09 September 2019, 11:10 WIB

PDAM Kehilangan Sumber Air Baku


Media Indonesia | Nusantara

MI/Benny Bastiandy
 MI/Benny Bastiandy
Warga di Desa/Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bergiliran mendapatkan pasokan air bersih.

DAMPAK kemarau membuat sejumlah perusahaan daerah air minum kedodoran dalam melayani warga. Di Kota Cimahi, Jawa Barat, Perumda Air Minum Tirta Raharja kesulitan mendapatkan air baku.

"Debit air dari Sungai Cijangel yang selama ini menjadi sumber air baku hanya menghasilkan 45 liter per detik dari kondisi normal 166 liter per detik. Kami sudah tidak bisa melayani kebutuhan air bersih di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, dua bulan terakhir," aku Manajer Junior Humas Tirta Raharja, Sri Hartati, kemarin.

Perusahaan ini melayani 100 ribu rumah di Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. "Cimahi menjadi daerah yang paling terdampak dan sulit pasokan air bersih," tambahnya.

Pelanggan PDAM di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, juga terancam tidak mendapat pasokan air bersih karena sumber air baku dari Waduk Sempor terus menurun. "Dari volume maksimal 46 juta meter kubik, yang tersisa hanya 1,3 juta meter kubik. Sisa volume ini hanya bisa digunakan sebagai air baku PDAM karena untuk pasokan ke sawah seluas 6.000 hektare sudah dihentikan," ujar Darmaji, pengelola waduk.

Penggiliran distribusi air bersih terpaksa juga dilakukan PDAM Tirta Sukapura, Tasikmalaya, Jawa Barat. "Debit air dari sembilan sumber yang kami gunakan untuk air baku terus menurun hingga 20%," ungkap Didin Sahidin, Direktur Teknik Tirta Sukapura.

Kondisi serupa juga dialami PDAM Belitung Timur. Satu dari tiga kolam sumber air baru mengering.

Dari Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Remigius Boli Lewat menyatakan lima kecamatan di wilayahnya terancam rawan pangan ringan hingga berat. Ketersediaan beras saat ini hanya mencapai 6.686 ton.

"Jika kemarau terus berkepanjangan, kami membutuhkan pasokan pangan dari daerah lain. Saat ini sudah 70% sawah di Flores Timur tidak bisa ditanami karena kekeringan," tandasnya.

Kebakaran lahan juga memberatkan beban sejumlah daerah di musim kemarau. Di Sumatra Selatan, misalnya, kebakaran terus meluas. Dua kabupaten, yakni Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir harus bekerja keras memadamkan api.

"Ada 66 titik panas di Sumatra Selatan. Pemadaman harus dilakukan dari darat dan udara," sebut Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori. (DG/LD/AD/RF/FB/DW/RD/YK/PS/YH/JL/PT/JS/JI/N-2)

BERITA TERKAIT