08 September 2019, 04:00 WIB

Ruang Anak-Anak di Art Jakarta


MARZUQI ABDILLAH | Weekend

MI/MARZUQI ABDILLAH
 MI/MARZUQI ABDILLAH
Anak- anak sedang belajar mewarnai gambar dan melukis

RUANG pamer utama masih penuh dengan lalu-lalang orang. Penuh sesak dengan aktivitas sekadar melihat karya seni maupun berbincang. Hampir semua pengunjung Art Jakarta ialah orang dewasa. Sangat jarang ditemui kaki kecil dengan langkah kecil pula. Pemandangan lumrah dalam sebuah helatan seni, apalagi sebesar Art Jakarta yang digelar 30 Agustus hingga 1 September 2019.

Apakah Art Jakarta memang hanya untuk orang dewasa? Ternyata tidak demikian. Nuansa berbeda justru muncul dari area workshop yang berada di sebelah ruang pamer utama. Ruang itu justru banyak tangan-tangan mungil yang sedang mencocolkan kuas ke palet cat. Beberapa anak tampak sibuk dengan batu bermagnet berukur­an separuh dari telapak tangan mereka. 

Mereka tidak hanya mencocolkan kuas, kadang mereka pun bereksperimen dengan mencampurkan berbagai warna. Begitulah kelincahan tangan-tangan kecil mencampur warna dan meng­goreskan pada bidang yang telah disediakan.

Art Jakarta tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Mereka diberi ruang khusus untuk berkenalan dengan seni rupa melalui cara yang menyenangkan. Salah satunya ialah di area Eko Nugroho Art Class. “Ini gambar bunga,” ujar Anzo.

Anzo ialah salah satu anak yang mengikuti Eko Nugroho Art Class. Selain Anzo, banyak pula anak yang tampak asik dengan kuas dan batu kecil di hadapan mereka.

Orangtua Anzo, Dimas, juga begitu semangat untuk mengikutkan Anzo dalam kelas tersebut. Menurutnya, Eko Nugroho merupakan nama besar dalam seni rupa Indonesia, bahkan dunia. Ia mengapresiasi adanya upaya untuk mengenalkan anak pada seni rupa sejak dini.

“Saya rasa sebagai orangtua, kita mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Eko Nugroho. Dia kan seniman terkenal, boleh dibilang sudah manca negara lah. Terus mengadakan kelas semacam ini bisa mengasah kreativitas anak-anak. Bagus juga, apalagi kalau dimulai sejak dini kan,” ucap Dimas Insani saat ditemui di hari pemungkas helatan Art Jakarta, Minggu (1/9).

Tak tampak jarak antara mereka dan seni yang biasanya dianggap sebagai dunia antah-berantah. Tidak ada kekangan pada jemari kecil itu. Mereka boleh menggambar apa pun dengan warna sesuka hati. Tidak ada aturan baku. Mereka hanya diminta untuk menggambar apa yang mereka inginkan.

Manager Marketing Eko Nugroho Art Class, Nanda, mengungkapkan bahwa metode pengenalan seni rupa itu memang sengaja diterapkan untuk mengakrabkan anak-anak dengan seni rupa. Hal itu seirama dengan tekad Eko Nugroho untuk membuka kesempatan seluas mungkin agar anak-anak bisa mengakses pendidikan seni rupa. “Jadi, Eko Nugroho itu punya misi besar. Dia ingin generasi-generasi penerus bisa mengalami pendidikan seni rupa,” terang Nanda.

Proses seni
Dia menambahkan, Eko Nugroho ingin anak-anak bisa nyaman melakukan proses seni tanpa harus dihantui pakem-pakem yang biasa ditemukan dalam pendidikan gambar atau lukis. “Dia ingin anak-anak tetap bisa belajar seni rupa, tapi tanpa adanya batasan. Jadi, maksudnya tidak (dipaksa ikut) pakem-pakem yang terlalu mengotakan. Itu kan biasanya kita temukan kalau mau menggambar, melukis,” tambah Nanda.

Eko Nugroho Art Class bisa ­diikuti anak-anak berusia 4-12 tahun. Anak-anak itu lalu dibagi dalam beberapa tingkatan yang disesuaikan dengan usia dan kondisi anak, yakni basic, intermediate, dan advance. Selepas itu mereka bisa masuk dalam level vision.

Para orangtua sudah menggantung harapan siapa tahu dari mengikuti kelas seni dari seniman besar, anak-anak akan tumbuh menjadi seniman besar pada nantinya. “Siapa tahu mereka menjadi Eko Nugroho-Eko Nugroho nantinya,” pungkas Dimas. (M-4)

BERITA TERKAIT