07 September 2019, 15:25 WIB

Bioskop untuk Anak-Anak


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/Sumaryanto Bronto
 MI/Sumaryanto Bronto
Rifqi Mansur dan Hndra Setya Rini

PASANGAN Rifqi Mansur atau yang akrab disapa Kiki, dan Hindra Setya Rini atau yang akrab disapa Hindra merupakan pasangan yang menginisiasi program bioskop kecil (Bioscil). Mereka memulai Bioscil sejak 2012 dan rutin menggelar pemutaran film pendek yang dikhususkan untuk anak-anak usia sekolah dasar. Bekerja sama dengan pembuat film indie, Kiki dan Hindra masuk dari satu sekolah ke sekolah lain, bahkan hingga ke pelosok desa. Mereka mengantarkan film anak berkualitas, langsung kepada anak-anak yang dijumpainya.

“Hampir seluruh Kabupaten di Yogyakarta pernah kita kunjungi. Mulai Gunungkidul, lalu Sleman, pokoknya dari lima Kabupaten yang ada di Yogyakarta kita pernah ke sana. Terutama yang ada di pelosok karena sejak awal niatnya  ingin memberikan akses atau tontonan bagi anak-anak yang jauh dari bioskop,” tutur Hindra.

Setiap acara pemutaran film, Kiki dan Hindra juga mengajak anak-anak untuk menangkap pesan moral yang disampaikan melalui karya audiovisual. Setelah pemutaran, anak-anak akan kembali menceritakan apa yang mereka tangkap, dan dengan cara inilah, anak-anak tersebut diharapkan dapat memiliki kebiasaan untuk bercerita. Anak-anak juga diharapkan dapat lebih percaya diri dan tumbuh sebagai pribadi yang memiliki karakter sekaligus mudah berbagi.

“Yang paling kelihatan dampaknya itu begitu selesai nonton, anak-anak yang sebelumnya tidak mau berbicara, sekarang sudah berani berbicara, mereka sudah berani mengutarakan pendapat. Dari kebiasaan diajak diskusi dengan film, sekarang berpengaruh pada proses pembelajaran. Sekarang kita bisa bicara langsung, bisa komunikaitf,” tutur Guru SDN  Lempuyangan 1 Yogyakarta, Anggar Ratman.

Anggar juga menjelaskan metode menarik Bioscil dalam mengajak anak-anak untuk menonton bioskop. Biasanya, ketika berkunjung ke suatu sekolah atau tempat, Bioscil akan membuka loket pembelian tiket layaknya bioskop pada umumnya. Anak-anak yang hendak menonton, kemudian disuruh untuk membeli tiket tetapi dengan harga sukarela.

“Tapi di situ kita juga sampaikan kalau uangnya nanti akan digunakan teman-teman kalian di desa lain yang pelosok supaya mereka juga bisa ikut menonton bioskop, jadi mereka juga paham dari situ,” imbuh Anggar.

Selain itu, hasil penjualan tiket atau donasi tersebut juga dipakai untuk memberikan apresiasi kepada pembuat film. Dari metode tersebut, diharapkan pula munculnya rasa kepedulian anak-anak yang satu dengan anak-anak yang lainnya.

Hindra mengatakan ide untuk membuat Bioscil mulai didapat ketika ia memproduksi film pendek pertamanya. Kala itu, ia juga menghadiri sejumlah festival film yang di dalamnya banyak film anak-anak. Dari pengalaman itulah, ia bersama Kiki kemudian mulai memantapkan gagasan agar dapat mempertemukan film anak-anak di festival dengan penontonnya yang juga anak-anak.

Kiki menambahkah, dewasa ini daftar putar film di Bioscil didapat dari karya sejumlah pembuat film di Yogyakarta. Seluruhnya memiliki segmentasi anak-anak usia SD, dari film itu diharapkan anak-anak juga dapat mengkritisi, atau curahan hati tentang kesehariaannya. Meski tak memiliki proyektor dan pengeras suara, hingga saat ini mereka tetap menjalankannya dengan semangat dan demi tontonan berkualitas untuk anak-anak. (M-4)

 

BERITA TERKAIT