08 September 2019, 05:15 WIB

Forest City of Indraprastha


Ono Sarwono | Weekend

MI/Ebet
 MI/Ebet
Ilustrasi

PANDAWA cancut tali wanda (bekerja dengan segenap kemampuan) setelah diberi izin uwaknya, Drestarastra, penguasa Astina sementara, untuk mendirikan istana baru di belantara Wanamarta. Ini hutan perawan dengan kekayaan flora dan fauna serta sumber daya alam melimpah.

Minimal ada dua pertimbangan kuat yang melatarbelakangi tekad Pandawa mendirikan istana baru ini. Pertama, istana Astina, warisan bapaknya (Prabu Pandudewanata), sudah dikuasai Kurawa secara inkonstitusional. Pandawa sumpek jika harus hidup berdampingan dengan saudara sepupunya yang berperilaku menceng. Kedua, istana berlepotan dosa akibat juga dijadikan sebagai rumah rezim zalim. Singkatnya, istana dinilai telah kehilangan peradabannya sehingga Astina akan semakin menjauh dari cita-cita para leluhur pendiri bangsa, yakni negara yang adil makmur. 

Hoaks
Alkisah, berita sirnanya Pandawa dalam kebakaran hebat Balai Sigala-gala ialah tidak benar, alias hoaks. Puntadewa dan keempat adiknya Bratasena, Permadi, Tangsen dan Pinten-- ternyata masih hidup. Pun ibunda mereka, Kunti Talibrata, yang semula juga dikabarkan ikut tewas dalam bencana itu, ternyata masih segar bugar.

Fakta itulah yang mengetuk hati Drestarastra, penguasa ad interim Astina pascagugurnya Prabu Pandudewanata, memanggil para keponakannya tersebut. Selain untuk memastikan keselamatan mereka, ia sekaligus ingin meminta maaf atas terjadinya kebakaran yang mengacam nyawa Pandawa.   

Drestarastra juga menyampaikan penyesalan mendalam mengingat peristiwa pembakaran hidup-hidup itu dilakukan Kurawa yang tidak lain ialah anak-anaknya sendiri. Pelakunya memang Kurawa, tetapi gembong peristiwa itu adalah sang paman, Senkuni. 

Pandawa dan Kunti, yang tinggal di pengasingan, lalu mengirim Bratasena sebagai utusan memenuhi undangan Drestarastra. Sebenarnya, ini tidak etis mengingat yang diundang uwak mereka itu adalah semua anggota keluarga Pandawa dan ibundanya.

Namun, diutusnya Bratasena memang dengan berbagai pertimbangan. Selain masih miris dengan peristiwa menggiriskan yang belum lama berlalu, Pandawa juga perlu berjaga-jaga bilamana Kurawa masih melanjutkan skenario mereka membinasakan Pandawa. Bratasena dinilai mampu melindungi diri manakala hal yang tidak diinginkan itu terjadi lagi.

Pandawa juga berpendapat Drestarastra tidak akan mampu mengendalikan ulah anak-anaknya (Kurawa) yang punya niat jahat kepadanya. Selain karena keterbatasan pencainderanya, bagaimanan pun juga Kurawa adalah darah dagingnya sendiri sehingga pasti dilindungi.

Drestarastra tampak tersedu ketika Bratasena menghadapnya. Dengan tulus ia mengaku dirinya tidak mampu menggulawentah anak-anaknya. Ada nuansa kekecewaan atas kodrat yang menderanya, yakni tidak bisa melihat, dan tidak mampu mendidik anak-anaknya agar berjiwa kesatria.

Selanjutnya, Drestarastra menawarkan kepada Pandawa hutan Wanamarta untuk dijadikan tempat bermukim baru. Harapannya, Pandawa dan Kurawa tidak lagi berselisih memperebutkan kekuasaan atas Astina.
Singkat cerita, Bratasena menerima tawaran Drestarastra. Ia siap mendirikan istana baru di Wanamarta dengan kekuatan sendiri. Namun, ia menolak bantuan dari Astina karena Pandawa ingin istana yang mereka bangun benar-benar bersih dari ‘dosa-dosa’ Kurawa. 
  
Membabati Wanamarta
Sekembalinya dari Astina, Bratasena melaporkan pesan yang ia terima dari Drestarastra kepada ibunda dan saudaranya. Bratasena juga menyampaikan sikapnya atas tawaran uwaknya, bahwa Pandawa siap membangun istana baru dengan cara berswasembada.

Kunti dan Puntadewa serta Permadi menyetujui sikap berdikari tersebut. Sedangkan Tangsen dan Pinten menyatakan mengikuti apa pun yang diputuskan kakak-kakaknya. Mereka sepakat bahu-membahu, bergotong royong mewujudkan impian mendirikan istana baru di lokasi baru.

Puntadewa mewanti-wanti, istana baru nanti mesti berkonsep a city of the forest. Jangan sampai pembangunan itu nanti merusak lingkungan. Bukan hanya hutannya yang mesti lestari, tetapi juga seluruh isinya, flora-fauna yang hidup di dalamnya mesti terlindungi.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Pandawa memulai pembangunan. Langkah awal penyediaan lahan yang masih berupa hutan. Bratasena yang bertanggung jawab pada proyek tersebut dibantu Permadi, melakukan pembabatan hutan.

Tidak mudah membersihkan pohon-pohon besar yang tidak beraturan. Apalagi pohon yang tak terbilang jumlahnya itu telah tumbuh ratusan tahun. Maka, diperlukan tenaga ekstra untuk merobohkannya.
Ketika pembabatan hutan itu telah berlangsung berhari-hari dan semakin dalam, Bratasena mengalami kelelahan. Pada titik inilah, konsentrasi menjadi berkurang sehingga ia tidak lagi berwawasan lingkungan. 

Puntadewa yang melihat itu, langsung mengingatkannya. Ia memberikan arahan dan petunjuk mana yang mesti dibabat, mana pohon yang mesti dipertahankan. Bukan itu saja, ketika Bratasena membinasakan binatang-binatang yang ia nilai mengganggu, Puntadewa langsung mencegahnya.

Puntadewa malah mengambil alih penanganan hewan-hewan yang semula melawan Bratasena. Dengan ajian welas asih, semua binatang liar dan buas berubah manut dan lulut. Bahkan, eloknya, sato wana (binatang-binatang hutan) itu membantu Pandawa.

Bukan yang kasatmata, ternyata Pandawa juga menghadapi hambatan para siluman yang mbaureksa (menguasai) hutan tersebut. Di sinilah Permadi turun tangan karena memiliki ajian lenga jayeng katon yang kesaktiannya bisa untuk melihat makhluk halus.

Menyerupai Tinjamaya 
Singkat cerita, Pandawa berhasil membangun istana baru nan megah yang diberi nama Amarta. Seperti yang dicita-citakan, Amarta berdiri sebagai ‘ibu kota’ Pandawa yang berkonsep forest city.  

Dalam perkembangannya, keindahannya konon menyerupai keelokan Kahyangan Tinjamaya, tempat tinggal Bathara Indra. Oleh karena itu, Amarta kemudian juga disebut Indraprastha. Ini bukan hanya simbol akan keindahan, melainkan juga kenyamanan dan ketenteraman.   

Dalam seni pakeliran, Bathara Indra adalah Dewa Keindahan yang membawahkan para bidadari di kahyangan Kaindran. Perwatakannya pengasih, penyayang, dan cinta terhadap seni serta keindahan.

Keelokan Amarta tersebar ke pelosok marcapada. Tidak puas merampas Astina, Duryudana (Kurawa) juga bernafsu menguasai Indraprastha. Dari sinilah kemudian pecah perang besar Bharatayuda antara Kurawa dan Pandawa. Di medan Kurusetra, Kurawa yang melambangkan kezaliman lenyap di tangan Pandawa yang menyimbolkan kebenaran dan keadilan. (M-2)

BERITA TERKAIT