09 September 2019, 14:00 WIB

24 Sekolah Dapat Pendidikan Pengembangan Kapasitas Guru


Gana Buana | Humaniora

Nama Foundation
 Nama Foundation
74 orang perwakilan dari 24 sekolah di wilayah Jabodetabek, mengikuti pelatihan ROOTs di Kantor NAMA Foundation untuk Jabodetabek.

SEBANYAK 24 sekolah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mendapatkan pelatihan peningkatan kapasitas guru dan pengelola sekolah.

Program itu melibatkan sedikitnya 74 perwakilan guru yang telah diseleksi oleh NICE Indonesia dan NAMA Foundation di Malaysia.

Salah satu Associate Consultant program Roadmap of Outstanding Educators (ROOTs) Ihsan Robbiyanto menyampaikan dinamika pendidikan abad 21 menuntut transformasi dari tiap pendidik.

Sebab, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan peserta didik, ada korelasi kuat dengan kualitas guru sebagai pendidik.

“Program ROOTs ini diselenggarakan dengan mengedepankan upaya transformasi paradigma di kalangan pendidik, yakni dari pendidikan yang berfokus pada penyampaian materi ajar (content centric) menuju pendidikan yang berfokus pada peserta didik (learner centric),” ungkap Ihsan, Senin (9/9).

Ihsan menyampaikan, dalam program ROOTs yang diadakan selama empat hari sejak Kamis (5/9) hingga Minggu (8/9) kemarin, didapati banyak guru yang lebih mengutamakan penyelesaian target materi. Sedangkan, mereka cenderung mengabaikan kualitas pemahaman peserta didik.

Baca juga: Bekal Calistung saja tidak Cukup

“Kalau learner centric berfokus pada bagaimana pada akhirnya setiap anak mampu mencapai hasil belajar yang kita canangkan,” kata dia.

Dalam pelaksanaanya, kata dia, peserta dibagi dalam tiga kelas yang masing-masing dibimbing empat pelatih tersertifikasi (ROOTs’ Associate Consultants).

Pelatihan ini memperkenalkan konsep FIRST Edu Framework, yang terdiri dari lima domain kunci. Adapun, kelima domain kunci tersebut adalah Focusing, Interacting, Reviewing, Sequencing, dan Transforming.

Ihsan menjelaskan, FIRST Edu Framework menekankan pada upaya menghadirkan pengalaman Active Deep Learner Experience (ADLX).

Dalam hal guru menargetkan perubahan pada peserta didik dalam aspek sikap (attitude), keterampilan (skill), pengetahuan dan pemahaman (knowledge).

“Materi seputar lima domain kunci ini disampaikan dalam iklim yang menyenangkan. Suasana kelas dihidupkan antara lain melalui opening dan educational games, diskusi kelompok, presentasi, sharing session, refleksi proses belajar, simulasi perancangan program pendidikan, dan lain sebagainya. Seluruh peserta didorong untuk aktif terlibat dalam tiap kegiatan yang dilaksanakan,” jelas dia.

Ihsan berharap, pengenalan FIRST Edu Framework pada guru diharapkan dapat mengubah paradigma guru tradisional menuju guru yang bersifat transformasional. Sifat transformasional yang dimaksud merujuk pada kapasitas guru sebagai agen perubah dalam pendidikan yang memiliki pola pikir terbuka dan maju.

“Seluruh peserta pelatihan sangat antusias mengikuti kegiatan,” imbuh dia.

Salah seorang peserta ROOTs edu, Hayati Nufus menilai pelatihan tersebut memang mendongkrak sempitnya pemikiran guru terhadap siswa. Hal ini dilakukan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

“Pelatihan ini mendongkrak sempitnya pemikiran saya terhadap siswa. Materinya disampaikan dengan santai, walau awalnya saya sedikit tegang," ungkap Hayati perwakilan dari Darul Quran Mulia.

Hayati, mengaku, saat ini, dirinya makin ingin menerapkan pengetahuan barunya dalam sistem.

“Ilmunya interaktif dan bisa diterapkan di sekolah. Banyak pengetahuan baru terkait energizer untuk menumbuhkan motivasi anak dalam belajar,” tandas dia. (OL-2)

BERITA TERKAIT