07 September 2019, 15:55 WIB

Menggalang Dana untuk Satwa


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/Sumaryanto Bronto
 MI/Sumaryanto Bronto
Pelangi Saichu dan Violita Berandhini

SELANJUTNYA, ada kisah pasangan suami istri, Pelangi Saichu dan Violita Berandhini. Mereka menempuh perjalanan darat dari Yogyakarta, Pulau Alor, hingga kembali lagi Yogyakarta dengan mengendarai mobil Volkswagen (VW) buatan Jerman 1973. Pelangi yang merupakan fisikawan berkebangsaan Jerman, memiliki cita-cita untuk membantu pengembangan listrik di daerah yang tidak terjangkau, sedangkan Vio, warga negara Indonesia yang merupakan pengacara, juga menjadi relawan di salah satu lembaga yang peduli terhadap perubahan iklim.

Pada kesempatan ini, mereka melakukan perjalanan pulang pergi ke Pulau Alor untuk menggalang dana sambil memberi manfaat bagi satwa maupun masyarakat, di berbagai tempat yang mereka kunjungi. Perihal galang dana untuk satwa, Pelangi dan Vio juga bekerja sama dengan salah satu laman donasi di Indonesia, yaitu kitabisa.com.

Setiap kilometer (km) yang ditempuh, akan dikalikan Pelangi dan Vio dengan uang sebesar Rp10 ribu. Setelah menempuh perjalanan sejauh 11.000 km mereka berhasil menggalang dana sebesar Rp110 juta. Dana yang terkumpul semuanya akan mereka serahkan kepada Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Animal Friends Jogja (AFJ) yang merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang penyelamatan satwa di Indonesia.

Setibanya di salah satu daerah di Sumba Timur, Pelangi dan Vio juga
sempat mengadakan pemutaran film. Bersama masyarakat, khususnya anak-anak sekolah di sana, Pelangi dan Vio berbagi pengalaman dan pengetahuan baru tentang kehidupan satwa sekligus potensi energi terbarukan. Mobil VW yang mereka kendarai juga dimanfaatkan sebagai media edukasi karena telah dimodi? kasi sebagai rumah dan dilengkapi dengan panel surya.

“Kami selalu menunggu inspirasiinspirasi berikutnya. Supaya tidak hanya berhenti sampai di sini, dan sungguh-sungguh anak-anak Sumba Timur yang dititip di lembaga kami bisa mendapatkan ilmu yang faktual,” tutur Kepala Sekolah SMA Waingapu, Sumba Timur, Putu Gede.

Perjalanan Pelangi dan Vio saat ini masih berlangsung. Selama perjalanan, mereka juga membagikan ceritanya melalui laman online, media sosial, dan kitabisa.com. Melalui perjalanan tersebut, Pelangi dan Vio berharap dapat mengisnpirasi semua orang yang hendak bepergian. Dari perjalanan itu pula, mereka mendapat sambutan baik dan dukungan dari sejumlah teman, khususnya dari  Program Manager AFJ, Angelina Pane.

“Kita selalu berharap bahwa alam semesta selalu memudahkan perjalanan kalian. Semoga apa yang kalian cita-citakan melalui perjalanan ini akan berhasil dan terima kasih banyak untuk ketulusan kalian dalam membantu satwa,” tuturnya.

Ide perjalanan tersebut pada mulanya diperoleh dari Vio. Ia sebelumnya kerap melihat orang-orang yang kerap melakukan perjalanan untuk melakukan donasi, mulai pelari hingga pesepeda yang menempuh perjalanan dari Belanda ke Indonesia dengan misi serupa. Sementara itu, ide menempuh perjalanan menggunakan mobil VW dipikirkan Pelangi. Ia enggan menempuh perjalanan menggunakan kapal atau pesawat karena dengan menggunakan mobil ia bisa ber interaksi langsung dengan keragaman yang ada di Indonesia.

“Dengan suku-sukunya, dengan bahasanya, dengan manusia yang kita jumpai sepanjang perjalanan itu cantik sekali. Kasihan kalau kita hanya numpang lewat pakai bus atau pesawat begitu saja. Tidak kelihatan sama sekali,” tutur Pelangi.

Dalam perjalanan, Vio dan Pelangi bahkan rela menerima tamu yang ingin bermalam bersamanya di pinggir jalan. Namun demikian, mereka tidak dapat menyediakan ruangan di dalam mobil, tetapi mengajak mereka untuk bermalam di tenda yang dilengkapi berbagai peralatan kemah lainnya. (M-4)

BERITA TERKAIT