08 September 2019, 04:50 WIB

Dendangan Doa untuk Secangkir Kopi


Rizky Noor Alam | Weekend

MI/Ebet
 MI/Ebet
Ilustrasi

BAGI para penggemar kopi tentunya sudah familier dengan cita rasa kopi gayo asal Aceh. Namun, di balik nikmatnya secangkir kopi gayo ada banyak perjuang­an dan kasih sayang yang dicurahkan para petani kepada tanaman kopinya. 

Dalam proses penanaman tersebut para petani memanjatkan doa sebagai sarana berkomunikasi dengan alam agar kopi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Masyarakat Gayo pun menyebut kopi sebagai sengkewe. Istilah sengkewe itu sendiri terdapat dalam doani kupi yang didaraskan para petani saat menanam kopi.

Orom Bismillah,
Sengkewe
Kunikahen ko orom kuyu
Wih kin walimu
Tanoh kin saksimu
Mantanlo kin saksi kalammu 
Begitulah bunyi syair yang didendang­kan para petani kopi. Seniman asal Gayo, Fikar Weda, menjelaskan bahwa sengkewe dilakukan secara personal oleh para petani.

“Tradisi kita itu selalu bercakap-cakap dengan alam, dengan angin, laut, termasuk dengan kopi. Ini didendangkan dalam proses penanaman, pemeliharaan, diucapkan secara personal. Harapan-harapan itu dipupuk melalui doa-doa itu,” jelas Fakir kepada Media Indonesia di sela-sela acara Ngopi Bareng Seniman di Jakarta, Jumat (23/8).
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, syair itu memiliki arti sebagai berikut ini.

Dengan Bismillah,
Sengkewe
Kunikahkan dikau dengan angin
Air walimu
Tanah saksimu
Matahari saksi kalammu 
“Dalam teks klasik itu menyiratkan bagaimana manusia dengan alam memiliki hubungan yang amat dekatnya. Kopi dinikahkan dengan perantara a­ngin yang dalam ilmu modern disebut penyer­bukan, dilakukan di atas tanah dengan bantuan air lalu ditambah proses fotosintesis. Tradisi itu yang harus dipelihara,” imbuh Fikar.

Kopi gayo memiliki cerita yang panjang dan berbeda dengan cerita asal muasal kopi di Jawa. Fikar menjelaskan jika riwayat kopi di Jawa dikenal karena dibawa Belanda, tapi di Gayo justru Belanda yang menemukan kopi saat mereka mulai masuk ke wilayah Aceh.

“Saya membaca dan melakukan riset bahwa kopi gayo itu berbeda dengan riwayat yang ada di Jawa. Kalau di Jawa riwayat kopi itu katanya dibawa Belanda pada 16 sekian, didaratkan pertama di Pelabuhan Sunda Kelapa, masuk ke Pondok Kopi, dan lain-lain, baik versi pemerintah maupun swasta seragam. Di Gayo tidak seperti itu, Belanda baru masuk di Gayo pada 1904, itu awal abad ke-20. Jadi baru sekali, Belanda sampai di sana sudah menemukan kopi dan cerita ini bisa ditemukan di buku yang ditulis Snouck Hurgronje, kemudian saya meriset lebih lanjut dan mewawancarai banyak orang sehingga menemukan doani kupi. Artinya, kita mendoakan kopi itu agar tumbuhnya bagus, buahnya banyak, tidak ada penyakit, dan seterusnya,” papar Fikar.

Wilayah Gayo merupakan penghasil kopi jenis arabika dengan luasan area perkebunan 100 ribu hektare. Perkebunan di sana masih dikelola dengan metode perkebunan rakyat, bukan penguasaan perusahaan. Selain itu, produksi kopinya tidak terlalu besar, hanya sekitar 750 kg per tahunnya. Meski demikian, varietas kopi itu menjadi komoditas unggulan yang memang asli berasal dari Dataran Tinggi Gayo di Aceh Tengah, di ketinggian 1.000 m-1.700 m di atas permukaan laut. 

“Tantangannya sekarang bagaimana menjaga kualitas kopi dengan menyelamatkan lingkungannya. Nutrisi kopi gayo bersumber dari danau yang ada di sana dan dari penelitian para ahli bahwa danau itu masih murni,” pungkas Fikar.

Kopi gayo mendapatkan tempat di hati para penggemar kopi di seluruh dunia. Aroma dan kenikmatannya yang khas membuat kopi itu menjadi yang terbaik. Maka dari itu, tidak heran jika kopi gayo meraih banyak penghargaan sebagai kopi terbaik di dunia. (M-4)

BERITA TERKAIT