08 September 2019, 02:45 WIB

Adania Shibli : Menjadi Manusia Seutuhnya lewat Sastra


Rizky Noor Alam | Weekend

MI/ ADAM DWI
 MI/ ADAM DWI
Adania Shibli Doktor dari University of East London bidang Media and Cultural Studies

ADANIA Shibli mungkin sosok yang tidak familier bagi masyarakat Indonesia. Ia merupakan penulis asal Palestina yang telah mendapatkan sejumlah penghargaan internasional. Karya-karyanya selama ini menggambarkan realitas kehidupan di tanah yang memiliki jejak sejarah 10 nabi tersebut. 
Beberapa waktu lalu, Media Indonesia berkesempatan mewawancarainya di sela-sela acara Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam acara tersebut Adania didapuk sebagai pembicara kunci dan mengisi sejumlah sesi simposium yang diselenggarakan dalam acara tersebut. Bagaimana pandangannya dalam dunia sastra saat ini? serta bagaimana perjuangannya menceritakan realitas kehidupan Palestina melalui karya-karya yang dituliskannya? Berikut ini petikan wawancara yang dilakukan Media Indonesia pada Sabtu (24/8).

Sebagai pembicara kunci di JILF, Anda telah berbagi banyak hal, tapi hal apa yang paling Anda tekankan?
Menjadi pembicara kunci dalam acara festival sastra ini berangkat dari perta­nyaan urgensi yang sudah muncul beberapa tahun belakangan mengenai pembungkaman. Pembungkaman ialah bagian dari proses menulis. Dalam menulis perlu untuk dibungkam, Anda juga harus bungkam dalam menulis. Mungkin tidak semua penulis membutuhkan pembungkaman, tetapi dalam banyak kasus, banyak penulis yang membutuhkannya. Pada saat bersamaan, pembungkaman juga bukan menjadi pilih­an, melainkan sebuah paksaan, paksaan untuk diam. 
Anda tidak diizinkan untuk berbicara bahasa Anda sendiri dan hal semacam itu sudah kita saksikan sejak zaman penjajahan sampai zaman sekarang pun ada masyarakat yang dipaksa berbicara hanya satu bahasa. Padahal, mereka berbicara dalam banyak bahasa, tapi dipaksa untuk meninggalkan bahasa mereka dan beradaptasi dengan bahasa yang baru dan hal ini juga terjadi pada buruh migran. Dengan pembungkaman kita telah kehilangan sesuatu yang amat luar biasa, yaitu rasa kemanusiaan. Menurut saya, sastra memiliki peran yang penting untuk mengembalikan bagian-bagian diri kita yang hilang, dengan membaca kita memulihkan rasa kemanusiaan. Hal itu yang ingin saya sampaikan tentang membungkam bahasa yang kita gunakan bertentangan dengan upaya pelestarian sastra bagaimana kita menghadapinya, bagaimana menghadapi pembungkaman dalam sastra.

Sebagai seorang penulis asal Palestina, bagaimana Anda melihat perkembangan dunia sastra saat ini di generasi milenial, terutama di Palestina?
Sekarang eranya bukan lagi didominasi satu platform media, seperti di 1980-an dan 1990-an. Sekarang kita memiliki platform daring, kita banyak punya materi, orang-orang mulai membaca, orang-orang mulai membicarakan karya sastra, bahkan terkadang menjadi bahan diskusi. 
Jadi, saya pikir (karya sastra) menjadi penting kembali dengan maksud yang berbeda dari era sebelumnya. Saat itu sastra dimanfaatkan untuk sarana hiburan atau wadah pemikiran radikal, tapi sekarang seakan-akan sudah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari. Saat seseorang sudah mengakses platform daring, dia akan membaca sesuatu, mencari sesuatu, atau menemukan sesuatu dan pada akhirnya menulis akan kembali menjadi bagian dari diri kita karena sekarang kita memiliki ruang untuk membaca dan menulis lebih banyak dari pada saat dulu di sekolah. Akan ada banyak perspektif, banyak pendapat, banyak bahan teks berbeda yang akan semakin memperkaya kesusastraan kita. Untuk kasus Palestina, saya rasa dulu jumlah penulis amat terbatas, tapi sekarang ada banyak sekali penulis muda berbakat di Palestina.

Apakah Anda merasa kemajuan teknologi saat ini berdampak positif pada kebebasan bersuara di Palestina?
Tidak ada kebebasan dalam bersuara, kami tidak memilikinya, bahkan terkadang dari otoritas Palestina. Akan tetapi, dengan adanya platform daring memungkinkan untuk menyuarakan apa yang tidak bisa diungkapkan. Yang menjadi tantangan ialah bagaimana orang-orang di dunia nyata dapat bersuara bersama, berpikir bersama, dan berbagi ide bersama bukan hanya lewat platform daring. 
Terkadang kebebasan bersuara kita itu tidak dibatasi otoritas, tapi oleh keraguan kita sendiri. Mungkin mengekspresikan emosi dalam dunia daring itu mudah, tapi ada ruang yang lebih penting yang bukan hanya mengekspresikan emosi. Namun, lebih kepada mengapa kita membenci dan kenapa kita memikirkan akan suatu hal. Tidak ada ruang untuk beraksi di kehidupan keseharian kita, setiap orang seakan-akan terisolasi mesinnya sendiri. 

Dari buku-buku yang sudah Anda terbitkan, pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada dunia tentang Palestina?
Sebenarnya saya tidak ingin memberitahu sesuatu pada siapa pun melalui buku-buku. Orang bilang melalui karya sastra, seseorang ingin mengatakan sesuatu, tapi saya tidak tahu bagaimana dunia itu. Bagi saya, karya kesusastraan ialah ruang yang dapat diselami lebih dalam yang mana dapat mengajarkan kita kembali menjadi manusia seutuhnya. 
Jenis karya sastra apa pun mengajarkan kita akan sesuatu dan hal itu akan mentransformasi diri kita. Ketika saya menulis, saya tidak menginginkan sesuatu dari dunia, saya hanya ingin membagikan cinta, berbagi kata-kata melalui bahasa kepada dunia atau terkadang membagikan rasa benci saya terhadap dunia, semuanya amat tergantung, tapi semuanya saya eks­presikan melalui sastra.

Sebagai seorang penulis perempuan, bagaimana Anda turut memperjuangkan kesetaraan gender dalam karya-karya Anda?
Saya rasa saya memperjuangkan kese­taraan dalam berbagai hal. Bagi saya, bukan hanya masalah kesetaraan gender, melain­kan juga lebih kepada kesetaraan sebagai manusia seutuhnya. Mungkin lebih kepada kesetaraan klasik, yakni tidak ada perbedaan kelas, bukan hanya masalah hete­roseksual atau homoseksual, tapi lebih kepada banyak hal. Kesetaraan ialah hak kita untuk berpikir tanpa menyakiti yang lain dan menurut saya ini yang lebih penting.

Semua orang tahu bahwa situasi di Pales­tina tidak stabil hampir di segala aspek, lalu bagaimana Anda bisa tetap be­kerja dan menginspirasi banyak orang?
Bagi saya, terkadang menulis menjadi alasan kenapa bisa bertahan dalam situasi seperti ini. Situasi bukan hanya dalam kondisi operasi politik atau operasi di kehidupan pribadi, ini bukan hanya masalah politik, terkadang juga menyangkut ekonomi dan sosial. Saya pikir menulis seperti hal yang magis karena di saat Anda berpikir berada dalam kondisi akhir dari segala hal, tapi dengan kesusastraan seperti membuka lembaran baru, seperti memberikan sebuah semangat, seperti penyihir yang mengubah hal-hal mengerikan menjadi sesuatu yang memaksa kita untuk tetap hidup. Menurut saya, hal ini yang membuat proses menulis berlanjut sebagai cara untuk melanjutkan kehidupan.

Anda juga amat peduli dengan undang-undang baru Israel yang sifatnya melemahkan fungsi penggunaan bahasa Arab di Palestina, apa yang akan terjadi jika hal ini terus berlanjut?
Proses melemahkan bahasa Arab yang dilakukan Otoritas Israel amat menyakitkan, tapi hal itu sudah dapat diduga akan terjadi. Maksud saya hal ini seperti pengabaian terhadap sebuah bahasa dan mengabaikan orang-orang yang berbicara bahasa Arab. 
Mungkin Anda melihat orang Palestina itu berkulit gelap, tapi ada juga orang Pa­lestina yang berkulit putih dan hal itu karena terjadinya perkawinan campur yang telah terjadi bertahun-tahun. Ketika Anda berbicara bahasa Arab, identitas Anda akan terungkap dan hal itu yang membuat Otoritas Israel dan orang-orang Israel yang berpandangan ekstrem atau rasial akan langsung timbul rasa benci dengan cara Anda berbicara. Berbicara bahasa Arab menjadi sesuatu yang dibenci, dipandang menjijikkan, diabaikan karena sebuah sifat antagonis dan itu bertentangan dengan fungsi dari bahasa sendiri yang merupakan cara untuk berekspresi dan berbagi dengan orang lain. 

Soal kepunahan bahasa daerah, banyak negara, termasuk Indonesia juga mengalami. Menurut Anda, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kepunahan bahasa tersebut?
Saya pikir tanggung jawab yang paling utama terkadang ada pada kesusastraan karena menjaga bahasa. Menggunakan bahasa untuk menulis, menjadikannya buku merupakan aksi nyata untuk melawan kepunahan sebuah bahasa. 
Meskipun buku ialah sebuah objek, amat penting untuk keberlanjutannya (bahasa). Tetaplah menggunakan bahasa tersebut meskipun dari pihak pemerintah sendiri tidak menggunakannya, kita bisa membuat ruang sendiri untuk saling mempraktikkan bahasa-bahasa tersebut. (M-1)

BERITA TERKAIT