08 September 2019, 04:25 WIB

Isla Formosa yang Berkesan


Putra Ananda | Weekend

MI/PUTRA ANANDA
 MI/PUTRA ANANDA
Melihat pemandangan dari restoran A-Mei Tea House yang berada di daerah Ruifang, Taipei.

BETAPA beruntungnya kami bisa mengikuti kegiatan media trip ke Taiwan yang disponsori Taiwan Tourism Buerau (TBB) selama tujuh hari pada 25 hingga 31 Agustus 2019. Mengesankan, merupakan satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan pengalaman kami berkeliling menikmati pariwasata di kota-kota di Taiwan.

Hari pertama setibanya di Bandara Internasional Taoyuan Taiwan, kami bersama rombongan langsung menjajal kereta moda raya terpadu (MRT) dari Bandara Internasional Taoyuan ke wilayah Distrik Ximen yang berada di pusat Kota Taipei. Adapun jarak Bandara Internasional Taoyuan ke pusat kota terdekat seperti Distrik Ximen Taipei kurang lebih 40 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 36 menit. Tarifnya sekitar NT$150 atau kurang lebih Rp67 ribu.

Di Distrik Ximen, para wisatawan bisa mengunjungi pasar malam Ximending. Tempat yang tepat untuk berburu kuliner masakan-masakan street food ala Taiwan. Selain berwisata kuliner, para wisatawan juga bisa berbelanja barang-barang unik yang dijajakan para pedagang yang berjejer sepanjang Distrik Ximen. Taipei memiliki dua pasar malam populer, yaitu Ximenjing dan Shilin yang berada di Distrik Shilin.

Keesokan harinya, peserta media trip mengunjungi Kota Taichung. Kota ini dapat menjadi salah satu pilihan destinasi liburan Anda yang menginginkan suasana berbeda selain Kota Taipei. 

Berada di pesisir barat Taiwan, Taichung dapat dicapai dari Taipei dalam waktu 2 jam. Jarak kedua kota itu berkisar 170 kilometer. Namun, jika menggunakan high speed rail (HSR) atau kereta cepat, Anda hanya butuh waktu 45 menit dari Taipei untuk bisa tiba ke Taichung.

Feng Chia Night Market di Tai­chung merupakan salah satu pasar malam terbesar yang ada di Taiwan. Di sini, para wisatawan bisa menemukan berbagai makanan street food. Feng Chia Night Market merupakan tempat yang tepat untuk berburu kuliner dan suvenir khas Taiwan.

Sementara itu, bagi wisatawan yang gemar berswafoto, Rainbow Village merupakan destinasi yang tepat untuk disambangi. Di sana, wisatawan bisa menemukan desa dengan dinding berwarna-warni. Sekilas mengingatkan pada Desa Pelangi di Malang, Jawa Timur. 

Menurut cerita warga setempat, penduduk Taiwan bernama Huang Yong-Fu sengaja menghias desa ini dengan warna-warni sedemikian rupa agar pemerintah Taiwan batal membongkar kawasan tersebut. Ia pun kini dikenal sebagai Rainbow Grandfather.

Wisata halal
Gemar pertunjukan opera dan musikal? Barangkali Anda perlu mengunjungi destinasi wisata terbaru di Taichung, yaitu National Taichung Theater (NTT). Konstruksi bangunan NTT yang ikonik dibangun pada 2006 oleh arsitek Jepang bernama Toyo Ito. Gedung teater itu memiliki tiga panggung utama dengan panggung terbesar dapat menampung hingga 2.007 pengunjung.

Letaknya yang berada di tengah kota-kota lain di Taiwan, Taichung biasanya menjadi tempat singgah bagi para wisatawan yang ingin berkunjung mengunjungi objek wisata populer di Taiwan, seperti Sun Moon Lake di Kabupaten Nantou dan Chimei Mueseum di Kota Tainan. Pilihan restoran-restoran halal bagi turis beragama muslim juga cukup banyak di Kota Tai­chung.

Sebagai informasi tambahan, saat ini Taiwan menduduki peringkat ketiga sebagai negara teramah bagi para wisatawan muslim. Sudah ada kurang lebih 200 restoran dan hotel yang memiliki sertifikat halal dari asosiasi muslim utama di Taiwan, yaitu Chinese Muslim Association (CMA).

Pemerintah Taiwan memang sengaja menciptakan wisata yang ramah bagi turis muslim. Pemberian sertifikasi halal bagi beberapa restoran dan hotel yang ada di Taiwan diharapkan dapat meningkatkan jumlah wisatawan ke negara mereka, termasuk wisatawan asal Indonesia. Jumlah turis Indonesia yang datang ke Taiwan saat ini mencapai kurang lebih 200 ribu wisatawan.

Berlanjut di hari ketiga, dari Taichung kami beranjak ke Kota Tainan untuk mengunjungi Museum Chimei. Musem dengan lahan seluas 10 hektare itu menampilkan 4.000 koleksi barang milik pendiri perusahaan Chimei, yaitu Hsu Wen-Lung. Koleksi-koleksi barang yang ada di museum itu disimpan di empat aula utama yang didasarkan pada seni Barat, seperti lukisan, alat musik, senjata, spesimen hewan, dan fosil.

Untuk masuk ke museum, pengunjung dikenai biaya sebesar NT$200 atau kurang lebih setara dengan Rp100 ribu. Sementara itu, untuk para pelajar Tainan bisa memasuki museum ini dengan gratis. Dalam Museum Chimei, wisatawan juga bisa menemukan patung ikonik The Tinker atau sang pemikir yang berada di aula Rodin.

Setelah puas menjelajahi koleksi barang-barang Museum Chimei, rombongan terus bergerak ke Kota Kaohsiung yang ada di bagian selatan Taiwan. Perjalanan dari Kota Tainan ke Kaoshiung ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam melalui jalur darat. Di Kaohsiung, wisatawan bisa menikmati keindah­an Ai He, alias Love River, alias Sungai Cinta.

Kota Kaohsiung merupakan kota tepat bagi wisatawan yang ingin mencari suasana perkotaan yang tidak terlalu ramai daripada Taipei. Di Kaohsiung, wisatawan bisa menyewa sepeda atau perahu untuk menikmati suasana tenang di sekitar area Su­ngai Cinta. Sungai yang resik tersebut merupakan salah satu contoh su­ngai yang dikelola dengan baik oleh pemerintah Taiwan. Di Kaoh­­siung, wisatawan juga bisa menikmati wisata pasar malam Rueifong.

Wisata alam
Setelah puas menikmati ketenangan di Kota Kaohsiung, rombongan media trip selanjutnya bergeser menuju Kota Taitung. Kota ini menawarkan pemandangan keindahan alam yang luar biasa. Suasana asri sangat kental terlihat di Kota Taitung. 

Taitung letaknya cukup jauh dari kota-kota besar yang ada di Taiwan. Dari Kaohsiung membutuhkan 4 jam perjalanan darat menyusuri pinggir pantai dan pegunungan. Para wisatawan yang berada di Taipei, disarankan menggunakan transportasi udara untuk menuju Taitung. Terdapat penerbangan domestik yang melayani penerbangan dari Taipei ke Taitung setiap harinya.

Wisata yang ditawarkan di Kota Taitung ialah wisata alam seperti mengunjungi kebun nanas di da­taran tinggi Luye. Di sini wisatawan bisa memetik langsung buah nanas yang merupakan salah satu komoditas eks­por utama Taiwan. Buah nanas yang siap dipanen merupakan buah yang telah ditanam kurang lebih selama 1 tahun 8 bulan. Satu pohon bisa menghasilkan 10 buah nanas.

Selama memetik, wisatawan tidak perlu takut tergores duri pohon dan buah nanas yang tajam karena pengelola wisata telah menyiapkan perlengkapan panen layaknya para petani nanas sesungguhnya.

Objek lain yang bisa dinikmati di Kota Taitung ialah kebun teh. Di sini wisatawan juga bisa meminum langsung komoditas dan teh yang siap panen. Teh yang ada di Taitung mayoritas ialah teh hijau. Harga teh yang paling mahal bisa mencapai NT$12.000 atau setara dengan Rp6 juta.

Apabila belum puas dengan wisata kebun nanas dan kebun teh, wisatawan yang berada di Taitung jika waktunya tepat dapat mengunjungi tempat diadakannya festival internasional balon udara Taiwan yang berada di Desa Luye. Festival ini rutin diadakan setiap tahunnya pada saat kamping musim panas berlangsung. Tahun ini, festival balon udara berlangsung pada 29 Juni hingga 12 Agustus. Festival ini juga menjadi rangkaian puncak trip kami selama berada di Taiwan.

Festival balon udara Taiwan menjadi salah satu objek wisata yang ditunggu-tunggu turis lokal dan mancanegara yang mengunjungi Taiwan. Aktivitas yang bisa dilakukan para wisatawan di sana berupa pertunjukan udara, menaiki balon udara, konser musik, serta kamping musim panas. Tiket untuk menaiki balon udara biasanya langsung habis dalam beberapa saat. Bagi para wisatawan beruntung yang memiliki tiket, mereka dapat merasakan sensasi menaiki balon udara selama 5-7 menit.

Tiket balon udara ini dijual beberapa bulan sebelum festival berlangsung. Namun, jangan khawatir, bagi para wisatawan yang kehabisan tiket, mereka masih bisa menikmati suasana keindahan festival balon udara Taiwan dengan menyusuri stan-stan makanan ringan yang ada. Tidak lupa para wisatawan juga wajib untuk melakukan swafoto dengan latar belakang balon udara berukuran besar dan hijaunya suasana pegunungan.

Dari pengalaman kami, tidak salah jika penjelajah Portugis yang menginjakkan kaki di pulau ini memberikan nama Isla Formosa. Taiwan menawarkan pengalaman yang mengesankan dengan keunikan dan keindahan yang menyertainya. Bagi kami, walaupun hanya ada 23 negara yang mengakui negeri ini, Taiwan tetap merupakan adik kecil cantik yang tidak kalah dengan saudara tuanya di seberang. (M-2)

BERITA TERKAIT