08 September 2019, 15:45 WIB

Ruang Kelas Ambruk, Pelajar SDN Pancawangi Belajar di Luar


Benny Bastiandy | Nusantara

MI/BENNY BASTIANDY
 MI/BENNY BASTIANDY
Sejumlah siswa SDN Pancawangi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sedang bermain di sekitar ruang kelas mereka yang ambruk.

TIGA ruang kelas di SDN Pancawangi di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kondisinya rusak berat. Bahkan satu dari tiga ruangan kelas itu ambruk pada Kamis (5/9) setelah sebelumnya diguyur hujan deras, Rabu (4/9).

Berdasarkan informasi, rusak beratnya tiga bangunan ruang kelas yang biasa digunakan siswa kelas 4, 5, dan 6 itu sudah cukup lama.

Puncaknya, pada Kamis (5/9), ruang kelas 4 tiba-tiba ambruk. Tidak ada korban jiwa ataupun luka karena insiden itu terjadi saat malam.

Kondisi itu memaksa puluhan siswa harus belajar di luar ruangan.

"Karena kondisi fisik bangunan yang sudah lapuk akibat faktor usia, satu dari tiga bangunan ruang kelas langsung ambruk sekaligus sehari setelah hujan deras. Sedangkan dua ruangan kelas 5 dan 6 rusak berat. Kondisinya tidak layak kalau dipakai kegiatan belajar mengajar," kata Plt Kepala SDN Pancawangi Asep Sulaiman, Sabtu (7/7).

Baca juga: Sejumlah Pakar Buktikan Raden Fatah sebagai Tokoh Islam

Jumlah siswa dari tiga kelas yang ruangannya ambruk sekitar 50 orang. Saat ini, mereka melaksanakan kegiatan belajar mengajar di luar ruangan.

"Karena kegiatan belajar mengajar mesti terus berjalan, sekarang ada yang belajar di luar ruangan seperti di lapang voli, ada yang di selasar ruang kelas, dan ada yang masuk siang," tutur Asep.

Asep menjelaskan informasi yang diterimanya, ambruknya bangunan ruang kelas sudah diprediksi dari awal. Penyebabnya, material bangunan kelas sudah terlihat lapuk.

"Informasi yang saya dapat seperti itu. Kebetulan saya juga masih baru ditunjuk sebagai Plt menggantikan kepala sekolah terdahulu yang pensiun per 1 Juli 2019," tutur dia.

Asep mengaku sudah mengomunikasikan kondisi tiga ruangan kelas yang ambruk itu ke Pemkab Cianjur melalui Koordinator Pendidikan setempat. Sejak awal pihak sekolah setidaknya sudah mengajukan proposal perbaikan hingga tiga kali.

"Tapi sampai saat ini belum ada realisasinya," ucapnya.

Asep berharap Pemkab Cianjur menyegerakan perbaikan tiga ruang kelas yang kondisinya rusak parah. Sebab, kondisi aktivitas belajar siswa tidak bisa terus dilakukan di luar ruangan.

"Harapan kami tentunya menginginkan agar tiga ruang kelas direhab total karena jadi kebutuhan paling signifikan. Anak-anak butuh ruangan yang nyaman untuk belajar," pungkasnya.

Fahri, 12, siswa kelas 5, mengaku tidak konsentrasi karena harus belajar di luar ruangan. Ia bersama rekan-rekannya belajar di dekat lapangan voli hanya beralas terpal plastik.

"Kurang nyaman saja kalau belajar seperti ini. Inginnya sih bisa belajar di ruangan," tegasnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Oting Zaenal Muttaqien, mengatakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat setiap tahun mengajukan perbaikan sebanyak 200-300 lokal (ruang kelas) untuk SD dan SMP. Namun perbaikan tergantung kemampuan keuangan daerah.

"Masih banyak ruang kelas sekolah di Cianjur yang kondisinya rusak. Di SD saja, dari sekitar 1.200 sekolah tersebar di semua wilayah, hampir 60% kondisinya masih ditemukan ruang kelas yang rusak," tegas Oting kepada Media Indonesia.

Selain dari APBD, lanjut Oting, biaya perbaikan ruang kelas juga mengandalkan dari dana alokasi khusus (DAK) dan dana alokasi umum (DAU).

Dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, diharapkan perbaikan ruang kelas rusak bisa terselesaikan.

"Dengan terbatasnya anggaran, kami menerapkan skala prioritas. Dibantu pengawas, kami rutin mengecek ke lapangan melihat kondisi ruang kelas rusak. Mudah-mudahan adanya DAK dan DAU bisa mempercepat perbaikan," jelasnya.

Oting menuturkan, penyebab banyaknya ruang kelas rusak dipengaruhi berbagai faktor. Selain karena disebabkan usia teknis, tidak sedikit juga pengerjaan pembangunan dan perbaikan dulu tidak sesuai spek.

"Mestinya, membangun sekolah atau ruang kelas itu seperti membangun rumah sendiri. Lihat saja bangunan runah kita, kalau konstruksinya benar, akan kuat puluhan tahun. 20 tahun, 30 tahun, bahkan lebih. Sekarang masih ada bangunan yang usia teknisnya di bawah 10 tahun sudah rusak lagi," tandasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT