08 September 2019, 13:38 WIB

Pengguna Jasa Transpotasi Online Rentan Jadi Korban


mediaindonesia.com | Humaniora

Antara/Fakhri Hermansyah
 Antara/Fakhri Hermansyah
 Pengguna jasa transportasi online di Stasiun Bekasi, Jawa Barat.

SAAT ini, platform transportasi berbasis online telah menjadi sangat populer dan menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari sistem transportasi di Indonesia.

Layanan transportasi online dikenal dengan aksesibilitas, transparansi, dan harga yang terjangkau. Poin-poin ini menjadikan transportasi online memiliki keunggulan dibandingkan layanan transportasi konvensional yang tersedia sebelumnya.

Bagi pengguna, jasa transportasi online saat ini sudah menjadi salah satu kebutuhan komuter utama. Tidak hanya memberikan opsi transportasi, namun juga kemudahan. Hanya dengan mengakses aplikasi yang tersedia, maka dengan mudah pengguna akan dijemput oleh driver yang menerima order tersebut.

"Namun, keselamatan dan kenyamanan tetap harus menjadi perhatian utama bagi seluruh pihak, terutama perusahaan pemberi jasa transportasi online ini," kata kriminolog Adrianus Meliala di Jakarta, Minggu (8/9).

Kini terkait transportasi online atau berbasis daring, ada beberapa kejahatan yang terjadi misalnya, penipuan, pencurian saldo uang digital, dan tindakan pelecehan seksual baik baik secara digital dan secara fisik karap dialami oleh pengguna jasa transportasi online.

Beberapa waktu yang lalu, terjadi beberapa kasus pelanggaran privasi dan penyalahgunaan nomor pribadi pengguna SuperApp. Driver ojek online menghubungi kembali setelah orderan selesai.

Ada pula kasus pencurian saldo dengan mengatasnamakan perusahaan pemberi jasa yang membuat pengguna kehilangan seluruh saldonya, bahkan sampai dengan rekening di bank pribadinya. Tanpa pandang bulu, penipuan ini bisa menimpa siapa saja, bahkan level pejabat sekaligus.

Adrianus mengatakan kejadian yang mencemaskan itu membuat para pengguna meminta kebijakan semua perusahaan pemberi jasa transportasi online untuk dapat lebih meningkatkan keamanan pada teknologi yang digunakan untuk memperkecil ruang bagi mitra melakukan tindakan kejahatan.

"Motifnya, bisa sekadar iseng yang mengganggu, melecehkan, mencuri, bahkan sampai ada yang meneror penumpangnya melalui telepon," kata Guru Besar Universitas Indonesia tersebut.  

Petisi untuk Kemenhub

Melihat masih banyak kasus seperti ini terjadi bagi pengguna jasa transportasi online di Indonesia, baru-baru ini muncul sebuah petisi yang ditujukan kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk lebih mentertibkan perusahaan transportasi online yang belum memiliki fitur yang merahasiakan nomor pengguna.

Merasa terganggu dengan kondisi tersebut, pengguna jasa transportasi online Putri Bramantyo mengangkat suara dengan harapan dapat mencegah kasus yahng meningga para pengguna transportasi online tidak terjadi lagi.

Dalam petisinya, Putri mendesak semua perusahaan transportasi online untuk menjaga kerahasiaan data pribadi penumpang dengan menerapkan teknologi yang menyembunyikan nomor telepon pengguna.

"Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan nomor 118 Tahun 2018 Pasal 31B dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 Pasal 17B, yaitu 'Menjamin kerahasiaan dan keamanan data pengguna jasa',” kata Putri.

Mari kita lihat perkembangan teknologi dan inovasi yang telah dilakukan oleh semua perusahaan penyedia jasa transportasi online di Indonesia.

Fitur-fitur keamanan oleh perusahaan transportasi online yang saat ini tersedia di Indonesia. Perusahaan pemberi jasa transportasi online memang sudah gencar melakukan inovasi untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna maupun mitra pengemudinya.

Namun sayangnya masih ada ketimpangan dalam pemberlakuan fitur keamanan ini. Infografis yang diunggah akun Instagram @infowanita.id memaparkan semua inovasi dan teknologi yang telah dilakukan oleh semua pemain transportasi online di Indonesia.

Fitur keamanan para pengguna

Beberapa fitur keamanan yang ditawarkan oleh jasa transportasi online di Indonesia antara lain Share my ride yakni sebuah fitur keamanan bagi pengguna untuk memberikan informasi tentang perjalanannya sehingga orang terdekat pengguna bisa memonitor perjalanan secara real-time.

Kedua fitur Masking number adalah sebuah fitur keamanan yang menjaga informasi nomor telepon pengguna dan pengemudi sehingga mencegah terjadinya tindakan kejahatan pencurian uang digital ataupun kemungkinan tindakan menyimpang dimana penumpang menerima pesan atau telepon yang tidak diharapkan dari pengemudi, maupun sebaliknya.

Ketiga, fitur Security camera (bagi kendaraan roda empat): sebuah fasilitas keamanan dimana pemberi jasa transportasi memasang kamera pengintai untuk dapat memonitor kegiatan dalam mobil untuk mencegah terjadinya kejahatan.

Keempat, fitur Panic atau Emergency button adalah sebuah fitur keamanan bagi pengemudi yang bisa diaktifkan apabila pengemudi melakukan tindakan menyimpang

Kelima, verifikasi wajah bagi pengemudi adalah ebuah fitur yang sifatnya mencegah agar tidak terjadi jual-beli akun yang bisa menyebabkan kegiatan pemberi layanan transportasi online dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, yang ternyata bukan mitra yang terdaftar di perusahaan pemberi jasa

"Demi menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna dan pengemudi transportasi online, seluruh perusahaan pemberi jasa transportasi online diharapkan mampu memiliki fitur keamanan yang terintegrasi dan mengedepankan prinsip pencegahan sehingga mampu meminimalisir terjadinya kasus penyimpangan dan kejahatan di transportasi online," papar Putri. (OL-09)

 

BERITA TERKAIT