07 September 2019, 20:21 WIB

Tilang tidak Surutkan Pedagang Rotator dan Strobo


Tri Subarkah | Megapolitan

Antara
 Antara
Petugas mencopot lampu strobo di dasbhoard mobil di kawasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu silam. 

OPERASI Patuh Jaya sampai Jumat (6/9) telah menindak 64 kendaraan yang menggunakan rotator dan sirine. Sebanyak 31 pelanggar merupakan kendaraan roda dua dan 33 lainnya dari kendaraan roda empat dan khusus.

Hal tersebut disampaikan melalui keterangan tertulis Kasubdit Bidang Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas PMJ Komisaris Nasser.

Meski demikian, operasi oleh kepolisian ternyata tidak menyurutkan perdagangan rotator dan sirene.

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/9), salah satu toko masih memamerkan berbagai jenis lampu rotator yang biasa dipasang di atas mobil polisi.

Baca juga: Fraksi PDIP DKI Dorong Revisi Perda Tata Ruang

Menurut pengakuan seorang pegawai, penjualan lampu rotator masih stabil. "Penjualannya sih masih jalan saja. Malah masih ada yang pasang, kemarin," ujarnya.

Di toko itu, lampu rotator dihargai bervariasi. Mulai dari Rp2 juta sampai Rp5 juta. Dia menuturkan penjualan sebulan rotator bisa mencapai 10 unit per bulan.

Dibanding lampu rotator, lampu jenis strobo sebenarnya masih lebih laku di pasaran. Harganyapun relatif lebih murah ketimbang rotator, yakni berkisar Rp100 ribu sampai Rp1 juta. Dalam sebulan, lampu strobo dapat dijual 15 unit.

Lampu strobo sendiri merupakan lampu berbentuk persegi panjang yang dapat menyala kerlap-kerlip berwarna biru.

Dia menjelaskan orang-orang membeli lampu strobo agar dapat berjalan lebih cepat di jalan tol. "Kadang memang ada yang sengaja beli (strobo) buat di tol untuk mendahului kendaraan lain."

Kondisi berbeda dialami toko yang berbeda. "Tergantung. Apalagi lagi ada isu tilang. Biasanya kalau yang sudah pasang minta copotin dulu," jelas salah seorang petugas.

Dia mengakui, tokohnya akan kebanjiran pembel bila ada komunitas yang akan melaksanakan penjelajahan. "Kalau ada komunitas mau touring biasanya melompat tinggi. Bisa laku 15 (unit)," papar dia.

Tidak seperti mobil, penjualan lampu strobo untuk sepeda motor memiliki cerita lain.

Di kawasan Kebon Jeruk Jakarta Barat, aktivitas jual beli aksesoris sepeda motor tampak ramai. Sepanjang mata memandang, beragam komponen seperti knalpot, spion, velg, roda, lampu, helm, sampai tutup pentil ban dapat ditemui.

Menurut salah seorang pemilik toko di kawasan itu, penjualan lampu strobo cenderung menurun. "Bisa dibilang belakangan lagi kurang. Beberapa orang pelanggan doang yang masih rutin beli strobo," papar dia.

Dia mengakui bahwa penjualan lampu strobo sudah mulai menurun sejak beberapa bulan lalu. Dalam kurun waktu seminggu, lampu strobo di tokonya hanya laku 100 unit. "Itu sudah tergolong sedikit," ucapnya.

Padahal, menurutnya, enam bulan lalu, tokonya sempat kewalahan memenuhi permintaan lampu strobo. "Itu rutin banget strobo setiap hari keluar. Sering kehabisan stok. Bisa 1.000 unit lakunya," kenangnya.

Harga lampu strobo yang dijual bervariatif, mulai dari Rp30 ribu hingga Rp200 ribu.

Penurunan penjualan lampu strobo juga diamini oleh salah satu mekanik di kawasan Kebon Jeruk. Ia mengaku sudah jarang mengerjakan pemasangan lampu strobo. "Dalam seminggu paling pasang satu. Itu juga enggak menentu," paparnya

Amin menyatakan bahwa alasan orang memasang lampu strobo adalah untuk keperluan touring.

Tidak seperti rotator maupun strobo, penjualan sirine untuk mobil malah mendapat perhatian yang lebih dari salah satu penjual di kawasan Asem Reges, Jakarta Barat.

Pemilik toko Sejati Motor Mustofa mengaku hanya menjual sirine untuk mobil ambulans dan pemadam kebakaran.

Ia menyampaikan selalu memberikan edukasi kepada masyarakat umum yang mau membeli sirine di tempatnya. "Kalau ada orang pribadi mau beli, saya kasih tahu dulu, terus dia mengerti. Percuma beli juga kan mubazir (karena akan kena tilang)," paparnya.

Penggunaan rotator, strobo, maupun sirine sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Di Pasal 134, disebutkan hanya kendaraan yang memperoleh hak utama saja yang dapat memasang lampu rotator, strobo, atau sirine, yakni kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas, ambulans yang mengangkut orang sakit, kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas, kendaraan pimpinan Lembaga Neara Republik Indonesia, kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara, iring-iringan pengantar jenazah, konvoi dan atau kendaraan untuk kepentingan terntenu menurut pertimbangan petugas Polri. (X-15)
 

BERITA TERKAIT