09 September 2019, 05:20 WIB

Bekal Calistung saja tidak Cukup


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
 ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memberikan sambutan saat menghadiri peringatan Hari Aksara Internasional 2019 

INDONESIA dinilai berhasil dalam pemberantasan buta aksara. Tahun ini penyandang buta aksara kurang dari 2%. Namun, kemampuan baca, tulis, dan berhitung (calistung) dinilai tidak cukup sebagai bekal hidup masyarakat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan hal itu di kesempatan peringatan Hari Aksara Internasional di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/9).

"Calistung saja saat ini tidak cukup untuk menghadapi tantangan pada masa depan. Ada keterampilan lain yang harus dikuasai," ujar Mendikbud.

Kemampuan lain yang dimaksud ialah menguasai li-terasi digital, literasi keuangan, literasi sains, literasi kewarganegaraan dan kebudayaan.

Muhadjir menjelaskan Indonesia mengalami kemajuan yang luar biasa pada penuntasan buta aksara. Pada awal kemerdekaan hanya sedikit yang bisa calistung, dan kini kondisinya sudah berbalik. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS 2018, jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 3,29 juta orang, atau hanya 1,93% dari total populasi penduduk.

Mendikbud menambahkan semangat memberantas buta aksara telah dinyalakan Presiden Soekarno, yang mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bahu-membahu memberantas buta aksara.

Selain itu, menurut Muhadjir, kini tantangan masa depan semakin berat. Selain keterampilan membaca dan menulis, ada lima literasi dasar lain yang mesti dikuasai, yaitu literasi numerasi, digital, finansial, sains, serta literasi budaya dan kewargaan.

"Gerakan Pemberantasan Buta Aksara di seluruh dunia mungkin akan segera bergeser menjadi gerakan penguasaan enam literasi dasar tersebut," ujar Muhadjir.

Meski dinilai berhasil memberantas buta aksara, pemerhati pendidikan Maman Suherman menyebut masih ada pekerjaan rumah bagi pemerintah maupun masyarakat perihal cukup tingginya angka functional illiterate, yakni sese-orang yang mampu membaca tapi tidak dapat memahami ataupun menerapkan apa yang dibacanya.

Karena itu, menurut Maman, perlu diadakan gerakan keli-terasian, terutama yang berbasis masyarakat atau yang diinisiasi masyarakat, misalnya taman bacaan.

"Kalau bisa gerakan-gerakan literasi, gerakan-gerakan menyadarkan masyarakat untuk memberdayakan satu sama lain juga tumbuh kuat. Jadi betul-betul para penggiat li-terasi untuk terus mengajak orang berliterasi, jangan cuma baca tulis," ujarnya.

Masih tinggi

Pada kesempatan itu, Mendikbud Muhadjir Effendy juga mengakui bahwa angka buta aksara di wilayah provinsi yang ada di Indonesia Timur masih tinggi dan pemberantasan pada segmen populasi ini akan sangat sulit. Namun, dikatakannya, hal itu akan tetap menjadi pekerjaan Kemendikbud.

"Profilnya sudah makin jelas, yaitu mayoritas berada di Indonesia bagian timur, tinggalnya di perdesaan dan di kantong-kantong kemiskinan, umumnya perempuan dan umurnya di atas 45 tahun," ujar Muhadjir.

Data BPS pada 2018, masih ada enam provinsi dengan angka buta aksara lebih dari 4% , yaitu Papua (22,88%), Nusa Tenggara Barat (7,51% ), Nusa Tenggara Timur (5,24% ), Sulawesi Barat (4,64%), Sulawesi Selatan (4,63%), dan Kalimantan Barat (4,21%).

"Jika kita mampu membebaskan diri dari buta aksara secara keseluruhan, kita bisa berharap kualitas sumber daya manusia di seluruh Indonesia akan semakin meningkat," pungkasnya.(H-1)

BERITA TERKAIT