08 September 2019, 13:00 WIB

Trump Hentikan Negosiasi AS dengan Taliban


Willy Haryono | Internasional

AFP/JIM WATSON
 AFP/JIM WATSON
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan pertemuan dengan kelompok militan Taliban untuk membicarakan finalisasi perjanjian damai konflik Afghanistan.

Dalam rangkaian tulisan di Twitter, dilansir dari BBC, Trump mengatakan sempat berencana bertemu sejumlah petinggi Taliban di Camp David hari ini, Minggu (8/9).

Namun, ia membatalkan pertemuan dan menarik negosiasi perjanjian damai usai Taliban mengklaim sebuah serangan di Kabul yang menewaskan seorang prajurit AS.

Pembatalan negosiasi dilakukan meski Utusan Khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, Senin (2/9), mengatakan Washington dan Taliban "secara prinsip" telah menyepakati perjanjian damai.

Perjanjian damai meliputi penarikan 5.400 personel militer AS dari Afghanistan dalam kurun waktu 20 pekan. Namun, Khalilzad menekankan pengesahan terakhir perjanjian damai masih harus diputuskan Trump.

Baca juga: Perang Dagang AS-Tiongkok Berpotensi Jadi Perang Dingin

Saat ini, AS memiliki sekitar 14 ribu prajurit yang tersebar di seantero Afghanistan.

Kamis (5/9), sebuah bom mobil di Kabul yang diklaim Taliban menewaskan 12 orang. Salah satu korban tewas adalah tentara 'Negeri Paman Sam'. Satu prajurit asal Romania yang tergabung dalam NATO juga tewas dalam serangan tersebut.

Serangan terbaru di Kabul meningkatkan kekhawatiran bahwa perjanjian damai antara AS dan Taliban tidak akan menghentikan serangan yang hampir terjadi setiap harinya di Afghanistan.

Taliban kini menguasai lebih banyak wilayah sejak invasi AS pada 2001, dan masih menolak bernegosiasi langsung dengan pemerintah Afghanistan. Taliban menilai pemerintah Afghanistan hanyalah 'boneka' AS.

Negosiasi damai AS dan Taliban telah berlangsung sebanyak sembilan putaran, yang digelar di Doha, Qatar.

Sebagai ganti dari penarikan pasukan, nantinya Taliban akan memberikan jaminan keamanan di Afghanistan dan memastikan tidak ada lagi area di negara tersebut yang dijadikan basis grup ekstremis.

Hampir 3.500 personel koalisi internasional telah tewas di Afghanistan sejak invasi 2001, dan lebih dari 2.300 korban adalah prajurit AS. (Medcom/OL-2)

BERITA TERKAIT