08 September 2019, 23:10 WIB

Harapan Damai AS-Taliban Pudar


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Presiden Amerika Serikat Donal Trump

HARAPAN agar perang yang sudah berlangsung 18 tahun di Afghanistan berakhir kini memudar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana perundingan dengan kelompok Taliban serta pemerintah Afghanistan yang semula akan diadakan di Camp David, AS, pekan ini.

Trump dalam kicauannya di Twitter mengatakan dia awalnya dijadwalkan bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan para pemimpin senior Taliban. Namun, dalam serangkaian cicitannya Sabtu (7/9) malam, Trump membatalkan rencana itu karena terjadi bom mobil di Kabul yang menewaskan 12 orang, termasuk seorang prajurit AS, pada Kamis (5/9).

"Jika Taliban tidak dapat menyetujui gencatan senjata selama pembicaraan damai yang sangat penting ini, dan bahkan membunuh 12 orang yang tidak bersalah, maka mereka mungkin tidak memiliki kemauan untuk merundingkan perjanjian yang berarti," ujar Trump.

Kicauan Trump mengakhiri hampir setahun perundingan melelahkan yang mengecualikan pemerintah Afghanistan di Kabul, yang oleh Taliban dianggap sebagai boneka AS.

Kantor Presiden Ghani--yang akan bertemu secara terpisah dengan Trump di Camp David, menurut presiden AS--mengatakan perdamaian nyata hanya akan mungkin terjadi ketika Taliban setuju untuk gencatan senjata dan pembicaraan langsung dengan pemerintah Afghanistan.

Kantor Ghani merilis pernyataan itu sebagai tanggapan atas pembatalan pembicaraan damai Trump.

"Kedamaian sejati akan datang ketika Taliban menyetujui gencatan senjata," kata pernyataan itu.

Kantor Ghani mengatakan pihak mereka berkomitmen untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu demi 'perdamaian yang bermartabat dan tahan lama', juga menekankan pentingnya penyelenggaraan pemilihan presiden bulan ini.

Sementara itu, sebuah sumber dari kantor politik Taliban di Doha, Qatar, mengatakan kepada BBC, bahwa kelompok itu akan mengadakan 'pertemuan internal yang mendesak' untuk membahas keputusan Trump.

Di lain pihak, pengamat politik AS mempertanyakan keputusan Trump yang berubah drastis tersebut.

"Taliban sebelumnya sudah berkali-kali lakukan serangan, tapi mengapa hanya satu serangan itu yang dijadikan alasan untuk batalkan perundingan?" ungkap Laurel Miller, mantan utusan khusus AS untuk Afghanistan.

 

Penarikan pasukan

Negosiasi untuk mencapai kesepakatan damai telah berlangsung berbulan-bulan antara diplomat AS dan Taliban yang telah menolak seruan untuk gencatan senjata.

Sebagai bagian dari kesepakatan yang diusulkan, AS akan menarik 5.400 tentara dari total 13 ribu yang ada di lima markas di Afghanistan dalam waktu 20 minggu sebagai imbalan atas jaminan Taliban bahwa Afghanistan tidak akan pernah lagi digunakan sebagai pangkalan untuk terorisme.

Namun, Taliban tidak pernah setuju untuk mengakhiri kampanye kekerasan mereka terhadap pasukan Afghanistan dan pasukan asing ketika pembicaraan damai berlangsung. Enam belas tentara AS tewas tahun ini.

Pasukan AS menginvasi Afghanistan dan menggulingkan Taliban di musim gugur 2001 karena para milisi Taliban telah memberi tempat yang aman bagi jaringan Al-Qaeda untuk merencanakan serang-an terhadap AS pada 11 September 2001. (AFP/VOA/X-11)

BERITA TERKAIT