya peningkatan kerja sama ekonomi di masa mendatang.

Bagi Indonesia, IK- CEPA akan menjadi payung perjanjian yang akan memuluskan rencana keberlanjutan investasi dua industri raksasa Korsel yakni perusahaan kimia Lotte Group dan perusahaan otomotif Hyundai.

Sebaliknya, 'negeri Ginseng' menginginkan akses pasar yang lebih besar ke Indonesia, mengingat mereka tengah terganjal sengketa perdagangan dengan Jepang yang selama ini menjadi salah satu mitra dagang utama.

Baca juga: UKM Korea dan Perusahaan Indonesia Perkuat Kerja Sama

Perundingan IK-CEPA sedianya sudah diinisiasi sejak Oktober 2011 silam. Selama periode 2012-2014, perundingan berlangsung hingga putaran ketujuh namun kemudian terhenti selama 5 tahun.

Pada 19 Februari lalu, kedua negara sepakat mengaktivasi kembali perundingan IK-CEPA melalui penandatanganan pernyataan bersama Menteri Perdagangan kedua negara.

Negeri Ginseng merupakan negara tujuan ekspor terbesar ketujuh bagi Indonesia.

Pada 2018, total perdagangan kedua negara mencapai US$18,6 miliar. Ekspor Indonesia ke Korsel tercatat sebesar US$9,53 miliar. Sementara impor Indonesia dari negara itu US$9,08 miliar. Dengan nilai tersebut Indonesia menikmati surplus sebesar US$443,6 juta.

IK-CEPA menjadi salah satu dari tiga perjanjian dagang yang ditargetkan rampung sebelum pergantian tahun. Dua perjanjian dagang lain adalah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Indonesia-Taiwan Preferential Trade Agreement (PTA).  (Pra/A-3)

BERITA TERKAIT