08 September 2019, 17:15 WIB

Dusun Sirap, Naik Kelas dengan Desa Wisata


Heryadi | Nusantara

MI/Heryadi
 MI/Heryadi
Desa Sirap

DUSUN Sirap, Dusun berhawa sejuk di lereng Pegunungan Kelir, Semarang, Jawa Tengah, dalam dua tahun terakhir mulai berubah. Dusun itu mulai ramai dikunjungi wisatawan.

Perubahan itu mulai terjadi sejak berdirinya Desa Wisata Doesoen Kopi Sirap di sana. Sejak itu, penduduk setempat yang mayoritas menanam kopi tidak lagi hanya mengandalkan kopi sebagai mata pencaharian.

Mereka bisa menjual tanaman palawija dan kopi mereka kepada pengunjung dusun itu. Bahkan rumah mereka juga kini bisa menghasilkan uang dengan menjadi penginapan bagi para pengunjung.

Manajer Desa Wisata Doesoen Kopi Sirap Annisa mengatakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut mencapai 100 orang per bulan. Selain wisatawan lokal, pengunjung juga dari mancanegara.

"Pengunjung ada juga yang datang dari Tiongkok, Korea, dan Jepang,' tuturnya di sela-sela peresmian desa wisata Doesoen Kopi Sirap, Minggu (8/9).

Baca juga: Sejarawan Djoko Surjo: Sultan Demak Bukan Keturunan Yahudi

Dia mengatakan awalnya yang ada di dusun itu hanya kedai kopi.

"Mulanya kami membuka kedai kopi pada 2017, '' ujar Annisa.

Seiring waktu, kedai kopi di tengah perkebunan kopi itu mulai ramai. Setelah setahun berjalan, BCA melirik potensi desa tersebut dan pada 2018 mulai mulai memgerikan pendampingan untukmengembangkan dusun itu menjadi sebuah desa wisata.

Annisa mengatakan potensi wisata yang dijual selain suguhan kopi dengan suasana perkebunan yang sejuk dan tenang desa wisata itu juga menyediakan edukasi kopi, jelajah kebun, panen, dan proses kopi.

Komisaris independen BCA Cyrillus Harinowo mengatakan pihaknya ingin menjadikan Dusun Sirap seperti Gua Pindul yang sukses diubah menjadi desa wisata.

Desa Pindul Yogyakarta itu sebelumnya desa tertinggal namun kini mampu menghasilkan pendapatan Rp400 juta per bulan dari wisata.

"Kami ingin Dusun Sirap menjadi desa wisata. Karena itu, kopi di dusun ini harus dikembangkan kualitasnya. Jika sudah benar-benar enak sirap bisa menjadi brand dan dijual kepada para pengunjung, " ujar Cyril pada peresmian Desa Wisata Doesoen Kopi Sirap.

Selain itu, katanya, peningkatan kualitas kopi sirap juga diharapkan bisa bersaing dengan brand lain yang telah mapan.

Dia mengatakan pihaknya akan menyiapkan anggaran untuk membiayai penanaman kopi dan menjadikan kebun percontohan atau demonstration plot.

Namun, dia juga mengingatkan jangan sampai pengembangan dusun sirap menjadi desa wisata dengan mengorbankan pohon kopi. '

"Jangan sampai nanti lebih banyak bangunannya dari kebun kopinya,. Nanti auranya hilang," ujarnya.

Kepala Gapoktan Rahayu IV Dusun Sirap Ngadiyanto mengatakan saat ini ada 35 hektare kebun kopi yang dijadikan desa wisata. (OL-2)

BERITA TERKAIT